Konten dari Pengguna

Fariba Hashimi dan Perlawanan Lewat Sepeda

Milan Wellyanto

Milan Wellyanto

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi UNJ 2025

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Milan Wellyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

2023 UCI Cycling World ChampionshipsFariba Hashimi, Yulduz Hashimi and Zahra Rezayee of Afghanistan.https://www.shutterstock.com/id/editorial/image-editorial/fariba-hashimi-yulduz-zahra-rezayee-afghanistan-14046800bz
zoom-in-whitePerbesar
2023 UCI Cycling World ChampionshipsFariba Hashimi, Yulduz Hashimi and Zahra Rezayee of Afghanistan.https://www.shutterstock.com/id/editorial/image-editorial/fariba-hashimi-yulduz-zahra-rezayee-afghanistan-14046800bz

Di sebuah jalan berdebu di Provinsi Faryab, Afghanistan utara, seorang remaja perempuan mengayuh sepeda dengan pakaian laki-laki, masker berlapis, dan kacamata hitam. Bukan karena ia ingin menjadi laki-laki. Ia hanya ingin bisa bersepeda tanpa mudah dikenali.

Namanya Fariba Hashimi. Saat berusia sekitar 15 tahun, ia mulai bersepeda bersama saudara perempuannya, Yulduz Hashimi. Di lingkungan tempat mereka tinggal, perempuan yang bersepeda dianggap tidak sesuai dengan norma sosial yang berlaku. Karena itu, Fariba memilih menyamarkan penampilannya ketika berlatih.

"Saya selalu berpakaian seperti laki-laki saat latihan. Pakai dua atau tiga masker supaya orang tidak mengenali atau menyerang saya," kenang Fariba dalam sebuah wawancara.

Ancaman terhadapnya bukan sekadar kekhawatiran. Ketika bersepeda, Fariba dan Yulduz pernah menghadapi lemparan batu dan botol kaca. Jalan yang bagi sebagian orang merupakan ruang biasa untuk berolahraga justru menjadi ruang yang penuh risiko bagi mereka.

Di titik inilah sepeda memiliki makna yang berbeda. Bagi Fariba, sepeda bukan hanya alat olahraga, tetapi juga sarana untuk memasuki ruang publik yang aksesnya tidak selalu terbuka bagi perempuan.

Kisah tersebut kemudian membawa Fariba ke tingkat yang lebih luas. Bersama Yulduz, ia terus menekuni balap sepeda hingga mendapat kesempatan berkompetisi di tingkat internasional. Setelah Taliban kembali berkuasa pada Agustus 2021 dan pembatasan terhadap perempuan semakin ketat, keduanya kemudian meninggalkan Afghanistan dan melanjutkan karier bersepeda di Italia.

Perjalanan Fariba menunjukkan bahwa persoalan olahraga bagi perempuan Afghanistan tidak dapat dipisahkan dari persoalan sosial yang lebih luas. Ketika perempuan menghadapi pembatasan terhadap pendidikan, pekerjaan, mobilitas, dan aktivitas di ruang publik, kesempatan untuk berolahraga juga ikut terdampak.

Dalam perspektif sosiologi gender, pengalaman Fariba dapat dibaca melalui konsep doing gender yang dikembangkan Candace West dan Don H. Zimmerman. Menurut konsep tersebut, gender bukan hanya sesuatu yang melekat pada seseorang, tetapi juga sesuatu yang terus dibentuk dan ditampilkan melalui interaksi sosial.

Pakaian, cara berbicara, perilaku, hingga cara seseorang menggunakan ruang dapat menjadi bagian dari bagaimana gender dikenali dalam kehidupan sehari-hari.

Apa yang dilakukan Fariba menjadi menarik karena ia justru menggunakan penampilan yang dianggap maskulin untuk mendapatkan akses terhadap ruang yang lebih sulit dimasuki sebagai perempuan. Ia tidak sedang mengubah identitas dirinya menjadi laki-laki. Penyamarannya merupakan bentuk penyesuaian terhadap lingkungan sosial yang membatasi aktivitasnya.

Hal ini juga menunjukkan bahwa ketimpangan gender tidak selalu hadir dalam bentuk larangan yang tertulis. Ia dapat muncul melalui pandangan masyarakat mengenai aktivitas apa yang pantas dilakukan laki-laki dan perempuan, siapa yang dianggap berhak menggunakan ruang publik, serta bagaimana tubuh seseorang seharusnya ditampilkan.

