kumparan
15 Sep 2019 11:45 WIB

Pagerungan Besar, Pulau Kering Kaya Gas yang Dikelola Grup Bakrie

Pulau Pengerungan yang masuk wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, tempat operasi perusahaan migas Kangean Energy Indonesia. Foto: Dok. PT Energi Mega Persada
Mesin PT6A buatan Pratt & Whitney, pabrikan mesin pesawat asal Kanada, bergemuruh. Perlahan, dua unit mesin di kiri dan kanan sayap itu, menerbangkan pesawat Twin Otter DHC-6 400 meninggalkan landas pacu Bandara Juanda, Surabaya.
ADVERTISEMENT
Pesawat milik Pegasus Air Services itu membawa rombongan SKK Migas dan Kangean Energy Indonesia Ltd, menuju pulau Pagerungan Besar. Penerbangan dari Surabaya ke Pulau Pagerungan, memakan waktu sekitar 1 jam 30 menit. Bisa lebih cepat jika cuaca cerah bersahabat, demikian sebaliknya.
Di dalam pesawat ada Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), Dwi Soetjipto; President EMP Mining Overseas Pte Ltd, Adinda Andarina Bakrie; Presiden Kangean Energy Indonesia Ltd, Hiroka Tanaka; Serta anggota rombongan lain.
Dwi mengunjungi Pulau Pagerungan Besar, untuk melihat operasi dan pengelolaan Blok Migas Kangean oleh Kangean Energy Indonesia Ltd (KEI). Blok Migas Kangean, berada di Kepulauan Sapeken dan wilayah perairannya (offshore). Pusatnya ada di Pulau Pagerungan Besar.
President EMP Mining Overseas Pte Ltd, Adinda Andarina Bakrie, berfoto di depan pesawat twin otter yang akan menerbangkannya dari Surabaya ke Pulau Pagerungan Besar. Foto: Wendiyanto Saputro/kumparan
Pilot menerbangkan pesawat pada ketinggian sekitar 1.600 kaki dengan kecepatan sekitar 130 km per jam. Cuaca cerah dan kecepatan angin yang bersahabat, membuat penerbangan pada Sabtu (7/9) itu berjalan lancar. Setelah mengudara 1 jam 20 menit, pesawat dengan kapasitas 15 penumpang serta dua awak dan seorang teknisi itu, mendarat mulus di Bandara Pagerungan.
ADVERTISEMENT
Bandara itu memiliki landas pacu sepanjang 915 meter dan lebar 30 meter. Lokasinya masuk wilayah Desa Paseraman, Kecamatan Arjasa. Waktu baru menunjukkan pukul 09.20 WIB. Belum terlalu siang sebenarnya. Tapi begitu keluar dari pesawat, udara terik di bandara terasa menyengat. Menegaskan musim kemarau panjang tahun ini.
“SKK Migas harus membangun komunikasi yang efektif dengan kontraktor kontrak kerja sama (K3S) migas,” katanya menjelaskan tujuan kunjungannya ke Pulau Pagerungan Besar, dalam perbincangan dengan kumparan. “Dengan begitu, masalah-masalah yang menghambat produksi bisa segera diantisipasi. Kan kita maunya produksi (migas) naik terus. Enggak boleh declining. Jadi SKK Migas dituntut lebih proaktif,” imbuh mantan Direktur Utama Pertamina itu.
Suku Bajo Penduduk Sumenep
Ladang Gas Pagerungan yang dikelola Kangean Energy Indonesia Ltd yang sebagian sahamnya dimiliki perusahaan keluarga Bakrie. Foto: Wendiyanto Saputro/kumparan
Kangean Energy Indonesia Ltd merupakan kontraktor kontrak kerja sama (K3S) migas. Setengah perusahaan itu, saham-nya (working interest) dimiliki Grup Bakrie melalui PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Mereka berkongsi dengan Japan Petroleum Exploration (Japex), yang menguasai setengah porsi saham lainnya. KEI memusatkan pengelolaan bisnis Blok Migas Kangean di Pulau Pagerungan Besar.
