Kumparan Logo

Apa yang Bisa Ditawarkan Aaron Ramsey untuk Juventus?

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aaron Ramsey bersama Timnas Wales. (Foto: AFP/Geoff Caddick)
zoom-in-whitePerbesar
Aaron Ramsey bersama Timnas Wales. (Foto: AFP/Geoff Caddick)

Segalanya memang masih bisa terjadi, tetapi Aaron Ramsey kemungkinan besar akan menjadi pemain Juventus pada musim panas 2019 mendatang. Perbincangan soal kepindahan ini sudah begitu ramai. Bahkan, pakar transfer Fabrizio Romano sudah menyebut bahwa Ramsey telah menyetujui sodoran kontrak dari Juventus yang bakal membuatnya jadi pemain dengan gaji termahal kedua setelah Cristiano Ronaldo.

Pertanyaannya sekarang, apakah Ramsey sosok yang pas untuk Juventus?

Dalam kolomnya di The Guardian, Amy Lawrence mendeskripsikan Ramsey sebagai pemain yang 'berkomitmen sepenuhnya terhadap seni bersepak bola demi seni itu sendiri'. Di atas lapangan, Ramsey selalu berusaha untuk menampilkan sesuatu yang umumnya tidak ditunjukkan pesepak bola lain. Apa pun bentuknya, asal itu masuk kategori seni bersepak bola, Ramsey akan melakukannya.

Meski demikian, seniman sepak bola bukan satu-satunya predikat yang bisa dilekatkan pada sosok Ramsey. Lebih dari itu, dia juga merupakan seorang pejuang. Pada 2010 silam Ramsey pernah menderita cedera patah kaki usai dihajar tekel brutal Ryan Shawcross. Hampir sembilan tahun kemudian, Ramsey nyatanya masih bisa menjadi pesepak bola papan atas.

embed from external kumparan

Arsenal pernah punya satu pemain lain yang juga mengalami patah kaki. Namanya Eduardo da Silva. Tak seperti Ramsey, striker Kroasia itu gagal mengembalikan kariernya ke trek yang benar usai cedera. Ramsey, sementara itu, berhasil karena dia memang bersedia melakukan segalanya untuk kembali ke performa terbaik, termasuk menjalani masa peminjaman bersama Nottingham Forest.

Satu predikat lain yang selama ini bercokol dalam diri Ramsey adalah inkonsistensi. Terkadang, hal ini muncul karena sesuatu yang tak bisa dia kontrol. Karena cedera, misalnya. Sejak malam dingin yang beku di Stoke itu, Ramsey memang menjadi pemain yang ringkih. Dia pun tak jarang harus masuk ruang perawatan karena tiba-tiba saja ada bagian tubuhnya yang tak bisa diajak berkompromi.

Namun, terkadang inkonsistensi itu datang karena ulahnya sendiri. Kegilaannya akan seni sepak bola, misalnya, kerap membawa Ramsey ke labirin yang menyulitkan dirinya sendiri. Lalu, ada pula tindakan sembrono seperti saat menerima kartu kuning di laga perempat final Euro 2016 menghadapi Belgia. Kartu kuning itu membuatnya absen di semifinal dan ketiadaan Ramsey berpengaruh pada penampilan Wales yang akkhirnya ditekuk Portugal.

Terakhir, Ramsey juga punya predikat sebagai sosok penentu. Jika tak percaya, tengok saja keberhasilan Arsenal menjuarai Piala FA edisi 2014 dan dan 2017. Dua gelar itu takkan bisa disabet The Gunners tanpa Ramsey karena pemain 28 tahun itulah yang jadi pencetak gol kemenangan.

Empat predikat tadilah yang akan dibawa Ramsey ke Juventus. Tak semuanya bagus, tetapi demikianlah adanya. Ramsey adalah pemain yang berkualitas, berpengalaman, dan punya aura kebintangan. Namun, tetap saja dia bukan sosok sempurna.

Ramsey menangkan Arsenal. (Foto: Reuters/John Sibley)
zoom-in-whitePerbesar
Ramsey menangkan Arsenal. (Foto: Reuters/John Sibley)

Sama halnya dengan Ramsey, lini tengah Juventus pun belum sempurna. Di sana memang bercokol nama-nama tenar seperti Miralem Pjanic, Blaise Matuidi, Sami Khedira, Emre Can, dan Rodrigo Bentancur. Akan tetapi, nama-nama itu tak semuanya bisa mengemban peran yang dibutuhkan untuk membentuk satu lini tengah yang komplet.

Pjanic dan Matuidi punya peran yang jelas. Pjanic adalah konduktor permainan, sementara Matuidi adalah seorang petarung. Jika Pjanic mengontrol permainan lewat umpan-umpannya di kedalaman, maka Matuidi adalah sosok yang melakukan pekerjaan kotor. Dengan daya jelajah yang tinggi, pemain asal Prancis itu memastikan agar Pjanic bisa menunaikan tugasnya dengan leluasa.

