Jalan Kesetiaan Sufmi Dasco Ahmad
Tulisan dari Zulfikar Fuad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada 20 Oktober 2024, ketika Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto dilantik menjadi Presiden RI ke-8, perjuangan panjang menuju puncak kepemimpinan nasional mencapai babak baru. Dua kali kalah dalam pemilihan presiden, menghadapi kerasnya persaingan politik, konflik dan kerusuhan, hingga bergabung dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo, mantan rivalnya, sebagai Menteri Pertahanan, Prabowo akhirnya mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai Jenderal TNI ketiga yang menjadi Presiden RI setelah Soeharto dan Susilo Bambang Yudhoyono.
Di balik pencapaian itu, ada orang-orang yang bertahan ketika tantangan menghadang, kemenangan belum datang, menjaga kepercayaan saat harapan belum terwujud, dan terus bekerja tanpa sorotan kamera. Salah satu sosok itu adalah Prof. Dr. Ir. H. Sufmi Dasco Ahmad, S.H., M.H.
Selama belasan tahun Prabowo menapaki jalan politik menuju RI-1, dari mengikuti Konvensi Calon Presiden Partai Golkar hingga mendirikan Partai Gerindra, Dasco berada di dekatnya. Ia menjalankan peran sebagai chief of intelligence: membaca situasi, meredakan ketegangan, menyambungkan kembali hubungan yang terputus, dan mencari jalan keluar ketika konflik politik terasa buntu.
Dasco bukan sosok yang selalu mencari sorotan kamera. Namun, di balik dinamika politik, kehadirannya memiliki tempat tersendiri di hati Prabowo dan di lingkungan Partai Gerindra.
Baginya, politik bukan semata-mata tentang memenangkan pemilihan, meraih kekuasaan, atau memperluas pengaruh. Kepercayaan dibangun melalui kerja partai, hubungan personal, dan tanggung jawab yang dibuktikan dari waktu ke waktu. Ia ikut mendirikan dan membesarkan Gerindra, mengawal kepemimpinan Prabowo, sekaligus mengemban amanah sebagai Wakil Ketua DPR RI.
Namun, mengenal Dasco hanya melalui kedekatannya dengan Prabowo belumlah cukup. Di balik jas resmi, rapat parlemen, dan pertemuan para elite, ada kisah anak Bandung yang tumbuh di berbagai kota, menempuh pendidikan teknik dan hukum, membangun bisnis, menjadi pengajar dan guru besar, lalu mengabdikan sebagian besar hidupnya dalam politik. Di sanalah cita-cita pribadi, persahabatan, tanggung jawab, dan pengabdian kepada bangsa bertaut.
Dari Bandung, Merajut Masa Depan
Sufmi Dasco Ahmad lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 7 Oktober 1967. Masa sekolah membawanya berpindah kota, antara lain Palembang, Jakarta, dan Manado. Pengalaman hidup di lingkungan berbeda menjadi bekal ketika ia berinteraksi dengan beragam kalangan dalam dunia usaha, pendidikan, dan politik nasional.
Dasco menempuh pendidikan teknik elektro di Universitas Pancasila dan meraih gelar sarjana pada 1993. Ia kemudian memperluas keilmuannya ke bidang hukum, memperoleh gelar sarjana hukum dari Universitas Jakarta pada 2009, magister hukum dari Universitas Islam Jakarta pada 2012, serta doktor dari Universitas Islam Bandung pada 2015.
Peralihan dari teknik ke hukum memperlihatkan keluasan bidang yang ditekuninya. Teknik mengajarkan pemikiran sistematis dan pemecahan masalah, sedangkan hukum menuntut ketelitian dalam memahami aturan, kewenangan, dan tanggung jawab. Kedua disiplin itu menjadi bagian dari bekal intelektualnya.
Dasco juga menekuni dunia akademik. Pada 1 Desember 2022, ia dikukuhkan sebagai guru besar bidang hukum di Universitas Pakuan. Pencapaian ini melengkapi kariernya di dunia usaha, pendidikan, hukum, dan politik.
Setiap bidang memberinya pengalaman berbeda. Bisnis memperkenalkannya pada pengelolaan organisasi, dunia akademik membuka ruang pengembangan pemikiran, sedangkan politik membawanya ke tengah proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan masyarakat luas.
Di antara berbagai bidang tersebut, politik menjadi panggung yang mengangkat namanya ke publik nasional. Keterlibatannya dalam mendirikan dan membesarkan Gerindra, serta hubungannya dengan Prabowo, kemudian menjadi bagian penting dari kisah hidupnya.
Prabowo, Gerindra, dan Jalan Panjang Kesetiaan
Kesetiaan paling mudah diucapkan ketika kemenangan dirayakan. Maknanya justru terasa ketika perjuangan menghadapi jalan terjal, harapan belum terwujud, dan target politik belum tercapai.
