Hendropriyono dan Prabowo Subianto: Setengah Abad Persahabatan Melintas Zaman

Direktur Eksekutif Garuda Emas Strategic Institute. Praktisi informasi dan komunikasi strategis. Penulis lebih dari 80 judul buku biografi, bisnis, sejarah, militer, dan kepolisian.
·waktu baca 14 menit
Tulisan dari Zulfikar Fuad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika Persahabatan, Perjuangan, dan Perbedaan Politik Bertemu dalam Satu Indonesia
Politik dapat mempertemukan dua tokoh bangsa dalam satu medan perjuangan, kemudian memisahkan mereka di persimpangan pilihan berbeda. Jabatan datang dan pergi, pemerintahan silih berganti, dinamika politik berubah drastis mengikuti perubahan zaman. Namun, ada hubungan antarmanusia yang mampu bertahan semua itu. Ikatan emosional dan intelektual yang tumbuh bukan semata-mata karena kesamaan pandangan, melainkan ditempa dan dibentuk oleh pengalaman hidup, penghormatan, dan persahabatan yang telah teruji oleh waktu.
Kisah persahabatan Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. A.M. Hendropriyono dan Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto menarik dicermati. Selama sekitar setengah abad, keduanya menjalani perjalanan panjang, dari lingkungan pasukan khusus Angkatan Darat, penugasan di Timor Timur, bersimpangan jalan dalam dua pemilihan presiden, hingga kembali bertemu dalam berbagai kegiatan pribadi dan kenegaraan.
Keduanya sempat berada di kubu politik berbeda. Hendropriyono bahkan secara terbuka mengakui ketidaksejalanannya ketika Prabowo Subianto mencalonkan diri sebagai presiden pada 2014 dan 2019. Namun, perbedaan pilihan tersebut tidak pernah mengakhiri persahabatan mereka.
Di tengah kehidupan politik Indonesia yang kerap diwarnai konflik dan perselisihan tajam, kisah persahabatan dua jenderal ini menawarkan pelajaran berharga: sahabat dapat berbeda pandangan tanpa harus kehilangan rasa hormat, dan persahabatan tidak harus dibayar dengan keseragaman pandangan dan pilihan politik.
Berawal dari Hubungan Keprajuritan
Persahabatan A.M. Hendropriyono dan Prabowo Subianto bermula jauh sebelum keduanya dikenal luas sebagai tokoh militer di panggung nasional. Ketika Prabowo masih menjadi taruna Akademi Militer pada awal 1970-an, Hendropriyono telah berkiprah sebagai perwira pasukan khusus Angkatan Darat.
Nama Hendropriyono dikenal di lingkungan militer melalui pengalamannya dalam operasi penumpasan PGRS/Paraku di Kalimantan Barat. Reputasi itu menarik perhatian Prabowo muda. Ia telah mendengar kisah tentang keberanian dan kemampuan seniornya, bahkan sebelum keduanya bertugas dalam lingkungan satuan yang sama.
Usai menyelesaikan pendidikan Akademi Militer, Prabowo kembali bertemu Hendropriyono di lingkungan Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) di Cijantung. Ketika itu, Prabowo berpangkat Letnan Dua, sedangkan Hendropriyono berpangkat Kapten. Mereka sama-sama berada dalam lingkungan Sandi Yudha, meskipun bertugas pada grup berbeda.
Prabowo mengenang Hendropriyono sebagai senior yang banyak membagikan pengalaman dan pengetahuan mengenai operasi militer dan intelijen tempur. Hubungan mereka sejak awal tidak terbatas pada struktur kepangkatan, tetapi juga ditandai oleh proses pembelajaran, penghormatan, dan kedekatan pribadi.
Pengalaman itu berlanjut pada penugasan di Timor Timur pada 1976. Prabowo bergabung dengan Tim Nanggala 10 di bawah pimpinan Mayor Inf. Yunus Yosfiah, sementara Hendropriyono berada dalam Tim Nanggala 8 yang telah lebih dahulu menjalankan operasi di wilayah tersebut.
Menjelang penarikan Tim Nanggala 8, Hendropriyono membagikan pengalamannya mengenai operasi menghadapi gerilya, termasuk pentingnya memahami keadaan masyarakat setempat. Ia juga memperkenalkan Prabowo kepada sejumlah tokoh Timor Timur yang berpihak kepada Indonesia.
