Tawa Warga Sembalun Korban Gempa Lombok Dapat Hunian Sementara
Vina (20), Dusun Bawak Nao Daye, Desa Karya, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), kini bisa hidup lebih tenang. Ibu satu anak ini selamat dari musibah gempa Lombok berkekuatan 7,0 magnitudo yang terjadi Juli 2018.
Vina beserta anak dan suaminya kini bisa tidur nyenyak di Hunian sementara (Huntara) alias hunian semi permanen yang diberikan cuma-cuma oleh BNI. Beberapa bulan lalu, saat gempa mengguncang Lombok, Vina dan keluarganya dibuat panik. Rumahnya hancur dan rata dengan tanah. Pascagempa itu, dia dan keluarganya sempat mengungsi di tenda selama dua pekan.
“Kami shock, pas gempa itu kami lari semua keluar rumah, ke lapangan. Rumah langsung hancur, rata. Syukur semua keluarga selamat. Kami sempat dua minggu tinggal di tenda plastik,” kata Vina saat berbincang bersama kumparan di lokasi Huntara, Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, NTB, Selasa (23/10).
Vina mengaku, kini ia dan keluarganya merasa bahagia mendapatkan tempat tinggal yang layak. Meski demikian, ia masih berharap bantuan dari pemerintah agar diberikan hunian permanen yang layak.
“Bahagia ada tempat tinggal sementara. Tapi d sini air susah, sehari kita dapat jatah 2 ember untuk satu keluarga. Air susah karena pipa saluran air putus dan musim kemarau, sumber air masih kering,” paparnya.
Hal yang sama diungkapkan Fitriya. Wanita berusia 60 tahun ini juga selamat dari gempa. Ia kini merasa aman tinggal di hunian sementara ini.
“Seneng di sini daripada di rumah, takut, rumahnya juga udah hancur,” ucap dia.
Meri Febrianti juga berucap demikian. Wanita berusia 20 tahun itu kini bisa punya tempat berlindung untuknya dan anaknya yang berusia 7 bulan. Meri juga berharap akan ada tindakan lebih lanjut dari pemerintah agar mereka dibuatkan hunian permanen yang lebih layak.
“Seneng kan rumah kita udah hancur, enggak ada tempat tinggal lain, di sini anginnya kenceng jadi kalau di tenda enggak aman. Kalo di sini sekarang udah dipasang listrik. Di sini (hunian sementara) sampe 6 bulan katanya, kalau ada bantuan rumah, kita jadi pulang, kalau enggak ada bantuan, di sini terus,” tandasnya.
