Kumparan Logo

Jurus SKK Migas Genjot Eksplorasi dan Produksi dengan Biaya Efisien

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aktivitas pengeboran migas. Foto: Resya Firmansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Aktivitas pengeboran migas. Foto: Resya Firmansyah/kumparan

Industri hulu minyak dan gas (migas) Indonesia masih menghadapi tantangan yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya, yakni mengoptimalkan produksi dari sumur-sumur yang ada. Di sisi lain, eksplorasi untuk menemukan cadangan migas baru juga harus terus dilakukan.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengatakan, masalah utama dalam pengelolaan sumur tua adalah penurunan produksi (decline) yang cukup dalam. Dia menyebut, jika kontraktor migas yang ada di Indonesia tak melakukan apa-apa, decline bisa mencapai 20 persen per tahun.

"Saya kira semua memahami bahwa kita akan berada dalam periode decline. Kalau kita tidak melakukan apa-apa decline bisa 20 persen. Jadi, salah satu yang kita lakukan adalah optimalisasi. Kita komitmen dengan Work Plan, budget harus terkontrol dan dilaksanakan," kata Dwi dalam konferensi pers The 43rd Indonesia Petroleum Association (IPA) Convention and Exhibition di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (4/9).

Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto. Foto: Jamal Ramdhan/kumparan

Potensi migas Indonesia sebenarnya masih terbilang menjanjikan. Sebab saat ini, dari 128 cekungan (bassin) yang ada di Indonesia, yang sudah dieksplorasi baru 54 cekungan dan baru 18 di antaranya yang berproduksi. Sisanya masih perawan, belum terjamah.

Sebagian besar potensi migas Indonesia yang belum terjamah itu berada di laut dalam dan lokasinya terpencil, infrastrukturnya terbatas, jadi memang butuh biaya investasi yang besar. Agar investasi tetap jalan, harus ada improvisasi dalam efisiensi biaya proyek.

Untuk bisa efisien, Dwi menyebutkan ada beberapa cara. Pertama, harus ada sinergi di antara pada kontraktor migas. Ke depan, SKK Migas akan membuat sistem cluster berdasarkan letak blok migas. Rencananya, ada tujuh cluster.

"Kita bangun cluster. Tujuh cluster rencananya dalam cluster ada kerja sama sinergi infrastruktur dibuat sendiri, oleh karena itu open access dilakukan pelaku bisnis dan penunjang harus open access. Dari Indonesia barat sampai timur cluster dikelompokkan," kata Dwi.

embed from external kumparan

Kemudian, dilakukan pengadaan bersama alat-alat untuk eksplorasi migas. Sebab jika tiap perusahaan harus membeli sendiri-sendiri, harganya akan sangat mahal. Jadi dengan adanya cluster blok migas, perusahaan-perusahaan migas bisa melakukan pemakaian alat bersama.

Menurut Dwi, efisiensi pada kegiatan bisnis hulu migas akan menciptakan keuntungan baru bagi perusahaan, sebab biaya produksi migas menjadi lebih rendah.

"Improve efisiensi karena kembali lagi pada portofolio investasi ke mana diarahkan investasinya, pasti diarahkan menciptkan profitabilitas baru tercapai setelah melakukan efisiensi," tegasnya.