Bagi seorang perwira muda, pengetahuan lapangan seniornya menjadi bekal berharga untuk memahami kompleksitas dan tantangan tugas militer. Prabowo tidak hanya memperoleh wawasan mengenai taktik, tetapi juga tentang pentingnya membangun komunikasi dan dukungan masyarakat.
Penugasan tersebut meninggalkan kesan mendalam. Bertahun-tahun kemudian, Prabowo masih mengenang Hendropriyono sebagai salah seorang guru dalam perjalanan karier militernya.
Tentu, sejarah Timor Timur tidak dapat dilepaskan dari persoalan politik, konflik bersenjata, dan kemanusiaan yang menyertainya. Peristiwa tersebut memiliki berbagai perspektif yang perlu dipahami secara utuh. Namun, dalam konteks hubungan pribadi kedua tokoh, masa penugasan itu menjadi bagian dari perjalanan bersama yang terus mereka kenang hingga puluhan tahun kemudian.
Dari lingkungan keprajuritan inilah tumbuh penghormatan yang tetap terpelihara ketika keduanya mengakhiri dinas militer, memasuki arena politik, dan menjalankan peran berbeda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ketika Politik Menguji Persahabatan
Sejarah mencatat, A.M. Hendropriyono dan Prabowo Subianto sempat bersimpang jalan di arena politik.
Pada Pemilihan Presiden 2014, Hendropriyono mendukung Joko Widodo, sedangkan Prabowo maju sebagai calon presiden berpasangan dengan Hatta Rajasa. Lima tahun kemudian, keduanya kembali menempuh haluan berbeda. Sang senior tetap memberikan dukungan kepada Joko Widodo, sementara juniornya mencalonkan diri bersama Sandiaga Uno.
Perbedaan tersebut bukan sekadar persoalan dukungan politik di ruang publik. Keduanya bahkan membicarakannya secara langsung.
Hendropriyono secara terbuka mengungkapkan alasan dirinya tidak mendukung Prabowo dalam dua pemilihan presiden tersebut. Keberatannya terutama berkaitan dengan pandangannya terhadap sebagian kelompok pendukung Prabowo yang dinilainya kerap mengkampanyekan politik identitas dan memecah-belah persatuan bangsa.
Ia menegaskan bahwa sikap politik tersebut tidak dilatarbelakangi persoalan pribadi. "Dulu waktu kontra, sebenarnya bukan kontra sama Prabowo pribadi," ungkap Hendropriyono.
Pengakuan itu menarik karena disampaikan tanpa menutupi kenyataan bahwa hubungan mereka sempat diuji oleh persaingan politik. Hendropriyono bahkan mengakui bahwa Prabowo pada mulanya sulit menerima sikapnya.
Di sinilah sisi manusiawi persahabatan kedua tokoh terlihat. Mereka bukan dua tokoh bangsa yang selalu memiliki kesamaan pandangan. Ada masa ketika pilihan politik membawa masing-masing ke arah berlawanan. Namun, ketidaksejalanan tersebut tidak menghapus pengalaman panjang yang telah menghubungkan persahabatan mereka.
Dalam demokrasi, setiap orang berhak menentukan pilihan berdasarkan keyakinan dan pertimbangannya. Hak itu juga berlaku bagi tokoh-tokoh yang sebelumnya berada dalam lingkungan pengabdian yang sama.
Persoalan muncul ketika persaingan berkembang menjadi permusuhan pribadi, memutus silaturahmi, bahkan merusak hubungan keluarga dan persahabatan.
Kedewasaan berdemokrasi tidak diukur dari kemampuan membuat semua orang sepakat, melainkan dari kesediaan menghormati hak orang lain untuk berbeda pilihan dan pendapat.
Perjalanan Hendropriyono dan Prabowo memperlihatkan bahwa hubungan persahabatan dapat tetap terpelihara baik sekalipun pilihan politik membawa keduanya ke arah berlawanan.
Dipertemukan Semangat Panglima Sudirman
Pada 5 September 2019, beberapa bulan setelah Pemilihan Presiden, Prabowo Subianto mengunjungi kediaman A.M. Hendropriyono di kawasan Senayan, Jakarta.
