Konten dari Pengguna

Día de los Muertos dan Diplomasi Budaya Meksiko

I Gusti Ayu Prema Laksmi

I Gusti Ayu Prema Laksmi

Saya adalah mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional di Universitas Udayana yang memiliki ketertarikan dan ingin mengenal lebih dalam mengenai dunia jurnalistik.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari I Gusti Ayu Prema Laksmi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dari perayaan Dia de los Muertos. Gambar ilustrasi dari Prema Laksmi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dari perayaan Dia de los Muertos. Gambar ilustrasi dari Prema Laksmi

Pada budaya kebanyakan, kepergian orang terdekat kerap dimaknai sebagai akhir dari kehidupan dan diasosiasikan dengan duka serta keterpisahan yang mendalam. Namun, pandangan tersebut berbandinga terbalik pada kepercayaan yang diyakini oleh masyarakat Meksiko. Pada tanggal 1 dan 2 November setiap tahunnya, masyarakat Meksiko memperingati Hari Kematian melalui sebuah perayaan dan festival budaya yang sangat meriah dan penuh warna, yang dikenal sebagai Día de los Muertos.

Tradisi ini menampilkan fenomena yang sangat menarik, yang dimana hari kematian dirayakan dengan musik, makanan, simbol visual, dan pertemuan antara sanak keluarga. Día de los Muertos mencerminkan bagaimana cara pandang masyarakat Meksiko yang melihat kematian bukan sebagai tali pemutus hubungan dengan orang yang telah pergi berpulang, melainkan sebagai bagian dari siklus kehidupan yang mengalir dan terus berlanjut. Oleh karena itu, perayaan ini tidak hanya bersifat ritualistik, tetapi juga sarat dengan makna sosial, historis, dan kultural yang membentuk identitas bangsa Meksiko.

Secara historis, Día de los Muertos berakar pada kepercayaan masyarakat Mesoamerika pra-Kolumbus, khususnya suku Aztec, Toltec, dan Nahua, yang meyakini bahwa arwah leluhur yang sudah berpulang dalam kosmologi mereka, akan tetap bisa pulang ke keluarga mereka masing-masing jika mereka tetap ada dan diingat dalam hati keluarganya. Sebaliknya, melupakan leluhur dipandang sebagai bentuk terputusnya ikatan emosional dan simbolik antara generasi.

Ketika kolonisasi Spanyol berlangsung pada abad ke-16, praktik kepercayaan lokal ini tidak sepenuhnya dihapus, melainkan berinteraksi dengan ajaran Katolik yang dibawa oleh penjajah. Proses pertemuan budaya tersebut melahirkan sinkretisme budaya, di mana perayaan lokal mengenai hari untuk mengenang leluhur mereka, berpadu dengan Hari Semua Orang Kudus dan Hari Semua Jiwa dalam tradisi Katolik. Dari sinilah Día de los Muertos berkembang menjadi bentuk perayaan yang dikenal hingga saat ini.

Ilustrasi dari perayaan Dia de los Muertos.Gambar ilustrasi dari Prema Laksmi

Dalam praktiknya, Día de los Muertos diwujudkan melalui berbagai simbol dan ritual, seperti pendirian ofrendas (altar persembahan) yang dihiasi dengan foto leluhur, lilin, bunga marigold, serta makanan dan minuman favorit orang yang telah meninggal. Para kerabat akan berkunjung ke makam keluarga mereka yang menjadi bagian penting dari perayaan ini. Simbol-simbol tersebut merepresentasikan keyakinan bahwa arwah leluhur kembali ke dunia orang hidup untuk disambut, dikenang, dan dihormati.

Lebih dari sekadar ritual keagamaan, Día de los Muertos berfungsi sebagai sarana pewarisan nilai, serta penguatan ikatan sosial antar generasi. Tradisi ini kemudian diakui secara internasional oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia, yang menegaskan nilai universal yang terkandung dalam praktik budaya lokal Meksiko.

Dalam kajian Hubungan Internasional, Día de los Muertos dapat dianalisis melalui teori budaya, khususnya pendekatan yang dikenal sebagai konstruktivisme dan konsep soft power. Yang dimana konstruktivisme menjelaskan bahwa identitas, norma, dan makna sosial dapat dibentuk melalui interaksi dan praktik budaya. Dalam konteks ini, Día de los Muertos membentuk bagaimana cara masyarakat Meksiko memaknai kehidupan, kematian, dan hubungan sosial, yang dimana akan membangun identitas nasional mereka di mata dunia. Sementara itu, konsep soft power yang dikemukakan oleh pemikir kajian Hubungan Internasional yakni, Joseph Nye menjelaskan bagaimana budaya dapat menjadi sumber daya non-material yang memengaruhi persepsi dan daya tarik suatu negara. Popularitas Día de los Muertos di tingkat global menunjukkan bagaimana budaya dapat berfungsi sebagai instrumen diplomasi budaya, yang dapat memperkuat citra Meksiko tanpa melalui paksaan politik atau kekuatan militer.

Dengan demikian, Día de los Muertos tidak dapat dipahami semata-mata sebagai perayaan tradisional atau ritual keagamaan semata, melainkan sebagai ekspresi identitas budaya yang memiliki pengaruh terhadap dunia internasional. Tradisi ini menunjukkan bahwa budaya berperan penting dalam membentuk cara suatu bangsa dipersepsikan dan berinteraksi di tingkat global. Melalui lensa teori budaya dalam Hubungan Internasional, Día de los Muertos memperlihatkan bagaimana praktik lokal mampu berubah menjadi simbol global yang berkontribusi pada pembentukan identitas nasional, diplomasi budaya, dan hubungan antar masyarakat lintas negara. Hal ini menegaskan bahwa budaya bukan hanya sekadar latar belakang dalam politik internasional, melainkan sebagai elemen aktif yang memengaruhi dinamika hubungan internasional