Konten dari Pengguna

Jenderal Suyudi Ario Seto: Polisi yang Dirindukan Masyarakat

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zulfikar Fuad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto mengunjungi Ponpes Tebuireng, Jombang, pada Sabtu (17/10/2026). Usai disambut pengasuh pesantren KH Abdul Hakim Mahfudz dan menunaikan Salat Zuhur, ia berziarah ke makam KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahid Hasyim, dan Presiden RI ke-4 KH Abdurachman Wahid (Gus Dur). (Foto: Dok Polri)
zoom-in-whitePerbesar
Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto mengunjungi Ponpes Tebuireng, Jombang, pada Sabtu (17/10/2026). Usai disambut pengasuh pesantren KH Abdul Hakim Mahfudz dan menunaikan Salat Zuhur, ia berziarah ke makam KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahid Hasyim, dan Presiden RI ke-4 KH Abdurachman Wahid (Gus Dur). (Foto: Dok Polri)

Seusai salat Zuhur, beberapa warga masih duduk di serambi masjid. Secangkir teh dan hidangan sederhana menemani percakapan siang itu. Di antara mereka, seorang polisi berseragam ikut duduk, mendengarkan cerita warga tentang kehidupan sehari-hari, persoalan lingkungan, dan harapan akan rasa aman. Suasananya akrab. Seragam yang dikenakannya menjadi bagian dari perjumpaan yang mendekatkan polisi dengan masyarakat.

Pemandangan seperti itu membuat kehadiran seorang polisi terasa berarti. Masyarakat membutuhkan petugas yang sigap ketika kejahatan terjadi, sekaligus bersedia mendengar, membantu ketika kesulitan datang, dan memperlakukan setiap orang dengan hormat.

Kerinduan terhadap polisi yang demikian menjadi benang merah perjalanan Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto. Ketika Presiden Prabowo Subianto melantiknya sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia di Istana Negara, Kamis, 1 Oktober 2026, ia membawa pengalaman panjang di bidang penegakan hukum, pelayanan masyarakat, dan pemberdayaan. Perjalanan kariernya memperlihatkan bahwa pengabdian kepolisian berlangsung bukan hanya di ruang penyidikan atau dalam operasi penindakan, melainkan juga melalui upaya membuka kesempatan dan membantu warga masyarakat menata kembali kehidupannya.

Menempa Diri di Dunia Reserse

Lahir pada 14 Juli 1973, Suyudi lulus dari Akademi Kepolisian pada 1994. Ia melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian pada 2003 dan Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi Polri pada 2018.

Pengalamannya di dunia reserse dimulai melalui berbagai penugasan, termasuk sebagai kepala satuan reserse kriminal di Pasar Minggu, Tanah Abang, dan Penjaringan. Pekerjaan itu menuntut ketelitian mengumpulkan bukti, menggali keterangan, dan mengungkap perkara berdasarkan fakta.

Kariernya berlanjut sebagai Kapolres Majalengka, Kapolres Bogor, Kapolres Kota Bogor, dan Kapolres Metro Jakarta Pusat. Ia kemudian menjabat Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Wakapolda Metro Jaya, dan Kapolda Banten sejak Juni 2024. Pada 25 Agustus 2025, ia dipercaya memimpin Badan Narkotika Nasional (BNN).

Rangkaian penugasan itu membawanya menghadapi persoalan yang beragam, dari kejahatan perkotaan hingga tantangan sosial dan jaringan narkotika lintas negara. Pengalaman tersebut menjadi bekal untuk memahami bahwa kepemimpinan kepolisian memerlukan ketegasan, kecermatan, dan kemampuan bekerja sama.

Mendekatkan Diri dalam Saf yang Sama

Saat menjabat Kapolda Banten, Suyudi mengembangkan pendekatan sosial melalui program Jumat Keliling dan Subuh Keliling. Kapolres dan Kapolsek hadir di masjid-masjid, mengikuti ibadah bersama warga, kemudian berbincang seusai salat.

Dalam suasana santai, termasuk saat sarapan bersama, masyarakat dapat menyampaikan persoalan lingkungan dan aspirasi mereka secara langsung. Percakapan sederhana itu menjadi kesempatan bagi petugas untuk memahami keadaan di lapangan, sekaligus membangun komunikasi yang lebih terbuka.