Dua tokoh yang sebelumnya berada pada kubu politik berlawanan kembali duduk bersama. Mereka berbincang mengenai berbagai persoalan kebangsaan, termasuk situasi Papua yang ketika itu menjadi perhatian nasional.
Prabowo menekankan pentingnya menjaga kesejukan, kekompakan, dan semangat saling membantu. Hendropriyono menyampaikan pandangan senada mengenai perlunya seluruh komponen bangsa bersatu menghadapi berbagai tantangan dan persoalan negara.
Kunjungan tersebut memperlihatkan bahwa perbedaan pilihan politik tidak harus menutup ruang komunikasi dan silaturahmi. Seusai kontestasi, keduanya tetap dapat bertukar pikiran mengenai kepentingan yang lebih besar: kepentingan bangsa dan negara.
Hubungan itu kembali terlihat pada 10 November 2019, bertepatan dengan Hari Pahlawan.
Malam itu, Prabowo, yang baru dilantik sebagai Menteri Pertahanan dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo, datang ke kawasan kediaman pribadi Hendropriyono di Gamping, Sleman, Yogyakarta.
Ia memenuhi undangan seniornya untuk meresmikan patung Panglima Besar Jenderal Sudirman yang dibangun atas prakarsa Hendropriyono. Dalam kesempatan tersebut, Prabowo hadir mewakili Presiden Joko Widodo yang berhalangan datang.
Patung karya seniman Purjito itu didirikan sebagai penghormatan kepada Jenderal Sudirman, panglima yang tetap memimpin perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia meskipun menghadapi kondisi kesehatan yang berat.
Prabowo menyampaikan penghargaan terhadap inisiatif Hendropriyono. Baginya, keteladanan Panglima Besar Sudirman memiliki arti penting bagi generasi penerus kepemimpinan bangsa dan negara.
"Saya menilai luar biasa inisiatif dari senior saya Jenderal (Purn) TNI Hendropriyono," ujar Prabowo.
Pertemuan di Yogyakarta itu memiliki makna lebih luas daripada peresmian monumen. Prabowo hadir sebagai menteri dalam pemerintahan yang sebelumnya menjadi lawan politiknya, memenuhi undangan seorang senior yang juga sempat berbeda pilihan politik dengannya.
Di hadapan patung Panglima Besar Jenderal Sudirman, kedua tokoh dipertemukan oleh penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa.
Bagi Hendropriyono, pembangunan monumen Jenderal Sudirman merupakan bagian dari upaya mewariskan nilai perjuangan kepada generasi muda. Ia mewariskan monumen itu sebagai ruang pendidikan nasionalisme dan patriotisme.
Momen itu tidak berarti seluruh perbedaan pandangan kedua tokoh telah hilang. Namun, kebersamaan itu menunjukkan bahwa penghormatan terhadap sejarah, pengabdian, dan hubungan pribadi dapat tetap terpelihara di luar persaingan elektoral.
Dalam kehidupan berbangsa, persatuan tidak selalu lahir dari kesamaan pilihan, tetapi juga dari kesediaan untuk bertemu, berdialog, dan bekerja sama demi kepentingan bangsa dan negara.
Penghormatan yang Tak Lekang Waktu
Persahabatan A.M. Hendropriyono dan Prabowo Subianto tetap terpelihara pada tahun-tahun berikutnya.
Pada 10 Januari 2022, Prabowo mengundang sejumlah tokoh senior militer, termasuk Hendropriyono, untuk mengikuti diskusi kelompok terarah mengenai lingkungan strategis dan potensi ancaman terhadap pertahanan negara.
Pertemuan tersebut menjadi ruang pertukaran pengalaman dan pemikiran mengenai kebijakan pertahanan nasional. Dalam kesempatan itu, Prabowo juga memberikan keris sebagai cendera mata kepada para seniornya.
Pada April 2023, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto kembali mengunjungi kediaman Hendropriyono dalam rangka silaturahmi Idulfitri. Keduanya berbincang santai dan mengenang masa-masa ketika masih aktif sebagai prajurit.
September 2023 menghadirkan suasana berbeda. Hendropriyono tampil bersama Prabowo dalam kegiatan deklarasi dukungan masyarakat perbatasan di Stadion Haliwen, Atambua, Nusa Tenggara Timur.
