Konten dari Pengguna

Ulasan Buku: New Sounds, New Stories karya Vincent Meelberg

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zulfikar Muhammad Nugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar: Zulfikar Muhammad Nugroho
zoom-in-whitePerbesar
Gambar: Zulfikar Muhammad Nugroho

Pernah nggak sih kamu lagi dengerin sebuah playlist acak, lalu tiba-tiba muncul lagu instrumental yang nadanya aneh banget? Nggak ada lirik, nggak ada melodi yang bisa dihafal, yang ada malah bunyi piano yang dipukul-pukul nggak beraturan atau suara gesekan biola melengking yang bikin ngilu. Buat sebagian besar dari kita, reaksi pertamanya pasti mikir, "Ini musik apaan sih? Nggak ada bentuknya, apalagi ceritanya!" Jujur aja, aku juga sering ngerasa gitu kalau dengerin musik kontemporer yang kelewat abstrak.

Tapi, pandanganku soal ini baru aja berubah seratus delapan puluh derajat setelah baca sebuah buku. Judulnya New Sounds, New Stories: Narrativity in Contemporary Music karya Vincent Meelberg, terbitan Leiden University Press tahun 2006. Bukunya seru banget karena dia berhasil menjembatani dunia musikologi, filsafat, dan teori bercerita dengan cara yang nggak tertebak.

Selama ini, orang-orang di dunia akademis sering banget berdebat: masa sih musik yang murni bunyi doang (baca: tanpa lirik) bisa beneran mendongeng? Meelberg dengan berani menjawab: bisa banget. Bahkan musik kontemporer yang atonal (yang nggak punya nada dasar yang jelas itu) sekalipun, punya potensi penceritaan yang kuat. Menurutnya, narasi itu nggak harus selalu berupa teks tertulis. Selama ada perkembangan waktu dari awal sampai akhir, itu adalah sebuah cerita.

Cara dia membedah musik ini asyik banget. Dia pinjam "pisau bedah" dari dunia sastra (tepatnya dari teori naratologi Mieke Bal) buat membagi musik jadi tiga lapisan: teks musik, cerita (story), dan peristiwa dasar (fabula). Pas baca, kita kayak diajak jalan-jalan pelan-pelan lewat bab-babnya. Kita diajak mikirin gimana sih cara otak kita nangkep makna bunyi, gimana emosi kita dimainkan lewat nada, sampai merasakan tarikan waktu dan arah geraknya.

Tapi, buatku, bagian paling "wah" dari buku ini adalah ide Meelberg tentang konsep "sikap mendengarkan naratif" (narrative listening stance). Gini ceritanya, kalau kita pakai cara "mendengarkan struktural" yang konvensional (baca:kayak pengamat musik yang sibuk menganalisis struktur not balok) dengerin musik kontemporer itu rasanya kaku dan bikin pusing. Pantesan aja orang awam ngerasa asing.

Nah, lewat sikap mendengarkan naratif ini, Meelberg ngasih kita metode alternatif yang jauh lebih ramah dan praktis. Kita diajak jadi pendengar yang aktif membangun makna di kepala kita sendiri. Alih-alih pusing nyari nada dasar, kita cuma perlu ngerasain: kapan nih musiknya terasa tegang (tension), kapan mulai lega (resolution), dan gimana bunyi-bunyian itu seolah punya hubungan sebab-akibat. Lewat cara ini, musik yang tadinya terdengar kayak benang kusut tiba-tiba jadi punya alur emosi yang bisa dinikmati.

Satu lagi yang bikin mindblowing adalah konsep "metanarasi"-nya. Ternyata, musik kontemporer itu kadang-kadang lagi menceritakan tentang proses bercerita itu sendiri. Seolah musiknya ngomong ke kita dan ngingetin kalau cerita dan susunan nada itu pada dasarnya adalah konstruksi buatan manusia. Cerdas banget, kan?

Supaya teorinya nggak cuma ngawang-ngawang, Meelberg juga membedah karya-karya komposer kelas berat kayak Helmut Lachenmann, Pierre Boulez, dan György Ligeti. Di tangannya, karya mereka yang super rumit dikuliti sampai ketahuan alur ceritanya.

Singkatnya, kalau kamu pernah ngerasa musik kontemporer itu cuma sekadar kebisingan tanpa arah, buku ini bakal ngasih kamu "telinga baru". Meelberg berhasil ngebuktiin kalau musik semacam itu sebenarnya adalah media penceritaan yang sangat terstruktur. Kapan-kapan pas kita nongkrong, kita harus coba dengerin musiknya bareng deh, biar kamu bisa ngerasain sendiri sensasi dengerin "cerita" tanpa kata-kata!

Sumber bacaan: Vincent Meelberg, 2017, New Sounds, New Stories: Narrativity in Contemporary Music, Leiden: Leiden University Press, ISBN-10: 9087280025; ISBN-13: 978-9087280024 (ebk)

Direview oleh Zulfikar Muhammad Nugroho