Apa yang Diinginkan Timor Leste dengan Bergabung ke ASEAN?

Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Hanif Zaimar Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Timor Leste akhirnya resmi bergabung sebagai anggota ASEAN ke-11 setelah penantian panjang selama 14 tahun.
Keputusan tersebut akan menimbulkan pertanyaan, mengapa Timor Leste memutuskan untuk bergabung ke ASEAN? Apa yang Timor Leste inginkan dari bergabungnya ke ASEAN? Simak penjelasan berikut dalam perspektif kepentingan nasional.
Timor Leste merupakan negara muda di kawasan Asia Tenggara. Jika menelisik sejarah negara tersebut, Timor Leste baru merdeka dan diakui secara internasional pada 20 Mei 2002 setelah sebelumnya melakukan referendum untuk bebas dari wilayah Indonesia tahun 1999.
Sebetulnya ini bukan pertama kalinya Timor Leste mendeklarasikan kemerdekaanya. Jauh sebelum ini, Timor Leste sudah mendeklarasikan kemerdekaanya pada 28 November 1975 dari penjajahan Portugal.
Namun pada akhir 1975, Indonesia menginvasi Timor Timur dengan alasan untuk mencegah pengaruh komunisme menyebar di Asia Tenggara yang pada konteks itu sedang terjadi perang dingin. Maka selama 26 tahun (sampai mendapatkan pengakuan internasional), Timor Leste berada di bawah kedaulatan Indonesia.
Perjalanan Panjang Timor Leste untuk Bergabung dengan ASEAN
Sejarah kolonialisme Timor Leste yang panjang membuat ia menyadari bahwa stabilitas politik dan pengakuan kedaulatan internasional menjadi sangat penting. Timor Leste menghadapi kondisi yang disebut small post-conflict state, yaitu negara kecil yang baru keluar dari konflik dan sedang membangun kembali sistem politik, ekonomi, serta identitas nasionalnya.
Sebagai negara yang baru berdiri, maka penting bagi Timor Leste memperkuat keamanan domestiknya. Maka setelah Timor Leste merdeka dan menjadi negara berdaulat, kebijakan negara tersebut berfokus untuk mencari legitimasi internasional dan pengakuan internasional secara lebih mendalam.
Atas alasan tersebut, maka Timor Leste yang bergabung ke ASEAN merupakan pilihan yang rasional untuk memperkuat legitimasi negaranya. Pada tahun 2011, Timor Leste mengajukan diri untuk menjadi anggota ASEAN. Keputusan tersebut dinilai sangat strategis bagi Timor Leste dimana ASEAN di kawasan Asia Tenggara memainkan peran strategis baik secara ekonomi maupun politik.
Namun Timor Leste tidak langsung diterima sebagai anggota ASEAN. Beberapa negara seperti Singapura menolak keanggotaan Timor Leste dengan alasan bahwa negara tersebut akan menjadi beban ekonomi bagi ASEAN.
Secara perlahan dan pasti, ia berusaha untuk menunjukkan bahwa Timor Leste berhak menjadi anggota ASEAN dengan meningkatkan kapasitas institusi, mengadopsi instrumen hukum ASEAN, meningkatkan kapasitas ekonominya, aktif terlibat dalam diplomasi, dan memenuhi roadmap dan assessment ASEAN.
Usaha tersebut membuahkan hasil dimana pada tahun 2022, Timor Leste berubah statusnya sebagai observer. KTT ASEAN ke-47 merupakan puncak dari perjalanan panjang Timor Leste untuk resmi menjadi anggota ASEAN pada 26 Oktober 2025.
Upaya Timor Leste mencari legitimasi politik internasional melalui ASEAN merupakan langkah penting untuk menstabilkan negara pascakonflik. Namun, setelah fondasi politik dan keamanan ini mulai terbentuk, Timor Leste menghadapi tantangan berikutnya yang jauh lebih besar yaitu membangun ekonomi yang berkelanjutan.
Menganalisis Kepentingan Nasional Timor Leste
Kepentingan ekonomi menjadi faktor kunci yang menjelaskan mengapa Timor Leste terus mendorong keanggotaan ASEAN sejak 2011.
Untuk memahami motivasi tersebut secara lebih mendalam, artikel ini menggunakan kerangka Donald E. Nuechterlein, seorang pakar kebijakan luar negeri yang membagi kepentingan nasional ke dalam empat kategori, yaitu keamanan, ekonomi, tatanan dunia, dan ideologi. Dari keempat kategori tersebut, kepentingan ekonomi merupakan elemen yang paling dominan dalam kasus Timor Leste.
Sebagai negara kecil yang ekonominya sangat bergantung pada sektor minyak dan gas, Timor Leste membutuhkan diversifikasi ekonomi agar tidak terus berada dalam kondisi rentan ketika harga komoditas global mengalami penurunan. Dorongan ini semakin kuat ketika Petroleum Fund (sumber utama pembiayaan negara) menunjukkan tren penurunan akibat menurunnya produksi harga minyak.
Masuknya Timor Leste ke ASEAN artinya membuka peluang yang besar bagi ekonomi Timor Leste untuk semakin berkembang. Peluang ini dapat berupa kerja sama dan investasi yang lebih inklusif, terkhusus ke negara-negara yang secara ekonomi lebih stabil seperti Singapura, Indonesia, Thailand, dan Malaysia.
Hal ini diperkuat dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang merupakan suatu bentuk kerja sama untuk mengintegrasikan perdagangan antarnegara-negara ASEAN.
Bagi Timor Leste, MEA dapat membuka peluang kerja bagi warganya dan memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan serta kerja sama pembangunan. Dalam jangka panjang, integrasi ekonomi ini akan menjadi strategi penting untuk mengurangi ketergantungan Timor Leste pada sektor minyak dan gas serta memperluas basis ekonomi nasional.
Dengan demikian, langkah Timor Leste memasuki ASEAN bukan hanya sebagai bentuk pengakuan saja, tetapi merupakan strategi ekonomi jangka panjang yang menentukan arah pembangunannya sebagai negara muda di kawasan Asia Tenggara. Keputusan ini menandai upaya Timor Leste untuk tidak lagi berdiri di pinggir dinamika kawasan, melainkan menjadi bagian dari promotor ekonomi regional yang terus berkembang.
Referensi
Antunes, G. (2024). Timor-Leste's Regional Future: ASEAN Accession and Strategic Choices. The National Bureau of Asian Research.
Fundasaun Mahein. (2025). Timor-Leste’s ASEAN Accession: Implications for Regional Geopolitics and National Identity. Dili: Fundasaun Mahein.
Government of Timor-Leste. (2025). Opening Remarks by Prime Minister Xanana Gusmão at the ASEAN Inter-Ministerial Coordination Meeting (June 16, 2025).
Kawitri Resen, P. T., Ramadan, I., Sushanti, S., & dkk. (2024). Teori dan Analisis Kebijakan Luar Negeri. Jejak Pustaka.
Leach, M. (2017). Nation-Building and Identity in Timor-Leste. Bristol University Press.
Nuechterlein, D. E. (1976). National interests and foreign policy: A conceptual framework for analysis and decision-making. British Journal of International Studies, 2(3), 246–266.
Ramos-Horta, J. (2025). Speech at the 47th ASEAN Summit. ASEAN Secretariat.
Reuters. (2025). East Timor, Asia's youngest nation, becomes ASEAN’s 11th member.
Smith, M. G. (2022). Democracy, Conflict, and Development in Timor-Leste. ANU Press.
