Kumparan Logo

Bhayangkara FC Murka, Tuding Wasit Lawan PSM Sudah Dipesan

kumparanBOLAverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pesepak bola Bhayangkara FC Dendy Sulistyawan melakukan selebrasi bersama rekannya. Foto: Antara/Wahyu Putro A
zoom-in-whitePerbesar
Pesepak bola Bhayangkara FC Dendy Sulistyawan melakukan selebrasi bersama rekannya. Foto: Antara/Wahyu Putro A

PSM Makassar menyudahi babak 8 besar Piala Indonesia 2018 dengan hasil gemilang. Menjamu Bhayangkara FC di Stadion Andi Mattalatta, Jumat (3/5/2019), 'Pasukan Ramang' menang dengan skor 2-0.

Kendati demikian, kemenangan anak asuh Darije Kalezic sempat ternoda. Musababnya, tak lepas dari putusan wasit Nusur Fadilah dalam salah satu momen di laga sengit tersebut.

Semua bermula saat laga memasuki menit ke-27. Bhayangkara FC yang mendapat situasi bola mati di depan kotak 16 PSM sejatinya sukses mamecah angka lewat eksekusi Anderson Salles.

Bola hasil sepakan bek berkebangsaan Brasil itu sempat mengenai mistar gawang sebelum akhirnya masuk melewati garis. Rivky Mokodompit yang menjadi pemain terakhir bahkan tak mampu berkutik merespons tendangan Salles.

Alih-alih mengesahkan gol, Nusur malah bergeming. Bola sepakan Salles dianggap tak gol meski dari tayangan ulang terlihat bola sudah sepenuhnya masuk.

Manajer Bhayangkara FC, AKBP Sumardji. Foto: Sandy Firdaus/kumparan

Pertandingan pun tetap berjalan kendati hampir seluruh pemain Bhayangkara FC mengajukan protes. Dan, pada saat yang bersamaan, pemain PSM justru melakukan serangan balik yang berujung kepada gol yang diciptakan oleh M. Rahmat.

Atas kejadian itu, manajer Bhayangkara FC, Sumardji, begitu murka. Ia bahkan menuding sang pengadil sudah memimpin sesuai 'pesanan'.

"Ini pertandingan yang dimenangkan oleh wasit. Wasit ini memimpin pertandingan tidak melihat fairplay, tapi lihat pesanan dari seseorang. Ini pasti ada pesanan, tapi saya tidak tahu itu siapa itu yang pesan," ujar Sumardji selepas mendampingi laga.

"Kalau wasit bejat tidak ada integritas gini kapan sepak bola baik. Kasihan anak-anak (pemain), latihan capek setiap hari, klub sudah bayar gaji, tapi masih seperti ini. Mending kami bayar wasit saja, lalu main jelek, 'kan sudah bayar wasit," lanjutnya.

Sumardji mengatakan pihaknya bisa melihat bahwa sepakan Salles merupakan gol. Ia juga menyayangkan keputusan asisten wasit yang tidak bisa melihat bola tersebut telah melewati garis gawang.

instagram embed

"Dari jauh kelihatan itu gol, benar murni gol. Soalnya dari jauh kelihatan jalanya goyang. Demikian ini sepertinya asisten wasit dan wasit tengah sudah kerja sama untuk memenangkan salah satu pihak. Pasti ini ada pesan," katanya.

"Wasit ini tidak boleh lagi di Liga 1. Kalau dibiarkan tidak akan naik sepak bola Indonesia. Psikologis pemain jadi ngawur. Ini kelemahan sepakbola kita," ucap Sumardji.

Atas hasil ini, Bhayangkara harus memupus asa mereka tampil ke babak semi final Piala Indonesia. Pasalnya, meski menang di leg I ketika menjamu PSM di Stadion PTIK pada 27 April lalu, dengan skor 4-2, The Guardian kalah agresivitas gol tandang.