ADVERTISEMENT
Saat kumparan dan rombongan tiba di Pulau Pagerungan Besar, sore harinya sedang ada pertandingan sepak bola antar-kampung. Sebagian besar penduduk pulau itu, berkerumun memenuhi arena pertandingan. Jalan desa di salah satu sisi lapangan, juga diramaikan oleh pedagang kagetan, yang sengaja memanfaatkan keramaian itu untuk meraup omzet lebih.
Para pedagang menawarkan aneka makanan. Juga barang kebutuhan sehari-hari. Suasananya riuh, antara yang berjualan dan berbelanja. Juga yang menonton sepak bola. Ulasan komentator melalui pengeras suara, ditingkahi sorak sorai para pendukung terutama dari kesebelasan tuan rumah. Apalagi saat itu, tim Pagerungan Besar tertinggal 0-1 dari tim tamu dari pulau sebelah.
Meski ada aroma persaingan, tapi tak berlanjut jadi perseteruan. Mayoritas penduduk Kepulauan Sapeken, termasuk di Pulau Pagerungan Besar dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, berasal dari etnis yang sama yakni suku Bajo.
Suasana perkampungan penduduk Pulau Pagerungan Besar, pulau yang kaya potensi gas dan jadi pemasok terbesar kebutuhan gas Jawa Timur oleh Kangean Energy Indonesia Ltd. Foto: Wendiyanto/ kumparan
Jadi secara kultural, penduduknya berbeda dengan warga Kabupaten Sumenep, yang menjadi induk pemerintahannya. Posisi Pulau Pagerungan Besar, juga sebenarnya cukup jauh dari Sumenep. Posisinya berada di Laut Bali, lebih dekat ke Pulau Lombok di bagian selatan dan Kalimantan Selatan di bagian utara.
ADVERTISEMENT
Saat kumparan menyusuri jalan-jalan di perkampungan warga, terasa suasana yang bersahaja. Jalan desa yang sebagiannya dibangun dari dana CSR Kangean Energy Indonesia Ltd, tertata rapi. Tempat tinggal penduduk kebanyakan dibangun berupa rumah panggung dari kayu. Atapnya dari daun kelapa atau rumbia. Ada juga sebagian rumah yang berdinding tembok dengan lantai keramik. Lingkungannya bersih. Hampir tak ada sampah.
Di Pagerungan Besar, jumlah penduduknya sekitar 6 ribu jiwa. Mereka tersebar di lima dusun. Anak-anak warga setempat, bersekolah di dua SD dan satu SMP di pulau itu. Sementara untuk melanjutkan ke SMA, umumnya mereka harus merantau ke Banyuwangi atau Pasuruan, Jawa Timur.
Sementara penduduk dewasa kebanyakan bekerja sebagai nelayan. Bertani adalah kegiatan sampingan, karena tanah di pulau itu kering. Bahkan tandus. Dengan topografi yang datar, tak ada sungai yang mengalir dan bisa mengairi lahan pertanian di Pulau Pagerungan Besar.
ADVERTISEMENT
Kebutuhan air bersih bagi penduduk sebanyak itu, dipasok oleh KEI. Perusahaan memiliki fasilitas pengolahan air laut menjadi air tawar, dengan teknologi reverse osmosis. Kapasitasnya mencapai 150 ton air tawar per hari.
Kilang gas (gas plant) milik Kangean Energy Indonesia Ltd di Pulau Pagerungan Besar. Foto: Wendiyanto Saputro/kumparan.
Meski kering dan tak punya sumber air tawar, tapi pulau terpencil itu sangat kaya dengan gas. Itulah yang mendorong KEI beroperasi di sana. Gas produksi KEI itu pula yang melistriki rumah-rumah penduduk setempat. KEI memiliki pembangkit listrik dengan kapasitas 2 x 1 MW dan 3 x 500 Kw.
KEI Pemasok Gas Terbesar di Jatim
Pengelolaan Blok Migas Kangean oleh KEI, terpusat di Pulau Pagerungan Besar. Di pulau yang melintang dari timur ke barat sepanjang 3 kilometer itu, KEI memiliki unit pemrosesan gas (gas plant). Total ada 18 sumur yang dikelola anak perusahaan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), unit bisnis dari Grup Bakrie itu.
Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto (Berjaket loreng) bersama rombongan saat mengunjungi Float Processing Unit (FPU) atau kilang gas apung di Blok Migas Kangean. Foto: Wendiyanto Saputro/ kumparan.
Produksi gas dari 9 sumur diolah di gas plant di Pulau Pagerungan Besar. Sedangkan produksi gas dari 9 sumur lainnya baik off-shore maupun on-shore, diproses di fasilitas pengolahan terapung atau Float Processing Unit (FPU) Jokotole.
ADVERTISEMENT
Fasilitas tersebut, awalnya merupakan kapal tanker yang kemudian dimodifikasi jadi fasilitas pengolahan gas di tengah laut. Posisinya masih di Laut Bali, sekitar 120 kilometer ke arah timur Pulau Pagerungan Besar. Fasilitas FPU ini, termasuk yang jadi tujuan kunjungan Dwi dan jajaran SKK Migas lainnya. Butuh 30 menit penerbangan dengan helikopter, untuk menjangkau FPU Jokotole dari Pulau Pagerungan Besar.
Vice Presiden Operations KEI, Ahmad Bunyamin, menjelaskan gas dari unit pengolahan di Pulau Pagerungan dan FPU Jokotole, selanjutnya disalurkan ke Porong, Sidoarjo, melalui pipa bawah laut East Java Pipe (EJP). Pengguna gas-nya mulai dari industri pupuk PT Petrokimia Gresik (Persero), PT Pertagas Niaga, juga pembangkit listrik milik PLN.
Anjungan gas Jokotole milik perusahaan migas Kangean Energy Indonesia di wilayah lepas pantai Pulau Pengerungan yang dekelola oleh PT Energi Mega Persada. Foto: Dok. PT Energi Mega Persada
Rata-rata gas produksi KEI yang dipasok ke para konsumennya saat ini, sebesar 141,07 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Sedangkan produksi minyaknya hampir tak ada. “Produksi kondensat kami sangat kecil. Hanya 78 barel per hari. Padahal kami punya tanki timbun dengan kapasitas sampai 4 ribu barel,” kata President Kangean Energy Indonesia Ltd, Hiroka Tanaka.
ADVERTISEMENT
Dengan produksi gas sebesar itu, KEI masih menjadi produsen gas terbesar untuk memasok kebutuhan di wilayah Jawa Timur. “Kita bersyukur masih menjadi yang terbesar di Jawa Timur. Sementara di nasional, produksi kita terbesar kedelapan,” kata President EMP Mining Overseas Pte Ltd, Adinda Andarina Bakrie.
Kilang gas milik perusahaan migas Kangean Energy Indonesia di Pulau Pengerungan Besar yang masuk wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Foto: Dok. PT Energi Mega Persada
Ahmad Bunyamin, mengungkapkan perusahaannya sebenarnya punya kapasitas produksi sampai 200 MMSCFD. “Lalu kenapa realisasi produksi kita enggak sampai segitu? Karena ada isu di demand side. Permintaan enggak sebesar itu, karena di pembangkitan listrik misalnya, gas jadi cadangan dari batu bara,” kata pria yang biasa disapa Abun itu.
Menurut Dwi, manfaat dari kunjungan lapangan seperti ini adalah bisa menemukan persoalan on the spot. Dengan begitu, bisa segera dicarikan solusinya. "Jika potensi produksinya besar, seharusnya bisa direalisasikan sehingga kontribusi ke penerimaan negara maksimal," kata Dwi menanggapi penjualan gas KEI yang di bawah kapasitas produksinya.
Kepala SKK Migas, Dwi Sutjipto, meninjau control room di Float Processing Unit (FPU) Jokotole yang dikelola Kangean Energy Indonesia Ltd. Foto: Wendiyanto/ kumparan
Dari kunjungan semacam ini, Dwi juga bermaksud mendorong para kontraktor migas untuk mengusahakan ladang-ladang migas yang belum tergarap, di wilayah kerja yang mereka kuasai. “Termasuk Kangean ini, saya berharap produksinya bisa naik lagi. Seperti dulu peak-nya bisa mencapai 330 MMSCFD,” ujar Kepala SKK Migas itu.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan