kumparan
10 Okt 2018 12:51 WIB

Mengurai Tantangan Pariwisata Pegunungan Arfak di Papua Barat

Kondisi Jalan dan Masyarakat Kawasan Pegunungan Arfak Papua Barat. (Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan)
Pemerintah Daerah Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat, tengah gencar melakukan promosi akan potensi pariwisata di wilayah yang akrab disebut Pegunungan Arfak (Pegaf). Tak tanggung-tanggung, Pegaf didapuk sebagai pariwisata pegunungan bersanding dengan Raja Ampat sebagai pariwisata bahari yang bakal jadi Andalan kabupaten hasil pemekaran Kabupaten Manokwari pada tahun 2014 itu.
ADVERTISEMENT
Bupati Pegunungan Arfak Yosias Saroi mengatakan pengelolaan pariwisata inginnya akan dilaksanakan pembangunan berwawasan lingkungan. Ia menambahkan, Pegaf juga diharapkan bisa hadir sebagai wisata berbasis masyarakat lokal setempat.
"Memang masyarakat juga tidak mau tersisih, tidak mau jadi penonton di negeri sendiri maka kita utamakan pemberdayaan masyarakat sendiri," ujar Yosias ketika ditemui kediamannya di kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat, Selasa (11/10).
Ada beberapa obyek wisata yang bisa ditemukan di Pegunungan Arfak menurutnya, seperti Danau Perempuan (Anggi Gida) dan Danau Laki-laki (Anggi Giji), birth watching, air terjun, Gua Laomot yang diklaim terpanjang setelah Perancis dengan 2.800 meter vertikal dan horizontal, rumah tradisional Suku Arfak yang disebut rumah kaki seribu, bunga endemik anggrek, hingga pulau mengapung yang bisa bergerak sendiri yang kini belum bertuan.
ADVERTISEMENT
Ke depan, Yosias membayangkan jika hortikultura yang menjadi sumber penghidupan masyarakat juga bisa terdorong dengan adanya kawasan wisata berbentuk danau yang terletak di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu. Selain tentunya, penyediaan penginapan yang dikelola oleh masyarakat.
"Kami akan masukkan ke Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), sudah pasti akan buat homestay di sekitaran danau," katanya.
Namun, pihaknya tak memungkiri jika 'mimpi' mengembangkan pariwisata di kawasan Pegaf itu bukan pekerjaan mudah. Pasalnya, kondisi yang dihadapi kini masih menjadi tantangan yang perlu menjadi perhatian mendesak.
"Prioritas saya pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur (jalan, air bersih, dan penerangan)," ucap Bupati yang memulai jabatannya pada 17 Februari 2016 lalu itu.
ADVERTISEMENT
Yosias mengaku saat ini sedang kesulitan mengatur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang terbatas Rp 778 miliar. Jumlah itu terbilang kecil karena telah termasuk Dana Desa hingga dana otonomi khusus (otsus) secara keseluruhan yang diperlukan untuk pembangunan sekolah dan polindes yang masih minim hingga penyediaan infrastuktur memadai.
Kondisi Jalan dan Masyarakat Kawasan Pegunungan Arfak Papua Barat. (Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan)
"Sekolah ada di beberapa distrik. Guru ada tapi kekurangan. Satu guru bisa untuk mengajar kelas 1-6. Perawat dan tenaga medis juga kekurangan jadi kita kontrak," lanjutnya.
Selain hal mendasar berupa upaya peningkatan kualitas hidup dan sumber daya manusia (SDM), selanjutnya Ia mengatakan pembangunan infrastuktur perlu segera didorong. Di antaranya, penyediaan jalan untuk meningkatkan konektivitas, air bersih, hingga pemasangan listrik yang merata.
ADVERTISEMENT
Pantauan kumparan (9/10) menemukan jalanan menuju kawasan Pegaf dari Manokwari yang berjarak tak kurang 50 km memang masih terbilang buruk. Pasalnya, waktu tempuh yang diperlukan bisa mencapai 5 jam dengan jalanan berbatu dan licin berlumpur, tidak proporsional karena terlalu sempit, hingga harus menyeberangi 5 sungai tanpa jembatan.
"Terisolir ada 166 kampung atau desa 10 distrik jalan yang minta bantu akses jalan untuk ekonomi tumbuh," ujarnya.
Untuk kecukupan air, masyarakat setempat juga masih mengandalkan tadah hujan. Selanjutnya, penerangan juga menjadi masalah serius yang masih menjadi tantangan di Pegaf yaitu dari 166 kampung di 12 kecamatan setidaknya ada 10 kecamatan yang sudah bisa dialiri listrik. Sementara, dua kecamatan lainnya masih menggunakan tenaga surya.
ADVERTISEMENT
Bagi daerah yang telah teraliri listrik pun, masih seringkali mengalami gangguan. Akhirnya, masyarakat berswadaya menggunakan genset. Masalah lain muncul ketika genset menggunakan bahan bakar minyak yang jumlah pasokannya juga terbatas.
"Pom bensin ada APMS (Agen Penyalur Minyak Solar). Ke depan kita mau tambah. Kapasitas APMS 12 kiloliter, biasanya buat genset, mobil motor, itupun masih kecil. Lima hari sudah habis, pertamina datang biasanya seminggu sekali," katanya.
Satu hal lagi yang menjadi kunci sekaligus menjadi 'PR' bagi Pemda ialah penetapan Peraturab Daerah (Perda) yang mengatur soal pariwisata Pegaf untuk segera dirancangkan. Tak lain, agar aturan tata kelola hingga pemasukan retribusi bisa menguntungkan utamanya bagi masyarakat setempat.
"Turis sebulan ada 5 sampai 15 org asing. Dari Jerman, AS, Australia, China juga ada. Tapi kami belum dapat pemasukan dari itu, itulah yang kami sedang upayakan," tegasnya.
Kondisi Jalan dan Masyarakat Kawasan Pegunungan Arfak Papua Barat. (Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan)
Terkait pariwisata Pegaf, Salah seorang masyarakat adat suku Suogh Isak Mandacan (24) mengaku setuju sekaligus khawatir. Ia sepakat karena pariwisata bisa mendongkrak ekonomi masyarakat sekitar jika dikelola dengan baik. Namun sebaliknya bisa menjadi bumerang apabila mengabaikan keseimbangan ekosistem hidup yaitu manusia dan alam.
ADVERTISEMENT
"Siap terima senang, sementara ini kan belum ada pariwisata. Asalkan, masyarakat dilibatkan dan tak melanggar hutan adat," katanya.
Isak mengatakan sejauh ini dirinya mengetahui hanya sebatas mendengar obrolan terkait pariwisata yang akan dibangun di tempatnya tinggal di dekat Danau Perempuan Pegaf.
"Rencananya kan pariwisata per distrik tapi dari kita belum tahu pastinya, sementara sedang dibangun jalan di lingkar danau ini kan, dua danau ini kan untuk menunjang pariwisata," pungkasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan