Bersua Achsanul Qosasi, Mempreteli Transfer Gila Madura United

2002. PSPS Pekanbaru sempat bikin heboh. Bagaimana tidak, pemain bintang berlabel Timnas Indonesia dikumpulkan jadi satu. Hendro Kartiko, Bima Sakti, dan Kurniawan Dwi Yulianto diboyong untuk bertempur di Liga Indonesia. Belum lagi nama-nama lain semacam Saktiawan Sinaga, Ricky Nelson, Eko Purjianto, dan Lilik Suheri.
Tak ayal, dengan materi bertabur bintang, PSPS yang kala itu mendapat julukan sebagai Dream Team pun diunggulkan sebagai juara. Akan tetapi, takdir berkata lain. Mereka gagal menembus 8 besar usai hanya finis di urutan kelima klasemen Wilayah Barat.
Setahun berselang, 'Askar Bertuah' bahkan semakin agresif mendatangkan nama-nama beken. Mulai dari Bejo Sugiantoro, Uston Nawawi, Aples Tecuari, Erol Iba, hingga Carlos de Melo. Akan tetapi, hasil akhir bahkan lebih buruk lagi ketimbang musim lalu setelah hanya menempati peringkat kesembilan klasemen akhir Wilayah Barat.
Kini, setelah lama tenggelam, julukan 'Tim Impian' kembali merekah di kancah sepak bola nasional. Dan, julukan itu tampaknya layak disematkan kepada Madura United. Bahkan, kebijakan transfer mereka jauh lebih gila dibandingkan PSPS.
Bagaimana tidak, pemain berlabel Timnas Indonesia didatangkan seperti Andik Vermansah, Muhammad Ridho, Zulfiandi, dan Syahrian Abimanyu. Belum lagi pemain asing jempolan semacam Jaimerson Xavier dan Aleksander Rakic.
Nama-nama itu akan berkolaborasi dengan muka lama yang punya kualitas mumpuni. Sebut saja Fachrudin Aryanto, Zah Rahan, Slamet Nurcahyo, dan Greg Nwokolo. Jadilah, kekuatan 'Sappe Kerrab' amat menakutkan bagi tim lawan.
Kebijakan mendatangkan sederet pemain bintang tentunya menarik untuk ditelisik lebih dalam. Untuk itu, kumparanBOLA menemui Presiden Madura United, Achsanul Qosasi, di Jakarta. Berikut petikan wawancara dengan pria yang juga menjabat sebagai Anggota III Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI itu.
Transfer Madura United begitu gencar, bagaimana cerita perencanaan transfer musim ini?
Pengalaman dalam dua musim, Madura United selalu turun pada putaran kedua. Kami kemudian menganalisis dengan statistik. Ternyata ditemukan fakta tentang faktor usia pemain. Kedua, semangat pemain semakin turun karena kejenuhan. Artinya, harus ada variasi. Begitu putaran kedua kemarin (Liga 1 2018) ada penurunan lagi, saya minta manajemen mencari solusi dengan mencari pemain bagus dan masih muda. Negosiasi pun dilakukan.
Orang pasti memandang kalau kami langsung negosiasi begitu musim selesai. Sebetulnya tidak. Kalau kami berebut pemain setelah kompetisi selesai, harganya selalu naik dan belum tentu dapat. Setelah diskusi, ditemukanlah solusi. Kami melihat perjanjian dalam kontrak pemain. Ada bunyi begini: tiga bulan sebelum kontrak habis, pemain harus dipastikan apakah bertahan atau dilepas. Lalu, saya mengutus Haruna Soemitro (Manajer Madura United) untuk mengejar pemain incaran dua bulan sebelum kontrak mereka habis.
Kesannya Madura United gencar dalam berburu pemain. Padahal, sebetulnya tidak. Kami sudah mendesain siapa saja pemain incaran sejak awal musim 2018. Kami tak ingin masalah lama terjadi lagi pada musim 2019.
Bagaimana pemain bintang yang saat ini bergabung bisa didapatkan?