Melalui perjumpaan yang rutin dan sederhana, hubungan antara polisi dan warga tidak hanya dibangun ketika terjadi masalah, tetapi juga dirawat sebelum persoalan muncul.

Poliran: Membuka Pintu Kesempatan

Semasa menjabat Kapolda Banten, Suyudi juga menginisiasi program Poliran, singkatan dari Polisi Peduli Pengangguran. Program ini menghubungkan kepolisian dengan pelatihan keterampilan, sertifikasi, dan kesempatan kerja bagi masyarakat.

Balai Latihan Poliran di Kasemen, Serang, diresmikan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo bersama Gubernur Banten Andra Soni pada 18 Maret 2025. Pelatihannya didukung Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Serang, termasuk melalui sertifikasi serta hubungan dengan dunia usaha.

Pada angkatan keempat, 28–31 Juli 2025, sebanyak 112 orang mengikuti program tersebut. Mereka terdiri atas 82 pencari kerja, 28 pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja, dan dua mantan narapidana.

Bagi para peserta, pelatihan menjadi kesempatan untuk memperoleh keterampilan baru dan memperbaiki prospek hidup. Peserta yang ingin merintis usaha juga mendapat pendampingan, sehingga program ini tidak hanya mengarah pada pekerjaan formal, tetapi turut mendorong kemandirian ekonomi.

Inovasi tersebut mendapat penghargaan dari Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto. Apresiasi itu menandai upaya menghubungkan tugas kepolisian dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan warga: memperoleh pekerjaan dan membangun penghidupan.

Dari Ladang Jagung hingga Pemulihan Kehidupan

Pemberdayaan di Banten juga menyentuh sektor pertanian. Sepanjang 2025, Polda Banten bersama kelompok tani menanam jagung di lahan seluas 355,3 hektare dalam dua kuartal penanaman. Panennya mencapai 1.080,5 ton, dengan sebagian besar hasil diserap mitra industri.

Bagi petani, kepastian pasar membantu menjaga keberlanjutan usaha dan pendapatan keluarga. Kerja sama ini memperlihatkan peran koordinasi dalam mendukung produktivitas pertanian dan ketahanan pangan.

Pendekatan pembinaan juga diterapkan dalam penanganan aksi premanisme pada 1–9 Mei 2025. Dari 492 orang yang ditangani, sebanyak 63 orang diproses secara hukum, sedangkan 429 lainnya memperoleh pembinaan yang diselaraskan dengan program Poliran.

Penegakan hukum tetap dijalankan terhadap perkara yang harus diproses, sementara pembinaan membuka kesempatan bagi mereka yang dapat diarahkan menuju kegiatan produktif. Kedua langkah tersebut menempatkan kepastian hukum dan pencegahan masalah sosial sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan.

Memimpin BNN: Tegas kepada Bandar, Serius Memulihkan Para Korban

Ketika memimpin BNN, Jenderal Suyudi menghadapi tantangan peredaran narkotika yang menyangkut keamanan, kesehatan, dan masa depan generasi muda. Pemberantasannya membutuhkan operasi yang kuat, koordinasi lintas lembaga, serta kerja sama internasional.

Pada 7 November 2025, BNN bersama Polri mengerahkan sekitar 700 personel dalam operasi gabungan. Salah satu capaian penting dalam upaya pemberantasan narkotika lintas negara adalah penangkapan Dewi Astutik di Sihanoukville, Kamboja, pada 1 Desember 2025. Ia dikaitkan dengan penyelundupan dua ton metamfetamina atau sabu-sabu senilai sekitar Rp5 triliun. Penangkapan berlangsung tanpa perlawanan melalui kerja sama antarlembaga dan koordinasi internasional.

Suyudi menyebut keberhasilan tersebut sebagai salah satu capaian terbesar. Pengungkapan jaringan semacam ini memerlukan penyelidikan panjang, pertukaran informasi, dan koordinasi lintas batas untuk memutus jalur peredaran narkotika.

Namun, ikhtiar BNN tidak berhenti pada penindakan. Pada 24 September 2025, Suyudi bersama Gubernur Banten Andra Soni meresmikan dapur pemenuhan gizi Karya Padarincang Bersinar di Desa Curug Goong, Kabupaten Serang. Fasilitas itu melayani 3.769 penerima manfaat dan membuka peluang kerja bagi masyarakat setempat. Setiap unit sejenis dapat merekrut sekitar 50 pekerja lokal.

