Fantasi yang Bisa Dibeli: Bagaimana K-pop dan BL Mengubah Hasrat Jadi Konsumsi

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi UNJ 2025
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Milan Wellyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

K-pop dan Boys’ Love (BL) menjadi dua contoh menarik. Keduanya tidak hanya menawarkan lagu atau cerita, tetapi juga pengalaman emosional seperti merasa dekat dengan idola, menjadi bagian dari sebuah komunitas, atau menemukan gambaran hubungan yang dianggap ideal.
Dari sudut pandang sosiologi fenomena ini menarik karena sesuatu yang sangat personal seperti rasa suka, kesepian, keinginan untuk dicintai, dan kebutuhan untuk merasa terhubung dapat masuk ke dalam mekanisme pasar. Penggemar tidak hanya membeli barang atau menonton tayangan, tetapi juga membeli pengalaman dan makna yang melekat di dalamnya.
Dalam industri K-pop kedekatan antara idola dan penggemar semakin mudah dibangun melalui media sosial dan berbagai platform digital. Idola tidak hanya muncul ketika berada di atas panggung, tetapi juga melalui siaran langsung, unggahan kehidupan sehari-hari, konten di balik layar, hingga layanan pesan berbayar.
Pesan sederhana seperti “sudah makan?” atau “jangan lupa istirahat” mungkin terdengar biasa. Namun ketika pesan tersebut datang dari idola yang dikagumi, pengalaman emosional yang muncul dapat berbeda. Penggemar bisa merasa diperhatikan, meskipun hubungan tersebut sebenarnya tidak berlangsung secara timbal balik seperti hubungan sosial pada umumnya.
Fenomena ini berkaitan dengan konsep hubungan parasosial yaitu hubungan satu arah ketika seseorang merasa memiliki kedekatan dengan figur media. Penggemar dapat mengetahui kebiasaan, kepribadian, atau cerita hidup idolanya melalui berbagai konten, sementara sang idola belum tentu mengenal penggemar tersebut secara pribadi.
Industri kemudian memiliki berbagai cara untuk mempertahankan rasa kedekatan tersebut. Album, photocard, lightstick, hingga tiket konser tidak hanya menjadi barang atau akses hiburan. Bagi penggemar benda-benda itu dapat memiliki nilai emosional dan menjadi simbol keterlibatan mereka dalam fandom.
Logika yang hampir serupa juga dapat ditemukan dalam industri (Boy’s Love) BL. BL menawarkan cerita mengenai hubungan romantis antarkarakter laki-laki dalam berbagai bentuk mulai dari manga, novel, hingga serial drama. Perkembangannya kemudian melahirkan industri pendukung berupa merchandise, fanmeeting, konser, dan berbagai konten yang melibatkan aktor pemeran pasangan dalam sebuah serial.
Bagi sebagian penonton, daya tarik BL tidak hanya terletak pada kisah romantisnya, cerita tersebut dapat menjadi ruang untuk membayangkan hubungan yang berbeda dari pengalaman sehari-hari. Karakter digambarkan saling memperhatikan, memberikan dukungan, melewati konflik bersama, dan membangun kedekatan emosional.
Tentu tidak semua penonton BL mencari gambaran hubungan ideal. Ada yang menontonnya karena cerita, aktor, atau sekadar hiburan. Namun ketika keterikatan terhadap cerita semakin kuat, konsumsi dapat bergerak keluar dari layar.
Penonton tidak hanya mengikuti episode, tetapi juga mengikuti kehidupan para aktor, membeli merchandise, menghadiri fanmeeting, atau mengikuti konten lain yang mempertahankan ketertarikan terhadap pasangan yang mereka sukai.
Cerita akhirnya tidak benar-benar selesai ketika episode terakhir berakhir. Ada wawancara, konten di balik layar, acara penggemar, proyek baru, hingga interaksi di media sosial yang membuat hubungan dengan dunia cerita tetap berlangsung.
Di titik inilah fantasi bertemu dengan pasar, dalam masyarakat konsumsi orang tidak selalu membeli sesuatu karena membutuhkan fungsi praktis dari barang tersebut. Barang juga dapat memiliki nilai simbolik, apa yang dimiliki seseorang dapat menjadi cara untuk menunjukkan siapa dirinya, apa yang ia sukai, dan kelompok sosial mana yang ia anggap sebagai bagian dari dirinya.
Hal tersebut terlihat dalam budaya fandom. Memiliki album edisi tertentu, photocard langka, merchandise terbatas, atau tiket konser dapat menjadi tanda keterlibatan seseorang dalam fandom.
Fandom pun berkembang menjadi ruang sosial. Orang-orang bertemu karena memiliki kesukaan yang sama, bertukar informasi, membuat kegiatan bersama, hingga membangun pertemanan. Bagi sebagian orang, fandom bahkan dapat menjadi tempat untuk menemukan komunitas yang memahami minat mereka.
Namun, industri juga memiliki cara untuk menjaga agar keinginan tersebut tidak benar-benar selesai. Sistem photocard acak, merchandise edisi terbatas, berbagai versi album, dan perilisan produk secara berkala membuat penggemar selalu memiliki sesuatu yang baru untuk ditunggu.
Ketika seseorang membeli album karena menginginkan photocard tertentu hasil yang didapat belum tentu sesuai harapan, muncul kemungkinan untuk membeli lagi atau melakukan pertukaran dengan penggemar lain. Setelah mendapatkan barang yang diinginkan produk baru kembali muncul.
Kepuasan akhirnya tidak selalu menjadi akhir dari konsumsi, justru setelah mendapatkan sesuatu yang diinginkan disertai munculnya keinginan berikutnya.
Meski begitu, fenomena ini tidak berarti bahwa budaya K-pop atau BL selalu bersifat negatif, banyak penggemar mendapatkan pengalaman positif dari fandom. Ada yang menemukan teman, belajar bahasa, mengembangkan kemampuan membuat konten, hingga melakukan kegiatan sosial bersama komunitas penggemar.
BL juga bagi sebagian penonton dapat menjadi hiburan sekaligus ruang untuk membicarakan relasi, gender, representasi, dan keberagaman.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah K-pop atau BL baik atau buruk. Yang lebih menarik adalah bagaimana hiburan, kebutuhan emosional, identitas, komunitas, dan konsumsi saling berhubungan.
Ketika seseorang membeli photocard karena merasa dekat dengan idolanya, atau membeli merchandise karena merasa terikat dengan sebuah cerita, yang berpindah tangan bukan hanya uang dan barang melainkan ada makna yang ikut dipertukarkan.
Rasa memiliki dapat diwujudkan dalam sebuah album, rasa dekat dapat hadir melalui layanan pesan berbayar. Rasa menjadi bagian dari kelompok dapat ditunjukkan melalui merchandise, bahkan rasa ingin dicintai dan dipahami dapat menemukan bentuknya melalui karakter fiksi atau figur publik yang terasa dekat.
Pada akhirnya, K-pop dan BL memperlihatkan gejala yang lebih luas dalam masyarakat kontemporer pasar tidak hanya menjual benda, tetapi juga pengalaman dan perasaan.
Pertanyaannya kemudian bukan hanya mengapa seseorang rela mengeluarkan uang untuk idola atau pasangan fiksi yang mereka sukai. Pertanyaan yang lebih jauh adalah bagaimana industri hiburan membaca kebutuhan manusia untuk merasa dekat, dicintai, dan menjadi bagian dari sesuatu, lalu mengubah kebutuhan tersebut menjadi produk yang dapat terus dikonsumsi.
Selama manusia masih membutuhkan rasa terhubung dan rasa memiliki, fantasi akan selalu memiliki tempat dalam kehidupan sosial, dan selama fantasi itu dapat dikemas menjadi pengalaman yang bisa dibeli, industri akan selalu menemukan cara baru untuk menjualnya.