Saya menyukai Zulfiandi. Dia sudah lama kami kejar saat tampil di timnas saat bermain di Singapura pada Piala AFF 2018. Dia sudah setuju di sana.
Aleksandar Rakic juga kami incar. Waktu PS Tira bertandang ke tempat kami menjelang musim selesai, dia kami rayu dan akhirnya mau. Waktu itu memang di peringkat tiga pencetak gol terbanyak. Namun, saya suka caranya bermain, tidak cengeng, jarang mendapat kartu, pemain kidal, dan ganteng.
Berikutnya kami mengincar Marckho Sandy Merauje. Dia sebetulnya sudah awal tahun lalu kami incar. Saya cuma tidak enak dengan Sriwijaya FC. Namun, ada gentlemen agreement kalau dia akan ke Madura United musim 2019.
Kami juga tertarik Muhammad Ridho. Tadinya untuk kiper mau Abdul Rohim (PSMS Medan). Namun, harga Rohim sama dengan Ridho. Saya pikir untuk level Ridho yang dipanggil timnas menjadi alasan tak memilih Rohim. Ia juga sudah sepakat sebelum musim selesai.
Satu lagi ialah Jaimerson da Silva. Alasan kami mendekati Jaime ialah statistik kebobolan. Kami banyak mengalami kebobolan pada menit 75-90. Fabiano Beltrame sudah tua. Jadi, kami harus mencari tandem Fachrudin Wahyudi. Kalau orang ditanya siapa stoper hebat di kompetisi Indonesia, jawabannya pasti Jaime. Kemudian kami mencari nama lain untuk memperkuat lini belakang. Maka, kami juga merekrut Fandry Imbiri dari Persebaya.
Enam pemain itu menjadi incaran utama kami sejak musim 2018. Jadi, semuanya tidak tiba-tiba setelah musim selesai. Bahkan, persetujuannya sudah selesai jauh-jauh hari sebelum musim 2018 selesai.
Sekarang begini, kami menyusun kebutuhan tim melihat starting XI. Mulai dari kiper, kami memang punya Satria Tama, tapi kami butuh yang lebih berpengalaman. Sementara, ke bek kanan, orang pasti tahu Marckho. Bek kiri semua orang sepakat kualitas Rezaldi Hehanusa. Namun, kami tak mungkin merekrut dia. Kami masih ada Andik Rendika Rama atau Alfath Fathier.
Stoper pasti orang menyebut Jaime dan Victor Igbonefo. Kalau dari perbandingan umur, mending Jaime. Gelandang sudah pasti Zulfiandi. Saya bilang ke manajer untuk mengejar dia dua bulan sebelum musim selesai. Pasalnya, begitu Sriwijaya FC degradasi, pasti harga dia mahal. Soalnya, kalau Sriwijaya FC tidak degradasi, pasti Zulfiandi tetap bertahan. Zulfiandi akan ditemani Zah Rahan.
Penyerang sebetulnya kami komplet. Ada Greg dan Bayu Gatra. Incarannya makanya mengarah ke Rakic karena kami tak punya striker tengah. Semua pemain incaran itu sudah selesai sebetulnya di putaran kedua musim kemarin. Jadi, kami tak perlu panik melihat bursa transfer.
Bagaimana dengan Andik dan Beto?
Awalnya kami berpikir masih punya Bayu Gatra. Tidak kepikiran Andik Vermansah saat itu. Dalam perjalannya, Andik ibarat berkah buat kami. Andik sebetulnya kami datangkan dengan “harga marah”. Saya bisa katakan Andik murah. Harganya turun dari klub terakhirnya di Malaysia. Nilainya turun hampir sepertiga.
Andik tentu bukan incaran kami. Ia kami anggap sudah milik Persebaya. Saya bilang ke Haruna, jangan asal ambil Andik. Harus ada izin dari Persebaya dulu.