Di hadapan masyarakat yang berkumpul, Prabowo mengajak seniornya bernyanyi. Hendropriyono menyambut ajakan itu dengan lagu bertema kesetiaan kepada Indonesia.
Momen tersebut memperlihatkan sisi lain hubungan dua jenderal yang telah melewati perjalanan panjang. Di luar kesan formal dunia militer dan politik, keduanya masih dapat berbagi suasana akrab di hadapan masyarakat.
Pada 5 Desember 2023, Hendropriyono mengunjungi Prabowo di Kementerian Pertahanan. Mereka makan siang dan bertukar pikiran mengenai perkembangan politik serta persoalan pertahanan.
Prabowo kemudian mengunggah dokumentasi pertemuan itu melalui media sosial pribadinya. Ia kembali menyebut Hendropriyono sebagai mentor dan komandan.
"Terima kasih atas waktunya sudah bersedia mampir ke kantor saya, Jenderal. Sekali komandan tetap komandan," tulis Prabowo.
Pernyataan itu memiliki makna tersendiri karena kedudukan keduanya telah berubah. Prabowo bukan lagi perwira muda yang belajar dari seniornya. Ia telah menjadi Menteri Pertahanan sekaligus calon presiden. Namun, penghormatan terhadap Hendropriyono tetap ditunjukkan secara terbuka.
Sang senior pun menyampaikan penghargaan kepada juniornya. Ia menggambarkan Prabowo sebagai pribadi yang menghormati senior, setia kawan, dan memegang komitmen.
Pernyataan kedua tokoh mencerminkan penghargaan timbal balik. Prabowo mengenang jasa senior yang membimbingnya pada masa awal karier militer, sedangkan Hendropriyono mengakui kualitas pribadi Prabowo Subianto sejak muda hingga menjadi Menteri Pertahanan.
Sikap demikian tidak berarti menempatkan hubungan personal di atas tanggung jawab jabatan. Seorang pemimpin dapat memiliki kewenangan besar sekaligus menghargai orang-orang yang berperan dalam perjalanan hidupnya.
Di luar struktur organisasi dan roda estafet kepemimpinan militer, pengalaman bersama sering kali meninggalkan ikatan yang lebih panjang daripada masa dinas militer itu sendiri.
Persahabatan Melampaui Sekat Politik
Perjalanan hubungan A.M. Hendropriyono dan Prabowo Subianto memasuki babak penting pada Pemilihan Presiden 2024. Kali ini Hendropriyono dengan jelas dan tegas mendukung pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Pada 14 Februari 2024, setelah hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei menunjukkan keunggulan pasangan Prabowo Subianto--Gibran Rakabuming Raka, Hendropriyono datang ke kediaman Prabowo di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan.
Ia menyampaikan ucapan selamat secara langsung kepada Prabowo Subianto, disertai harapan kepemimpinannya sebagai Presiden RI membawa kemajuan pesat bagi pembangunan bangsa dan negara Indonesia.
Peristiwa ini menjadi momen penting dalam perjalanan persahabatan. Hendropriyono, yang pada dua pemilihan presiden sebelumnya tidak mendukung Prabowo, kini datang memberikan ucapan selamat atas hasil hitung cepat.
Beberapa bulan kemudian, pada 7 Mei 2024, Prabowo menghadiri perayaan ulang tahun Hendropriyono sekaligus peresmian replika Keraton Majapahit di Jalan Raya Mabes Hankam Nomor 45, Ceger, Cipayung, Jakarta Timur.
Dalam kesempatan itu, Hendropriyono memberikan patung Pangeran Diponegoro kepada Prabowo, tokoh perjuangan yang dikaguminya.
Prabowo menyambut inisiatif pembangunan replika Keraton Majapahit tersebut dengan penghargaan. Ia menekankan pentingnya bangsa Indonesia menjaga dan menghormati warisan budayanya sendiri.
Pertemuan itu mengingatkan pada peresmian patung Jenderal Sudirman di Yogyakarta hampir lima tahun sebelumnya. Dua kegiatan kebudayaan, dua tokoh perjuangan nasional, dan dua sahabat yang memiliki perhatian besar terhadap warisan sejarah bangsa.
