Kumparan Logo

1.019 Pertandingan, 14 Trofi, 1 Frank Lampard

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Lampard akhirnya gantung sepatu. (Foto: Shaun Botterill/Getty Images)
zoom-in-whitePerbesar
Lampard akhirnya gantung sepatu. (Foto: Shaun Botterill/Getty Images)

Setelah ribuan pertandingan, ratusan gol, dan belasan trofi, Frank Lampard akhirnya memutuskan menutup kariernya.

Konon, Frank Lampard punya IQ yang cukup tinggi. Kita memang tidak mengetahui angka pastinya, tapi Bryan English, dokter yang bekerja untuk Chelsea pada 2009, berani memastikan hal itu.

Dalam pernyataannya delapan tahun silam, English menyebut bahwa skor tes Lampard merupakan yang tertinggi sepanjang tes dilaksanakan di klub.

Tak banyak yang tahu, memang. Tapi, kalau melihat gaya main Lampard di lapangan, kita bisa menerka bahwa Lampard memang cukup cerdas. Tidak mengherankan ia bisa bermain cukup lama, hingga kepala tiga.

Pada masa di mana Chelsea mengalami stagnansi prestasi, Lampard sudah mematok dirinya sebagai pemain kunci di lini tengah. Dari era Claudio Ranieri, Jose Mourinho, Avram Grant, Luiz Felipe Scolari, Carlo Ancelotti, lalu kembali ke Mourinho lagi, tempat Lampard di lini tengah tidak tergantikan.

Lampard bukan tipikal gelandang tengah klasik Inggris yang meledak-ledak seperti, katakanlah, Paul Ince. Lampard memang punya tenaga —dan oleh karenanya ia bisa diplot sebagai box-to-box midfielder— tapi gaya permainannya tidak hanya berpusat di situ saja. Dengan kemampuan membaca permainan dan melepas operan yang baik, ia juga bisa bermain sebagai sumber kreativitas lini tengah timnya.

Di luar itu, Lampard juga tajam, sehingga memainkannya sebagai gelandang serang juga terhitung sebagai opsi yang wajar. Mirip-mirip seperti Paul Scholes di Manchester United, ia kerap datang terlambat ke sepertiga akhir lapangan hanya untuk menerima bola di luar kotak penalti lawan dan melepaskan sepakan terarah. Banyak golnya lahir dari situasi seperti ini.

Maka, jangan heran jika melihat nama Lampard nangkring pada daftar pencetak gol terbanyak Chelsea. Bobby Tambling, legenda The Blues itu, ia lewati. Sementara Tambling “hanya” mencetak 202 gol, Lampard membukukan 211 gol.

Dari beberapa sudut pandang, menyebut bahwa torehan Lampard lebih spesial daripada Tambling rasanya tidak berlebihan. Pasalnya, Tambling adalah seorang striker, sudah sewajarnya ia mencetak gol.

Tambling memang sukses membukukan 211 gol dalam 11 tahun saja, sementara Lampard butuh 13 tahun. Tapi, itu juga menunjukkan betapa panjangnya masa Lampard menjadi pemain kunci Chelsea. Bayangkan, sejak musim pertamanya bersama klub asal London Barat itu, Lampard selalu bermain lebih dari 40 kali dalam semusim.

Frank Lampard dan John Terry (Foto: Mike Hewitt/Getty Images)
zoom-in-whitePerbesar
Frank Lampard dan John Terry (Foto: Mike Hewitt/Getty Images)

“Bagimu, 20 gol dalam setahun tidaklah cukup. Kau selalu ingin mencetak 25-30 gol. Itulah hal terbaik yang aku suka darimu,” demikian ucap kapten Chelsea, John Terry, menggambarkan Lampard yang juga sahabat kentalnya itu.

Total, Lampard melakoni 1.019 pertandingan selama berkarier sebagai pesepakbola. Dan tentu saja, pencapaian-pencapaian terbaiknya didapat ketika berkostum Chelsea —bukan ketika berseragam West Ham, Manchester City, apalagi Tim Nasional Inggris.

Ada 13 trofi dipersembahkan Lampard untuk Chelsea, termasuk 3 trofi Premier League, 4 trofi Piala FA, 1 trofi Liga Champions, dan 1 trofi Liga Europa. Di luar trofi-trofinya bersama Chelsea, ia pernah menjuarai Piala Intertoto satu kali bersama West Ham.

“Dia adalah pemain yang bersinar di laga-laga penting,” demikian Chelsea menggambarkan Lampard.

“Mulai dari operan pentingnya untuk Didier Drogba pada final Piala FA pertama di New Wembley hingga menggantikan John Terry untuk memimpin tim pada final Liga Champions di Muenchen.”

Kamis (2/2/2017), setelah beberapa saat tanpa klub —menyusul habisnya kontrak dengan New York City FC—, Lampard menyatakan pensiun. Dengan usia yang sudah menginjak angka 38, ia mengaku ingin mencari kesempatan lain dalam hidupnya.

“Legenda, pahlawan, dan inspirasi. Yang terbaik yang pernah ada,” kata Terry lagi, menutup tributnya untuk sang sahabat.