Dasco terlibat dalam pendirian Gerindra pada 2008. Bersama Prabowo dan para tokoh pendiri, ia ikut membangun struktur Gerindra dari pusat hingga tingkat desa, memperluas dukungan, serta memperjuangkan agenda partai di lembaga legislatif dan eksekutif.
Prabowo dua kali kalah dalam pemilihan presiden, pada 2014 dan 2019, sebelum akhirnya menang pada Pilpres 2024. Di balik setiap kekalahan terdapat kerja panjang pengurus dan kader Gerindra, harapan pendukung, dan cita-cita politik yang belum tercapai. Tantangannya bukan hanya menerima hasil, melainkan juga menjaga semangat keluarga besar Gerindra agar perjuangan tidak berhenti.
Dalam situasi seperti itulah loyalitas diuji. Bagi Dasco, kesetiaan merupakan prinsip moral terpenting dalam membentuk karakter kader. Pada 4 Januari 2023, ketika menyampaikan instruksi kepada kader Gerindra, ia menegaskan:
“Tanpa adanya kesetiaan semua kelebihan seorang kader akan dikalikan dengan nol alias tidak ada nilainya sama sekali,” ujar Sufmi Dasco Ahmad, sebagaimana diberitakan ANTARA.
Dasco mengungkapkan bahwa Gerindra mengenal doktrin “perkalian nol”, yakni pandangan yang menempatkan loyalitas sebagai prinsip utama dalam menilai kualitas kader. Kecerdasan, keberanian, ketangkasan, popularitas, dan militansi merupakan kelebihan, tetapi semuanya harus disertai kesetiaan kepada pemimpin serta komitmen terhadap visi, misi, dan tujuan perjuangan partai.
Ia juga menekankan bahwa loyalitas tampak dalam tindakan. Saat itu, ia mengingatkan kader agar menjalankan keputusan partai yang telah menetapkan Prabowo sebagai calon presiden pada Pemilu 2024.
Pengalaman Dasco menunjukkan bahwa kepercayaan tumbuh ketika ucapan sejalan dengan tindakan dan tanggung jawab dijalankan secara konsisten. Prinsip inilah yang mewarnai hubungannya dengan Prabowo sejak Gerindra dirintis hingga berhasil meraih kepercayaan rakyat.
Kerja Senyap di Balik Rekonsiliasi Prabowo–Jokowi
Profesor Sufmi Dasco Ahmad dikenal sebagai sosok yang tenang, berwibawa, cermat membaca situasi, dan tekun merawat komunikasi. Kedekatannya dengan Prabowo menempatkannya pada posisi strategis untuk memahami pemikiran sang pemimpin sekaligus menangkap perubahan suasana politik.
Kemampuan itu penting ketika hubungan antartokoh bangsa merenggang dan jalan menuju dialog terasa sempit. Julukan chief of intelligence layak disematkan kepada Dasco karena perannya sebagai Ketua Harian DPP Partai Gerindra yang lebih banyak bekerja dalam senyap. Ia membangun komunikasi pribadi, menjembatani hubungan antartokoh, dan mencari jalan tengah yang menguntungkan semua pihak (win-win solution).
Salah satu ujian penting muncul setelah Pemilihan Presiden 2019. Persaingan Prabowo Subianto dan Joko Widodo meninggalkan ketegangan di tengah masyarakat. Perang opini, hujatan, dan fitnah di media sosial memperuncing permusuhan, bahkan melahirkan istilah “cebong” dan “kampret” yang semakin memperlebar jarak di antara para pendukung. Ketegangan politik telah memengaruhi dinamika hubungan antarkelompok masyarakat, bahkan hubungan keluarga.
Di tengah suasana itu, pertemuan Prabowo dan Jokowi di Stasiun MRT Lebak Bulus pada 13 Juli 2019 menjadi penanda penting. Dua tokoh yang sebelumnya berhadapan dalam pemilihan presiden akhirnya duduk bersama. Pesannya jelas: kompetisi politik telah usai, saatnya membuka dialog dan mengutamakan kepentingan bangsa.
Ketua DPP Partai Gerindra Habiburokhman menyebut Dasco sebagai penggagas pertemuan rekonsiliasi itu dari kubu Prabowo ekaligus penghubung komunikasi dengan kubu Jokowi. Dari kubu pemerintah, Kepala BIN Jenderal Polisi Budi Gunawan berperan sebagai jembatan komunikasi mewakili Presiden Jokowi. Keduanya tokoh kunci dalam kerja tertutup mempertemukan Prabowo dan Jokowi.
Habiburokhman memuji peran Dasco dengan ungkapan, “The right man, on the right place at the right time.” Ia menilai Dasco sebagai sosok yang tepat menggagas sekaligus menghubungkan pertemuan rekonsiliasi Prabowo dan Jokowi.
Komunikasi dan persiapan tertutup memperlihatkan bahwa pertemuan bersejarah tidak terjadi begitu saja. Sebelumnya, ada upaya membangun kepercayaan, membaca kesiapan kedua pihak, dan menemukan waktu yang tepat untuk memulai dialog.