Dalam keterangannya pada Juli 2024, Hendropriyono mengungkapkan bahwa dirinya telah empat kali bertemu Prabowo menjelang Pilpres 2024. Meski demikian, ia menyatakan tidak ikut berkampanye.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa komunikasi pribadi dan keterlibatan dalam kegiatan politik praktis merupakan dua hal yang dapat dibedakan.
Kebersamaan itu kemudian berlanjut setelah Prabowo Subianto dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia ke-8.
Pada 28 Agustus 2025, Presiden Prabowo mengundang sejumlah veteran Timor Timur ke kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Hendropriyono hadir bersama Agum Gumelar serta tokoh-tokoh lain yang pernah terlibat dalam operasi militer di wilayah tersebut.
Pertemuan itu membawa kembali ingatan kepada pengalaman hampir setengah abad sebelumnya. Para tokoh yang dahulu menjalani penugasan di Timor Timur kini berkumpul dalam suasana berbeda.
Hendropriyono menggambarkan reuni tersebut sebagai peristiwa yang mengharukan. Sebagian peserta bahkan baru kembali bertatap muka setelah puluhan tahun berpisah.
Menariknya, acara itu juga dihadiri orang-orang yang dahulu berada pada pihak musuh dalam konflik Timor Timur, tetapi kemudian menjalin hubungan baik. "Hanya masalah nostalgia masa lampau, dan supaya kita itu walaupun berjauhan, tapi hati kita tetap satu," ujar Hendropriyono.
Pernyataan itu menyimpan makna kemanusiaan yang kuat. Waktu telah mengubah keadaan, kedudukan, bahkan hubungan antarpihak yang dahulu beradu-hadapan dalam konflik bersenjata.
Hampir lima puluh tahun setelah penugasan mereka pada 1976, Prabowo dan Hendropriyono kembali bertemu dalam suasana kenegaraan. Perjalanan yang bermula dari hubungan senior dan junior di lingkungan pasukan khusus kini berlanjut ketika salah seorang di antaranya telah menjadi kepala negara dan kepala pemerintahan.
Perbedaan Disatukan Politik Kebangsaan
Dari perjalanan hubungan persahabatan A.M. Hendropriyono dan Prabowo Subianto, kita dapat menarik pelajaran mengenai pentingnya memisahkan perbedaan pandangan politik praktis dari hubungan antarmanusia.
Dalam demokrasi, setiap warga negara memiliki hak untuk mendukung pemimpin, partai, dan gagasan yang diyakininya. Kebebasan tersebut juga berlaku bagi para tokoh militer yang telah memasuki masa purnatugas dan berpartisipasi dalam kehidupan politik.
Perbedaan pilihan merupakan kenyataan yang tidak perlu dihindari. Justru melalui keragaman pandangan itulah masyarakat dapat memperkaya pemikiran, menguji gagasan, dan menentukan arah kehidupan berbangsa dan bernegara.
Namun, kebebasan berpendapat perlu disertai tanggung jawab menjaga hubungan keluarga, hubungan persahabatan, dan hubungan sosial. Kompetisi politik tidak perlu membuat seseorang kehilangan kemampuan menghargai orang lain.
Kita telah menyaksikan bagaimana kontestasi politik dapat meninggalkan ketegangan di tengah masyarakat. Perbedaan dukungan calon presiden, misalnya, terkadang berkembang menjadi pertengkaran antarteman, keretakan hubungan keluarga, bahkan permusuhan yang berlangsung jauh setelah Pemilu dan Pilpres selesai.
Pemilu dan Pilpres hanyalah event politik lima tahunan. Sementara itu, kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara adalah tanggung jawab yang perlu dirawat bersama untuk memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Hubungan Hendropriyono dan Prabowo memperlihatkan bahwa perbedaan pilihan politik praktis tidak harus menjadi penghalang komunikasi dan silaturahmi. Kedua tokoh bangsa sempat berseberangan secara terbuka, tetapi tidak melupakan kebiasaan bersilaturahmi, berdiskusi, dan menghadiri kegiatan bersama.
Pelajaran tersebut bukan berarti persahabatan mengharuskan seseorang mengabaikan kritik atau meninggalkan prinsip. Menghormati orang lain tidak sama dengan menyetujui seluruh pandangannya. Sebaliknya, menyampaikan ketidaksetujuan tidak harus dilakukan dengan merendahkan martabat pribadi.
