AP II: Penerbangan Tambahan untuk Mudik Lebaran Tahun Ini Menurun

PT Angkasa Pura II (Persero) mencatat penerbangan tambahan (extra flight) pada mudik lebaran tahun ini sebanyak 200 penerbangan, menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Direktur Utama Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin mengatakan, extra flight pada mudik lebaran tahun sebelumnya sebanyak 300-400 penerbangan.
"Memang sedikit turun dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Tapi ini indikasi yang menunjukan animo masyarakat untuk mudik cukup. Karena kan setelah lebaran ada periode liburan cukup panjang, data masih menunjukkan seperti itu," katanya saat ditemui di Gedung Kementerian Perhubungan, Jakarta, Senin (22/4).
Awaluddin menyebut, penurunan penerbangan tambahan tersebut karena sudah beroperasinya Tol Trans Jawa. Ia menambahkan, pada lebaran tahun lalu tercatat sekitar 50 ribu pergerakan pesawat. Adapun periode lebaran dihitung sejak H-7 hingga H+7 lebaran. Pada tahun ini, Awaluddin bilang akan ada peningkatan tipis pergerakan pesawat sebesar 1 persen.
Sebab, saat ini AP II telah mengelola 16 bandara, lebih banyak dibanding tahun sebelumnya yang hanya 14 bandara. Oleh karena itu, ia berharap peningkatan penumpang di bandara yang dikelola AP II saat lebaran bisa mencapai 3 persen.
"Bandara masih 14, kalau sekarang kan 16 bandara. Jadi mungkin pergerakannya agak sedikit dinamis," imbuhnya.
Beberapa bandara yang akan menjadi favorit pada saat mudik lebaran antara lain Bandara Internasional Juanda (Surabaya), lalu Bandara Internasional Adi Sumarmo (Solo). Sementara di luar Pulau Jawa antara lain Bandara Internasional Sultan Hasanuddin (Makassar) dan Bandara Internasional Syamsuddin Noor (Banjarmasin).
Sebelumnya diberitakan, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyebutkan bahwa akan ada peralihan penggunaan transportasi dari jalur udara menuju jalur darat. Penyebabnya, tak lain adalah tingginya harga tiket maskapai.
Budi menilai peralihan akan terjadi apabila tarif penerbangan masih tinggi. "Udara masih akan jadi primadona, walaupun mungkin akan bergeser karena tingginya tarif. Udara (jadi primadona) itu karena kita antar pulau, potensi lainnya darat, apalagi dengan adanya jalan tol," ungkap Budi.