Pesan di Balik Keputusan Prabowo
Hampir sebulan setelah pertemuan di MRT, Dasco menjelaskan dinamika yang melatarbelakangi keputusan Prabowo membuka dan menerima komunikasi dengan Jokowi. Ia mengungkap percakapan dengan Prabowo mengenai situasi politik pascapilpres.
“Kalau diadu terus, terus dikorbankan, saya akan ambil tindakan nggak terduga,” ujar Dasco menirukan ucapan Prabowo.
Dasco menceritakan bahwa Prabowo tidak ingin ulama dan kaum ibu menjadi korban dalam situasi politik yang memanas. Prabowo ingin meredakan ketegangan dengan membuka jalan dialog.
Pertemuan dengan Jokowi, ditegaskan Dasco, bukan semata-mata untuk memperoleh jabatan dalam pemerintahan. “Untuk keutuhan NKRI, bukan mau minta menteri,” ucapnya.
Pernyataan Dasco menempatkan keutuhan negara sebagai tujuan utama dalam rekonsiliasi. Di tengah situasi panas, ada kepentingan yang lebih besar untuk dijaga: persatuan bangsa. Dalam proses itu, Dasco berperan menjaga komunikasi dan menjadi penghubung yang membutuhkan kepercayaan besar, kecermatan, serta kemampuan membaca keadaan.
Dari Lawan Menjadi Kawan Terdekat
Pada 23 Oktober 2019, Prabowo Subianto dilantik sebagai Menteri Pertahanan dalam kabinet Presiden Joko Widodo. Dua tokoh yang sebelumnya bersaing ketat dalam Pilpres kini bekerja bersama dalam satu pemerintahan.
Bagi Gerindra, keterlibatan Prabowo dalam kabinet Jokowi membuka ruang untuk memperjuangkan gagasan pembangunan melalui jalur pemerintahan. Dasco menyatakan bahwa Gerindra telah menawarkan sejumlah konsep kepada Presiden Jokowi, termasuk gagasan mengenai ketahanan pangan.
“Bahwa kemudian kita diperlukan untuk membantu ya kita punya beberapa konsep,” kata Dasco.
Perubahan posisi hubungan Prabowo dan Jokowi dari lawan politik menjadi kawan terdekat dalam pemerintahan memperlihatkan bahwa politik tidak selalu berahir menjadi permusuhan. Ada saat untuk berkompetisi, ada kesempatan untuk berdialog, dan ada tanggung jawab untuk menerjemahkan gagasan pembangunan menjadi kerja pemerintahan.
Dalam rangkaian perubahan itu, Dasco selalu berada di sisi Prabowo. Ia bertugas menyesuaikan perubahan strategi seiring perkembangan situasi politik, terutama persiapan sebelum Prabowo bergabung dalam pemerintahan Jokowi.
NKRI sebagai Kompas Perjuangan
Pada Mei 2023, dalam sebuah wawancara, Dasco mengungkap kriteria calon wakil presiden yang diinginkan Prabowo.
“Karena yang penting bagi Pak Prabowo gampang, cuma satu: NKRI,” ucap Dasco.
Pernyataan Dasco memperluas makna kesetiaan dari hubungan personal dan partai menuju pengabdian kepada negara. Kesetiaan kepada pemimpin dan partai merupakan bagian dari perjuangan politik, sedangkan NKRI menjadi kompas dalam perjalanan mewujudkan cita-cita politik.
Komitmen Dasco kepada NKRI tercermin dalam berbagai upayanya meredakan konflik, merawat persatuan, menjaga keharmonisan hubungan antartokoh bangsa, serta membuka diri terhadap kritik, saran, dan gagasan masyarakat.
Kesetiaan dan Ujian Sejarah
Kisah perjalanan Sufmi Dasco Ahmad mengawal Prabowo Subianto dan Partai Gerindra memperlihatkan kesetiaan yang teruji oleh waktu dan tantangan perubahan. Dari pendirian Gerindra, kekalahan dalam kontestasi presiden, rekonsiliasi dengan Joko Widodo, hingga kemenangan pada Pilpres 2024, Dasco memainkan peran strategis dalam perjuangan Prabowo Subianto melangkah ke kursi kepresidenan.
Kesetiaan Dasco bukan semata-mata kedekatan personal. Di dalamnya terdapat prinsip yang dipegang teguh, kepercayaan yang dijaga, dan tanggung jawab yang dijalankan. Semua itu bermuara pada kepentingan bangsa dan negara.
Tiga dimensi menjadi benang merah kisah Dasco: kesetiaan pada prinsip sebagai pedoman bertindak, kesetiaan kepada pemimpin sebagai wujud kepercayaan dan komitmen perjuangan, serta kesetiaan kepada NKRI sebagai landasan pengabdian.