Demokrasi membutuhkan keduanya: keberanian menyatakan pendapat dan kebesaran hati menerima perbedaan pendapat.
Persahabatan dua jenderal ini menunjukkan bahwa kompetisi di arena politik praktis dapat dikelola dengan semangat persahabatan dan komitmen terhadap kepentingan bangsa-negara.
Dalam kehidupan bernegara, politik kebangsaan memberikan ruang bagi orang-orang dengan pilihan berbeda untuk tetap bertemu dalam tanggung jawab bersama menjaga persatuan Indonesia.
Keteladanan Melampaui Pangkat dan Jabatan
Ada hal menarik dari persahabatan kedua jenderal ini. Mereka tidak selalu berada pada posisi yang sama, tetapi memiliki sejarah panjang yang menghubungkan jalinan kehidupan masing-masing.
Prabowo Subianto tidak melupakan peran A.M. Hendropriyono pada masa awal karier militernya. Sang senior pun tetap menjalin komunikasi dengan juniornya meskipun sempat tidak mendukung pencalonannya sebagai presiden.
Pengalaman bersama di lingkungan keprajuritan, tradisi saling menghormati senior-junior, serta perhatian terhadap sejarah perjuangan bangsa menjadi bagian dari ikatan tersebut.
Namun, keteladanan yang dapat dipetik bukan berarti setiap keputusan atau pandangan kedua tokoh harus diterima tanpa kritik. Sejarah hubungan mereka, seperti perjalanan tokoh publik lainnya, memiliki kompleksitas dan ruang untuk penilaian yang berbeda.
Nilai yang patut direnungkan justru terletak pada kemampuan menjaga persahabatan di tengah ketidaksejalanan sikap yang nyata di ruang publik.
Hal demikian relevan bukan hanya bagi tokoh politik, melainkan juga bagi masyarakat luas. Para pemimpin, aktivis, akademisi, jurnalis, dan warga negara dapat berlainan pendapat mengenai kebijakan, kepemimpinan, maupun arah pembangunan nasional tanpa harus kehilangan kesediaan untuk berdialog.
Kita memerlukan budaya politik yang memungkinkan seseorang menyampaikan kritik dengan tegas, mendengarkan secara terbuka, dan tetap menghargai pihak yang memiliki pandangan dan pilihan berbeda.
Sebab, kedewasaan politik bukan hanya terlihat ketika seseorang memenangkan perdebatan atau memperoleh dukungan terbanyak. Kualitas tersebut juga tercermin dari cara memperlakukan sesama setelah perbedaan itu muncul ke permukaan.
Warisan Persahabatan Dua Jenderal
Setengah abad merupakan rentang perjalanan yang panjang. Dalam kurun waktu tersebut, seorang pemimpin dapat mengalami perubahan jabatan, lingkungan, pandangan, dan tanggung jawab kepemimpinan.
A.M. Hendropriyono dan Prabowo Subianto telah melewati berbagai fase kehidupan pribadi dan perjalanan sejarah bangsa, dari masa pengabdian sebagai prajurit hingga peran dan kontribusi dalam dinamika politik kepemimpinan nasional.
Kedua tokoh bangsa berbagi pengalaman di lingkungan militer, menempuh jalan berbeda pada Pemilihan Presiden 2014 dan 2019, namun tetap saling mendukung dalam perjuangan politik kebangsaan dan kebudayaan untuk satu Indonesia.
Di tengah kehidupan politik di ruang publik yang semakin terbuka, kisah dua jenderal ini mengingatkan kita bahwa persahabatan tidak harus dibangun di atas keseragaman pandangan dan pemikiran.
Kita dapat memilih jalan politik berbeda, memiliki pandangan berlainan, bahkan saling mengkritik dengan cerdas dan elegan. Namun, semua itu tidak perlu memutus komunikasi dan silaturahmi, tidak perlu melupakan penghormatan terhadap perjalanan hidup, pengalaman, dan martabat sesama manusia.
Pada akhirnya, jabatan akan berganti, kekuasaan akan berakhir, dan setiap kompetisi di arena politik akan menjadi bagian dari cerita sejarah. Warisan paling bermakna bagi generasi berikutnya adalah nilai-nilai persahabatan, persaudaraan, dan persatuan yang terus kita pelihara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
