Sebelum Dibiayai Jepang, Proyek MRT Jakarta Fase II Sempat Dilirik AS

24 Juni 2019 16:26 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Suasana depo Lebak Bulus. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana depo Lebak Bulus. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
ADVERTISEMENT
Pembangunan megaproyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta sudah memasuki fase II dengan rute dari Bundaran HI menuju Kota. Pembangunan ini akan memakan dana hingga Rp 22,5 triliun dan sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah Jepang, melalui Japan Internasional Corporation Agency (JICA).
ADVERTISEMENT
Namun siapa sangka, proyek infrastruktur strategis ini sempat dilirik oleh Lembaga Pembiayaan Pembangunan Pemerintah Amerika Serikat atau Overseas Private Investment Corporation (OPIC). Mereka sempat tertarik ingin membiayai sepenuhnya proyek tersebut.
“Kami sesungguhnya berminat (mendanai MRT fase II),” ungkap Managing Director Asia Pasific OPIC, Geoffrey Tan, di Kediaman Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Jakarta, Senin (24/6).
Untuk selanjutnya, Tan mengaku masih menunggu keputusan pemerintah Indonesia apakah bisa melibatkan perusahaan swasta untuk terlibat dalam pembangunan MRT Fase II. Jika peluang itu ada maka pihaknya sangat tertarik.
Kepala Star Overseas Private Investment Corporation (OPIC), Eric Jones. Foto: Selfy Momongan/kumparan
“Kami masih menunggu karena pada Fase I pendanaan berasal dari JICA. Kalau nanti pemerintah Indonesia menggunakan skema yang bisa melibatkan private sector, PPP misalnya. Sebab kami adalah private sector. Kami masih menunggu,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Dalam mendukung suatu proyek, OPIC setidaknya memiliki 3 skema pendanaan. Pertama yaitu OPIC menawarkan pembiayaan. Artinya OPIC bisa memberikan pinjaman langsung dan jaminan hingga USD 350 juta dengan jangka waktu hingga 20 tahun. Skema kedua yaitu Asuransi Risiko Politik. Skema ini memungkinkan OPIC menyedikan pertanggungan dan reasuransi hingga lebih dari USD 350 juta untuk perlindungan terhadap kerugian akibat ketidaksanggupan penukaran mata uang, intervensi pemerintah, dan kekerasan politik termasuk terorisme.
Sedangkan skema ketiga adalah dukungan dana investasi, yaitu pembiayaan utang untuk dana ekuitas swasta yang diseleksi melalui proses yang terbuka dan kompetitif.
Pada kesempatan yang sama Kepala Staf OPIC Eric Jones juga menyatakan bahwa pihaknya sangat berminat untuk terus berinvestasi di Indonesia. Menurut Jones, saat ini Jakarta sedang mengarah menjadi kawasan urban terbesar di dunia dalam satu dekade terakhir.
ADVERTISEMENT
“Indonesia menjadi contoh bagaimana investasi dalam bidang infrastruktur dan teknologi turut mendorong pertumbuhan,” tandasnya.