Mengapa Pernyataan Rocky Gerung Sering Menjadi Perhatian Publik?

Mahasiswa ilmu komunikasi universitas Pancasakti tegal
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Maulana saif akabr tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama ini, Rocky Gerung dikenal sebagai sosok yang vokal mengkritik pemerintah. Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, saya melihat Rocky bukan hanya sebagai pengamat, tetapi juga sebagai komunikator publik yang memiliki gaya penyampaian yang tajam dan sering memancing perdebatan.
Namun, ada sesuatu yang berbeda hari ini.
Pada 2 Oktober 2026, Rocky Gerung resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara, Jakarta. Posisi ini membuat Rocky kini berada lebih dekat dengan pusat kekuasaan yang selama ini sering menjadi objek kritiknya.
Di sinilah muncul pertanyaan yang menurut saya menarik: masihkah Rocky Gerung bisa kritis setelah berada di dalam pemerintahan?
Menurut saya, pertanyaan tersebut bukan berarti Rocky tidak boleh bergabung dengan pemerintah. Setiap orang memiliki hak untuk berkontribusi dalam pemerintahan. Yang menarik justru bagaimana seorang yang selama ini dikenal kritis mempertahankan prinsipnya setelah berada di lingkungan kekuasaan.
Rocky sendiri mengatakan bahwa dirinya hanya berpindah dari luar ke dalam. Ia juga menegaskan bahwa sikap dan pemikirannya tidak berubah. Bahkan, ia menyebut bahwa Wantimpres memiliki peran untuk memberikan pandangan kritis kepada Presiden.
Pernyataan tersebut membuat saya melihat posisi baru Rocky sebagai sebuah ujian.
Selama berada di luar pemerintahan, Rocky bebas menyampaikan kritik terhadap berbagai kebijakan. Ia dapat mempertanyakan keputusan pemerintah dan menyampaikan pandangannya tanpa menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan.
Sekarang kondisinya berbeda.
Sebagai anggota Wantimpres, Rocky berada dalam lembaga yang memberikan pertimbangan kepada Presiden. Artinya, ia tidak lagi hanya melihat pemerintah dari luar, tetapi sudah memiliki kesempatan untuk menyampaikan pandangan langsung kepada pemerintah.
Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, saya melihat perubahan posisi ini menarik karena konteks komunikasi juga ikut berubah.
Pesan yang disampaikan seseorang tidak bisa dilepaskan dari posisi dan lingkungan tempat ia berbicara. Kritik Rocky ketika berada di luar pemerintahan tentu memiliki konteks yang berbeda dengan kritik yang disampaikan ketika ia sudah menjadi bagian dari lembaga kepresidenan.
Karena itu, saya tidak ingin langsung menyimpulkan bahwa kritik Rocky selama ini hanya bualan. Menurut saya, kesimpulan tersebut terlalu cepat.
Namun, saya juga tidak ingin langsung percaya bahwa dirinya pasti tidak akan berubah.
Yang bisa membuktikannya adalah tindakan.
Apakah Rocky tetap berani menyampaikan kritik ketika menemukan kebijakan yang menurutnya tidak tepat? Apakah ia masih mampu berbeda pendapat ketika pandangannya tidak sejalan dengan pemerintah? Atau justru setelah berada di dalam pemerintahan, kritiknya menjadi lebih lunak?
Menurut saya, pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada memperdebatkan keputusan Rocky untuk bergabung dengan pemerintah.
Sebab menjadi kritis bukan berarti harus selalu menolak pemerintah. Sebaliknya, menjadi bagian dari pemerintah juga bukan berarti harus selalu menyetujui pemerintah.
Bagi saya, sikap kritis adalah keberanian untuk menyampaikan pendapat berdasarkan alasan dan argumentasi, bukan berdasarkan siapa yang sedang berkuasa.
Jika Rocky mampu mempertahankan sikap tersebut, maka keberadaannya di Wantimpres justru bisa menjadi ruang bagi pemikiran kritis untuk masuk ke dalam proses pemerintahan.
Namun, jika kedekatannya dengan kekuasaan membuat suara kritis yang selama ini menjadi cirinya perlahan menghilang, publik tentu berhak mempertanyakan kembali idealisme yang selama ini ia bawa.
Pada akhirnya, saya tidak ingin buru-buru menilai Rocky telah berubah. Saya juga tidak ingin menganggap dirinya pasti tetap sama.
Rocky telah memilih berpindah dari luar ke dalam. Sekarang, tugas publik adalah melihat bagaimana ia menjalankan posisi barunya.
Karena menurut saya, idealisme tidak hanya diuji ketika seseorang bebas berbicara. Idealisme justru diuji ketika seseorang memiliki alasan untuk diam.
Dan sekarang, keberanian Rocky Gerung untuk tetap kritis sedang mendapatkan ujian yang sebenarnya.
