Persaingan Pedagang di Tengah Deflasi: Menguak Tekanan Ekonomi & Politik Pasar

Seorang mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Brawijaya. Memiliki ketertarikan kuat pada isu-isu Internasional, ekonomi, sosial, politik, dan teknologi. Dengan latar belakang akademis yang mendalam dan aktif dalam menulis & membuat publikasi.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ahmad Rizky Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Belakangan ini, fenomena persaingan pedagang yang semakin keras menjadi sorotan di berbagai media sosial dan berita. Video pedagang yang saling berebut pembeli dengan cara yang ekstrem, mulai dari menurunkan harga besar-besaran hingga melakukan promosi gila-gilaan, menjadi viral. Dalam beberapa kasus, bahkan terjadi konflik fisik antar pedagang yang sama-sama ingin merebut konsumen yang jumlahnya terus menurun. Fenomena ini terjadi seiring dengan laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai tren deflasi 0,03% dalam indeks harga konsumen Indonesia.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ini hanyalah cerminan dari persaingan bisnis biasa, atau ada dinamika yang lebih kompleks di balik layar? fenomena ini adalah cerminan dari tekanan ekonomi yang semakin besar, terutama disebabkan oleh deflasi yang merugikan para pedagang kecil. Faktor-faktor ekonomi politik seperti regulasi pemerintah yang kurang tepat sasaran, dominasi oligarki, dan dampak globalisasi juga memainkan peran penting dalam memperburuk situasi ini.

Deflasi dan Dampaknya pada Penurunan Daya Beli
Deflasi, yang ditandai dengan penurunan harga barang dan jasa, sering kali dianggap sebagai tanda positif karena harga barang menjadi lebih murah bagi konsumen. Namun, pada kenyataannya, deflasi juga membawa dampak negatif, terutama bagi para pedagang kecil. Penurunan harga ini bukanlah karena pasokan melimpah, tetapi karena penurunan permintaan dari konsumen yang mengalami krisis daya beli.
Bagaimana deflasi ini memengaruhi pedagang? Dalam kondisi deflasi, pedagang terpaksa menurunkan harga produk mereka agar tetap dapat bersaing dan menjual barang-barangnya. Namun, dengan daya beli yang juga menurun, keuntungan yang diperoleh pun semakin kecil. Dalam pasar yang semakin kompetitif ini, penjual harus "saling sikut" untuk mendapatkan pangsa pasar, meskipun ini berarti mereka harus menjual di bawah harga yang menguntungkan. Inilah yang menyebabkan banyak pedagang terlibat dalam promosi ekstrem, diskon besar-besaran, dan bahkan konflik langsung di pasar tradisional.
Faktor-Faktor Ekonomi Politik
Regulasi Pemerintah Kebijakan pemerintah terkait UMKM dan perlindungan konsumen seharusnya membantu menstabilkan pasar di tengah situasi deflasi. Namun, beberapa kebijakan yang ada justru memperburuk kondisi persaingan. Misalnya, dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerintah memperbolehkan impor barang secara besar-besaran, yang pada akhirnya menekan harga produk lokal. Selain itu, banyak pedagang kecil yang tidak mendapatkan akses ke kredit murah atau insentif pajak, sehingga sulit bagi mereka untuk bersaing dengan pemain besar.
Peran Oligarki dan konglomerat yang mengendalikan sebagian besar rantai pasok barang juga memiliki peran penting dalam memperburuk situasi. Dengan kekuatan ekonomi yang mereka miliki, mereka dapat menetapkan harga produk jauh di bawah kemampuan pedagang kecil. Dalam banyak kasus, para pedagang kecil harus berhadapan dengan kekuatan pasar dari oligarki yang mengontrol distribusi produk utama seperti beras, minyak goreng, dan daging. Para konglomerat ini dapat menurunkan harga saat terjadi deflasi, tetapi pedagang kecil tidak memiliki kapasitas yang sama, sehingga persaingan menjadi semakin tidak sehat.
Globalisasi dan Persaingan Internasional turut memperburuk situasi bagi pedagang kecil di Indonesia. Produk-produk impor yang lebih murah akibat deflasi di negara asalnya masuk ke pasar Indonesia dengan harga yang sangat kompetitif. Sebagai contoh, impor beras dan produk pertanian dari negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand sering kali lebih murah dibandingkan produk lokal, sehingga pedagang kecil terpaksa menurunkan harga produk mereka. Dampak dari globalisasi ini memperlemah daya saing produk lokal, terutama di pasar tradisional yang sudah tertekan oleh deflasi.
Rentetan Peristiwa Deflasi
Fenomena deflasi memperparah persaingan antar pedagang. seperti pada kejadian hari kamis 3 Oktober 2024 di daerah Kabupaten Sleman, seorang pedagang diprotes karena menjual ayam potong di bawah harga pasar, warga yang memprotes merasa itu merusak harga pasaran. Hal ini tidak sejalan dengan keuntungan yang didapat pedagang lain. Pedagang besar yang bisa menjual dalam volume besar masih bisa bertahan, tetapi pedagang kecil terpaksa menurunkan harga jauh di bawah batas wajar untuk menarik pembeli yang jumlahnya menurun. Ini menyebabkan persaingan tidak sehat dan memicu ketegangan antar pedagang.
Pasar ikan di Makassar mengalami situasi serupa, di mana harga ikan turun karena deflasi, tetapi pembeli tetap berkurang karena daya beli yang menurun. Pedagang-pedagang kecil yang tidak memiliki akses ke distribusi besar-besaran terpaksa bersaing secara agresif dengan cara menurunkan harga hingga batas minimal. Banyak dari mereka yang akhirnya tidak dapat bertahan dan gulung tikar, meninggalkan pasar yang semakin dikuasai oleh pemain besar.
Data Deflasi Berdasarkan BPS
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat deflasi month-to-month (m-to-m) di Indonesia pada September 2024 tercatat sebesar 0,12 persen. Ini merupakan deflasi kelima berturut-turut sepanjang 2024, melanjutkan tren dari bulan Mei hingga Agustus. Deflasi ini terjadi terutama karena penurunan harga sejumlah komoditas penting, termasuk bahan bakar minyak (BBM), yang memberikan kontribusi besar terhadap penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK)
Penurunan IHK ini berarti bahwa pada bulan September 2024, harga-harga barang dan jasa secara umum mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, yakni dari 106,06 pada Agustus menjadi 105,93 di September Deflasi yang berlangsung beberapa bulan ini dipandang sebagai sinyal tekanan ekonomi, khususnya bagi sektor-sektor yang sangat sensitif terhadap perubahan harga.
Meski demikian, secara tahunan, Indonesia masih mencatat inflasi year-on-year (yoy) sebesar 1,84 persen, yang menunjukkan bahwa meskipun terjadi deflasi bulanan, secara keseluruhan harga barang masih lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Fenomena saling sikut di kalangan pedagang Indonesia bukanlah sekadar persaingan bisnis biasa, tetapi mencerminkan krisis ekonomi yang lebih dalam. Deflasi, meskipun tampak menguntungkan bagi konsumen, membawa dampak buruk bagi para pedagang kecil yang harus berjuang mempertahankan usahanya di tengah penurunan harga dan daya beli yang terus merosot. Selain itu, faktor-faktor ekonomi politik seperti kebijakan yang tidak tepat sasaran, dominasi oligarki, dan globalisasi semakin memperparah situasi ini.
