Dari Kain Perca Jadi Karya Kreativitas yang Bernilai Guna

Mahasiswa Universitas Jember
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari James Hanjaya Poei tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam rangka pelaksanaan tugas mata kuliah Pendidikan Agama Katolik, sejumlah mahasiswa dari Universitas Jember telah mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang bertempat di SMP Santo Petrus Jember. Program ini dilangsungkan sebanyak 8 kali pertemuan dalam rentang waktu dari tanggal 23 April hingga 15 Mei 2025. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mengintegrasikan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan nyata melalui tindakan nyata yang mencerminkan semangat pelayanan, kreativitas, dan kepedulian terhadap lingkungan, khususnya bagi para pelajar tingkat SMP.

Beberapa mahasiswa pelaksana yang terlibat secara langsung dalam kegiatan ini adalah James, Gegana, Chelsea, Oshin, Dania, dan Gracia. Mereka mendampingi siswa dengan penuh semangat dan komitmen tinggi. Dalam pelaksanaannya, para siswa SMP Santo Petrus menunjukkan semangat belajar yang tinggi, keterbukaan terhadap materi baru, serta antusiasme dalam bekerja kelompok. Meski sebagian besar belum memiliki pengalaman menjahit, para siswa tetap berusaha dengan gigih dan menghasilkan karya secara mandiri melalui bimbingan dari mahasiswa.
Kegiatan ini mengangkat tema “Pengembangan Keterampilan Kreatif melalui Pemanfaatan Kain Perca Menjadi Produk Rumah Tangga Sederhana”, dengan fokus utama pada pemanfaatan limbah kain sebagai media edukatif dan kreatif. Mahasiswa membimbing para peserta dalam mengolah kain perca yang umumnya tidak terpakai menjadi barang yang bermanfaat seperti taplak dan cempal dapur. Fokus kegiatan bukan hanya pada hasil akhir, namun juga pada proses pembelajaran yang membentuk karakter siswa, seperti tanggung jawab, kerja sama, serta kesadaran terhadap kelestarian lingkungan.
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai pentingnya daur ulang dan pengenalan terhadap limbah tekstil. Mahasiswa menjelaskan bahwa kain perca merupakan sisa potongan kain dari industri atau rumah tangga yang masih bisa dimanfaatkan. Dengan pendekatan interaktif, siswa diperkenalkan pada berbagai contoh produk daur ulang dan diajak untuk berpikir lebih kreatif tentang pemanfaatan bahan-bahan tersebut. Gambar dan contoh karya juga disertakan sebagai media bantu visual.
Setelah sesi pengantar teori, mahasiswa melanjutkan kegiatan dengan demonstrasi teknik pembuatan taplak dan cempal. Setiap tahapan dijelaskan secara rinci, mulai dari membuat pola sederhana, menggunting kain sesuai bentuk yang diinginkan, menyusun kain dengan tambahan lapisan spon di bagian tengah, hingga menjahit menggunakan teknik tusuk jelujur. Demonstrasi dilakukan secara perlahan agar siswa dapat mengikuti dengan baik, dan masing-masing kelompok mendapat bimbingan langsung selama praktik berlangsung.
Dalam proses pembuatan, siswa menggunakan sejumlah alat dan bahan yang telah disiapkan oleh tim mahasiswa. Beberapa di antaranya meliputi: kain perca dengan aneka warna dan motif, lapisan spon sebagai peredam panas, benang jahit, jarum tangan, gunting, pensil kain atau spidol, penggaris, dan jarum pentul. Seluruh perlengkapan ini dipersiapkan secara matang melalui pembagian tugas antar anggota tim sejak tahap awal, dan didistribusikan sesuai kebutuhan masing-masing kelompok siswa.
Agar pelatihan berjalan efektif, siswa dibagi menjadi kelompok kecil. Masing-masing kelompok difasilitasi oleh satu atau dua mahasiswa yang bertugas mendampingi, memberi arahan, dan membantu jika ditemukan kesulitan teknis seperti kesalahan dalam pola, benang putus, atau susunan kain yang bergeser. Suasana belajar berlangsung dengan aktif dan hangat. Rasa ingin tahu yang tinggi serta semangat untuk menyelesaikan karya menjadi ciri utama dari keterlibatan peserta dalam kegiatan ini.
Hasil karya para siswa cukup beragam dan menunjukkan kreativitas masing-masing. Taplak meja yang mereka hasilkan memiliki kombinasi warna dan pola yang menarik, sedangkan cempal dibuat dengan ketebalan yang cukup untuk melindungi tangan dari panas. Meskipun belum semuanya sempurna dari segi teknik jahitan, proses belajar dan keberhasilan menyelesaikan produk menjadi pencapaian besar bagi siswa. Di akhir kegiatan, seluruh peserta membawa pulang hasil karyanya sebagai simbol keterampilan baru yang telah mereka kuasai.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan dampak dalam bentuk produk, tetapi juga membawa manfaat besar secara edukatif dan emosional. Para siswa belajar untuk tidak menyia-nyiakan bahan, menghargai hasil buatan sendiri, serta memahami bahwa tindakan sederhana seperti mendaur ulang bisa membawa dampak positif bagi lingkungan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana pelatihan kesabaran, ketekunan, dan ketelitian nilai-nilai penting dalam pembentukan karakter positif sejak usia dini.
Melalui program pengabdian ini, mahasiswa Universitas Jember mendapatkan pengalaman berharga dalam berbagi ilmu dan keterampilan dengan cara yang sederhana namun penuh makna. Sementara itu, siswa SMP Santo Petrus Jember memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan dan menginspirasi. Diharapkan kegiatan ini dapat menjadi awal dari upaya berkelanjutan dalam mengembangkan kreativitas, menumbuhkan jiwa wirausaha ramah lingkungan, serta membangun generasi muda yang peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar mereka.