Sepeda menjadi menarik karena mempertemukan persoalan tersebut secara langsung dengan ruang publik. Jalan raya, misalnya, secara fisik merupakan ruang yang dapat digunakan siapa saja. Namun dalam praktik sosial, pengalaman seseorang ketika berada di ruang tersebut dapat berbeda berdasarkan gender.

Bagi Fariba, kehadiran sebagai perempuan di atas sepeda dapat mendatangkan perhatian, penghinaan, bahkan ancaman. Karena itu, identitas yang terlihat oleh orang lain menjadi sesuatu yang harus dinegosiasikan.

Situasi tersebut semakin kompleks setelah Taliban kembali berkuasa pada 2021. Berbagai pembatasan terhadap kehidupan perempuan di Afghanistan kemudian membuat ruang gerak mereka semakin terbatas, termasuk dalam pendidikan, pekerjaan, mobilitas, dan aktivitas publik.

Fariba dan Yulduz akhirnya memilih meninggalkan Afghanistan. Di Italia, keduanya dapat melanjutkan latihan dan mengembangkan karier sebagai atlet.

Pada 22 September 2026, perjalanan Fariba kembali menjadi sorotan di Jepang. Ia turun dalam nomor balap sepeda jalan raya putri Asian Games 2026, yang digelar di kawasan Aichi-Nagoya.

Di lintasan tersebut, Fariba tidak lagi harus menutupi wajahnya dengan masker berlapis atau menyembunyikan dirinya di balik pakaian laki-laki. Ia justru tampil sebagai atlet Afghanistan di hadapan penonton dan peserta dari berbagai negara Asia.

Balapan berlangsung dengan persaingan ketat hingga Fariba berhasil finis di posisi kedua. Ia meraih medali perak, sementara posisi pertama ditempati pembalap China, Guo Li.

Podium itu memperlihatkan perubahan yang kontras dengan masa remajanya. Bertahun-tahun sebelumnya, Fariba harus menyamarkan dirinya untuk sekadar bersepeda di jalanan tempat tinggalnya. Kini, ia berdiri di podium sebuah ajang olahraga internasional sebagai atlet perempuan Afghanistan.

"Medali perak ini bisa menunjukkan banyak ketangguhan perempuan Afghanistan. Saya tahu saya tidak sendirian. Di belakang saya ada jutaan perempuan yang punya mimpi yang sama," ujar Fariba.

Medali tersebut tentu merupakan pencapaian olahraga. Namun, jika dilihat dari perjalanan Fariba, prestasi itu juga membawa cerita tentang perempuan yang berusaha mempertahankan ruang untuk menentukan kehidupannya sendiri.

Meski demikian, kisah Fariba tidak cukup jika hanya dibaca sebagai cerita motivasi tentang seorang atlet yang berhasil mengatasi kesulitan. Ada persoalan sosial yang lebih besar di baliknya.

Mengapa seorang perempuan harus menyamar agar dapat bersepeda? Mengapa aktivitas yang secara umum dianggap sebagai olahraga dapat menjadi persoalan ketika dilakukan oleh perempuan? Dan bagaimana aturan sosial menentukan siapa yang boleh terlihat dan bergerak di ruang publik?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa gender tidak hanya berkaitan dengan identitas pribadi. Gender juga berhubungan dengan relasi kuasa yang memengaruhi bagaimana seseorang menjalani kehidupan sehari-hari.

Dalam kasus Fariba, tubuh perempuan menjadi bagian dari ruang yang terus dinegosiasikan. Ketika menyamar, ia berusaha mendapatkan akses terhadap ruang publik. Ketika meninggalkan Afghanistan, ia mencari ruang sosial yang memungkinkan dirinya tetap bersepeda. Dan ketika berdiri di podium internasional, tubuh yang dahulu harus disembunyikan justru terlihat oleh dunia.

Sepeda yang dikayuh Fariba mungkin tampak sederhana. Namun perjalanan itu menunjukkan bahwa resistensi tidak selalu hadir dalam bentuk aksi besar atau demonstrasi terbuka. Terkadang, resistensi muncul melalui keputusan untuk tetap melakukan sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan batasan sosial.

Bagi Fariba, keputusan untuk terus mengayuh sepeda menjadi bagian dari upaya mempertahankan ruang bagi dirinya sendiri. Dari jalan berdebu di Faryab hingga podium Asian Games di Jepang, perjalanan itu memperlihatkan bagaimana olahraga, gender, ruang publik, dan kekuasaan dapat saling berkelindan dalam kehidupan seorang perempuan Afghanistan.