Waktu itu, Haruna diberi waktu dua minggu oleh Azrul Ananda (Presiden Persebaya). Ternyata, dalam dua minggu itu Andik terkatung-katung. Ia sama sekali tak mendapat kabar dari Persebaya. Andik lalu marah. Kebetulan, Andik itu pemainnya Haruna waktu di PON Jawa Timur.
Namun, saya tegaskan, kalau Andik memang mau ke Madura United, ia harus dibayar dengan harga pantas. Dia punya kualitas, apalagi Andik dicintai suporter Persebaya. Saya tentu tak ingin ada konflik.
Andik yang sudah telanjur marah kemudian meminta main di Madura United. Haruna sempat menghubungi Azrul lagi untuk memastikan keseriusan merekrut Andik. Merasa tak dihargai Persebaya, Andik kemudian memilih ke Madura United. Kami menjelaskan tak punya bujet sebesar tawaran dari klub terakhirnya di Malaysia. Eh, dia malah setuju. Berarti ini bukan soal uang. Itu yang dinamakan harga marah.
Kalau cerita Alberto ‘Beto’ Goncalves itu lucu. Ia waktu itu ingin pulang ke Brasil. Ia membutuhkan uang saku. Haruna yang waktu itu membawa uang tunai untuk DP pemain bertemu Beto di bandara.
Ia sempat menelepon saya untuk meminta pertimbangan mengambil Beto. Kami berpikir sudah punya Rakic. Bahkan Greg juga bisa digeser ke tengah kalau Rakic absen. Kami di sayap punya stok melimpah. Masih ada Engelberd Sani atau menggeser Alfath Fathier.
Saya bilang ke Beto, takunya dia akan menjadi cadangan Rakic nanti. Namun, ternyata dia tak masalah. Begitu saya lihat mainnya waktu di Piala Indonesia duet dengan Rakic, luar biasa. Saya bilang ke Haruna, jangan jadi dijual. Jadi, kehadiran Beto membuat kami punya banyak opsi formasi.
Dengan melihat skuat saat ini, apa target Madura United di Piala Indonesia dan Liga 1 2019?
Kalau dilihat dari pemain yang kami rekrut, tentunya target juara. Musim depan kami harus main di Asia. Jaime dan Beto biar belajar main di Asia dulu bareng Persija. Musim depan baru sama Madura United.
Seperti apa tuntutan suporter?
Suporter pasti ingin juara. Untuk hitungan klub baru, jumlah suporter kami terbilang banyak. Apalagi kalau pertandingan besar, suporter pasti membeludak. Kami terbiasa ada budaya diskusi antara klub dan suporter. Pemain-pemain incaran kami juga atas dasar permintaan suporter.
Dengan dana besar untuk tranfser, mengapa tidak diinvestasikan untuk membangun pusat latihan atau sewa stadion jangka panjang?
Jangan salah. Kami sudah siapkan sendiri bujet untuk membangun pusat latihan dan sewa stadion. Kami sudah memikirkan hal itu. Sewa Stadion Ratu Pemelingan sudah jangka panjang, setiap 5 tahun diperbarui. Bahkan, mereknya di stadion sudah Madura United.
Untuk usia muda, kami sudah punya pusat latihan di daerah Pamekasan. Memang kami memakai lapangan pemerintah daerah. Namun, itu sudah representatif. Kami juga sudah punya tanah untuk membangun mes. Semua kami lakukan pelan-pelan, tidak bisa sekaligus.
Madura United dibantu tokoh Madura yang gila bola. Kadang, mereka menyumbang untuk pembangunan dan bonus pemain.
Mendatangkan banyak pemain bintang berisiko tinggi soal ego pemain. Bagaimana mengatasinya?
Kami sudah membicarakan masalah itu dengan pelatih. Dejan Antonic akan mengkaji hal tersebut. Mau tidak mau itu tugas pelatih dan manajer. Pemain bintang punya sikap bagus mestinya tak ada ego pribadi. Semua pemain yang kami datangkan memang sudah diamati. Bagaimana kemampuan hubungan personal dengan rekan di lapangan maupun di luar lapangan. Rata-rata semua pemain kami bagus. Justru itu membuat kami kondusif.