Juventus saat ini bermain dengan pakem tiga gelandang. Dengan pakem itu, Juventus masih membutuhkan satu pemain yang bisa membawa bola sampai ke depan dengan baik. Mereka perlu seorang gelandang yang bisa menggiring bola, bisa melakukan kombinasi satu dua, serta bisa menyokong para striker jika diperlukan.

Selama ini Khedira, Emre Can, dan Bentancur adalah tiga pemain yang sudah dijajal untuk mengemban peran carrier (pembawa bola) tersebut. Pada dasarnya, si carrier ini adalah perpaduan pemain nomor delapan dan sepuluh. Di atas kertas, Ramsey punya kapabilitas untuk melakukan hal tersebut. Di Arsenal, Ramsey sendiri sudah berulang kali mengemban tugas itu.

Maka, pertanyaan apakah Ramsey bakal cocok dengan Juventus atau tidak secara taktikal sudah terjawab. Ramsey adalah pemain dengan gaya bermain yang belum dimiliki oleh Juventus. Akan tetapi, masuknya Ramsey ini berpotensi menimbulkan persoalan baru. Salah satunya adalah tentang penggunaan Paulo Dybala.

Paulo Dybala dengan cat merah di wajahnya. (Foto: AFP/Miguel Medina)
zoom-in-whitePerbesar
Paulo Dybala dengan cat merah di wajahnya. (Foto: AFP/Miguel Medina)

Jika Ramsey bergabung, maka Dybala akan benar-benar tersingkir dari area sentral permainan. Selama ini pun pemain asal Argentina itu sudah kerap dimainkan sebagai penyerang sayap kanan. Namun, pada praktiknya, Dybala kerapkali bergerak masuk ke tengah untuk mengemban peran pemain nomor sepuluh.

Masuknya Ramsey sebenarnya bisa meringankan tugas Dybala. Namun, di sisi lain ini juga menunjukkan bahwa Juventus tidak sepenuhnya yakin akan kapabilitas Dybala sebagai pemain nomor sepuluh. Jika Dybala tergusur ke sisi kanan sepenuhnya, ini bisa membuat potensi eks pemain Palermo itu terkebiri sebagai pelayan bagi Mario Mandzukic serta Cristiano Ronaldo. Padahal, sejatinya keunggulan utama Dybala adalah caranya mengeksekusi peluang.

Selain perkara Dybala, masuknya Ramsey juga sebenarnya tak bisa menjadi jaminan masalah lini tengah Juventus bakal rampung begitu saja. Sejarah inkonsistensi Ramsey adalah salah satu penyebabnya. Selain itu, tak banyak pemain Britania yang bisa sukses di Italia, khususnya Juventus.

Pemain Wales terakhir yang membela Juventus adalah Ian Rush. Ketika itu Rush gagal beradaptasi sehingga akhirnya memilih mudik ke Liverpool. Namun, Rush memang bukan satu-satunya pemain Wales yang pernah berkostum hitam-putih. Beberapa dasawarsa sebelumnya ada John Charles yang akhirnya jadi legenda 'Si Nyonya Tua'.

Lalu, bicara soal pemain Britania, beberapa tahun sebelum Rush tiba Juventus pernah memiliki gelandang serang kelas dunia bernama Liam Brady. Satu-satunya hal yang menghalangi Brady jadi legenda besar Juventus adalah kedatangan Michel Platini. Artinya, Turin bukan neraka bagi pemain asal Britania.

video youtube embed

Itulah mengapa, mantan pelatih Timnas Wales, John Benjamin Toshack, beranggapan bahwa kepindahan ke Juventus adalah langkah tepat untuk Ramsey. Bermain bersama Ronaldo, menurut Toshack, adalah hal yang tak boleh dilewatkan oleh Ramsey. Dengan begini, Ramsey akan belajar hingga akhirnya bisa mencapai puncak permainan.

Namun, Toshack juga mewanti-wanti agar apabila Ramsey jadi pindah ke Juventus, adaptasi harus jadi fokus utamanya. Secara khusus, Toshack menyinggung keengganan Gareth Bale untuk belajar bahasa Spanyol sebagai contoh yang tak boleh ditiru Ramsey.

Secara teknis, Ramsey memang pas dengan kebutuhan Juventus. Tinggal bagaimana kemudian Ramsey mencocokkan diri dengan kultur bermain serta kultur hidup di Italia. Untuk itu, mantan pemain Cardiff City ini bisa belajar banyak dari Wojciech Szczesny, eks pemain Arsenal lain yang sukses membangun karier di Negeri Piza bersama Juventus.

Pada intinya, transfer Ramsey ke Juventus tidak akan merugikan siapa pun. Juventus sendiri tak cuma menghargai pemain dengan kualitas teknik mumpuni, tetapi juga pemain dengana daya juang yang hebat. Dua hal ini dimiliki oleh Ramsey.

Namun, untuk mencapai sebuah sinergi yang pas, kedua belah pihak memang tetap harus melakukan upaya terbaiknya. Juventus harus mengakomodasi Ramsey (kalau bisa tanpa mengorbankan Paulo Dybala), sementara Ramsey harus beradaptasi sepenuhnya dengan situasi dan budaya La Vecchia Signora.