Sebagian pekerja merupakan orang-orang yang pernah terlibat dalam persoalan narkotika dan kini berusaha menata kembali kehidupan. Bekerja memberi mereka penghasilan, rutinitas, dan kesempatan untuk membangun kepercayaan diri. Dari kegiatan sehari-hari, mereka dapat menunjukkan bahwa masa lalu tidak harus menutup jalan menuju masa depan yang lebih baik.

Pendekatan tersebut mencerminkan tugas BNN yang mencakup pencegahan, pemberdayaan, dan pemulihan, selain penindakan. Bandar dan jaringan pengedar harus ditindak, sedangkan orang yang membutuhkan rehabilitasi perlu memperoleh kesempatan untuk pulih dan kembali menjalani kehidupan produktif.

Upaya pemulihan itu diperkuat melalui kerja sama lintas kementerian. Pada 14 Juli 2026, BNN dan Kementerian Sosial memperbarui nota kesepahaman yang sebelumnya berakhir pada 2020. Kemudian, pada 11 Agustus 2026, BNN bersama Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Ketenagakerjaan menandatangani nota kesepahaman mengenai rehabilitasi dan pascarehabilitasi di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia BNN, Bogor.

Kerja sama tersebut mencakup pertukaran data, layanan sesuai tingkat kebutuhan, pelatihan vokasi, dan penempatan kerja. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menekankan pentingnya akses pekerjaan setelah rehabilitasi. Suyudi juga menyadari bahwa pemulihan memerlukan keterlibatan banyak pihak, karena keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh layanan rehabilitasi, tetapi juga oleh kesempatan bagi seseorang untuk kembali berperan dalam masyarakat.

Dari Mimbar Jumat ke Pondok Pesantren

Pada 9 Oktober 2026, Jenderal Suyudi menjadi khatib di Masjid Al-Ikhlas, Markas Besar Polri. Ia mengajak jamaah memelihara kerendahan hati, menghormati sesama, hidup sederhana, menjalankan amanah, dan membantu orang lain. Ia juga mengutip Surah Ash-Shaff ayat 2–3 tentang pentingnya keselarasan antara perkataan dan perbuatan.

Pesan itu mengingatkan bahwa tanggung jawab publik harus tercermin dalam tindakan. Kewenangan dan jabatan memperoleh makna ketika dijalankan dengan integritas serta menghasilkan manfaat.

Pada 17 Oktober 2026, Suyudi mengunjungi Pondok Pesantren Miftachussunnah di Surabaya dan bertemu Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar. Ia kemudian melanjutkan perjalanan ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, berziarah ke makam Presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid, dan berbincang dengan para ulama serta pengelola pesantren.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara umara dan ulama. Melalui dialog dan kerja sama, keduanya dapat mendukung persatuan, kerukunan, dan ketenteraman sosial di tengah masyarakat yang beragam.

Polisi yang Dirindukan Masyarakat

Perjalanan Jenderal Suyudi memperlihatkan beragam wajah pengabdian kepolisian. Di Banten, program keagamaan membuka ruang komunikasi dengan warga. Poliran menyediakan pelatihan dan peluang usaha. Kerja sama pertanian membantu memperluas manfaat ekonomi, sementara penanganan narkotika memadukan penindakan terhadap jaringan kejahatan dengan pemulihan orang-orang yang terdampak.

Setiap bidang memiliki tantangan dan ukuran keberhasilan sendiri. Benang merahnya terletak pada upaya Jenderal Suyudi menghadirkan perlindungan sekaligus membuka jalan bagi masyarakat untuk berkembang. Ketegasan menjaga hukum, pemberdayaan memperluas kesempatan, dan pemulihan membantu warga yang terpuruk dapat bangkit kembali.

Semangat Polisi Bersama Masyarakat tampak nyata pada keluarga-keluarga yang merasa aman, petani yang tenang dalam menjual hasil pertanian, pencari kerja yang menemukan kesempatan, dan orang-orang yang berhasil membangun kembali masa depannya setelah mengalami keterpurukan.

Di sanalah sosok polisi yang dirindukan masyarakat tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Bukan semata-mata karena pangkat dan jabatan yang diemban, melainkan karena manfaat kehadirannya yang dirasakan nyata oleh masyarakat.