Bibiana Steinhaus dan Perlawanan yang Sehormat-hormatnya

"Aku tidak menjadi wasit untuk melawan ketidaksetaraan gender. Namun demikian, ini adalah hal penting untuk sebagian orang di sekelilingku dan oleh karenanya, aku harus melakukan itu," kata Bibiana Steinhaus pada sebuah wawancara bulan Mei lalu. "Aku cuma melakukan apa yang aku cintai dan itu adalah mewasiti pertandingan sepak bola."
Bibiana Steinhaus boleh saja berkata seperti itu. Akan tetapi, persepsi publik sudah telanjur terbentuk. Biar bagaimana pun, dia adalah perempuan yang fenomenal.
Minggu (10/9) lalu, Steinhaus, 38 tahun, menjadi wasit perempuan pertama yang diberi kepercayaan untuk mewasiti pertandingan Bundesliga 1 Jerman dalam laga yang mempertemukan Hertha BSC dengan Werder Bremen. Di saat yang bersamaan, dia juga menjadi wasit perempuan pertama di lima liga top Eropa dan itu, terlepas dari sanggahan Steinhaus, adalah sebuah kemenangan untuk perlawanan terhadap patriarki yang begitu kuat di sepak bola.
Steinhaus bukannya tidak tahu itu karena dia pernah mengalaminya sendiri. Pada 2015 lalu, di sebuah pertandingan Bundesliga 2, Steinhaus mengusir keluar pemain Fortuna Duesseldorf, Karim Demirbay, yang kini memperkuat Hoffenheim di Bundesliga 1. Kesal karena dikartu merah, Demirbay kemudian meneriakkan kata-kata seksis yang intinya berbunyi "perempuan tidak punya tempat di sepak bola".
Demirbay, selepas laga itu, memang kemudian sudah menelepon Steinhaus untuk meminta maaf dan sebagai hukuman, dia diperintahkan untuk mewasiti laga sepak bola perempuan level junior. Namun, masalah tidak selesai di situ karena menurut Steinhaus, hukuman itu tidak pas. "Pesan macam apa yang mau dikirimkan kepada publik? Kok seenaknya saja semua orang bisa mewasiti pertandingan," kata Steinhaus kala itu.
Insiden dengan Demirbay itu, bagi Steinhaus, bukan yang pertama dan terakhir. Sebelumnya, pada Oktober 2010, Peter Niemeyer yang saat itu berkostum Hertha secara tidak sengaja menyentuh payudaranya. Dia sebenarnya tahu bahwa Niemeyer tidak bermaksud melakukan itu dan kemudian justru tertawa bersama sang pemain.
Namun dasar dunia penuh testosteron, insiden itu kemudian diberitakan secara besar-besaran oleh media-media (baca: tabloid-tabloid) Jerman. Malah, dalam tahun-tahun ke depannya, rekaman video itu juga dikorup menjadi meme yang mempromosikan kejantanan dan superioritas.
Kemudian, pada 2014 lalu, ketika dia menjadi ofisial keempat di sebuah pertandingan Bundesliga 1 antara Bayern Muenchen dan Borussia Moenchengladbach, Steinhaus kembali menghadapi kebusukan sepak bola. Namun, alih-alih berhadapan dengan sosok-sosok minor seperti Demirbay dan Niemeyer, kali itu lawannya adalah Pep Guardiola.
Di situ, Guardiola tampak kesal dengan apa yang terjadi di lapangan dan dia menumpahkan kekesalannya kepada Steinhaus. Dengan gerakan menggurui, Guardiola coba merangkul Steinhaus dan "menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi". Akan tetapi, upaya Guardiola itu sia-sia karena Steinhaus tidak mengacuhkannya dan tetap fokus mengawasi pertandingan.
Insiden terakhir yang dialami Steinhaus terjadi pada bulan Agustus lalu dalam pertandingan DFB Pokal antara (lagi-lagi) Bayern Muenchen dan Chemnitzer. Bayern menang 5-0 pada laga itu dan itu tidaklah mengejutkan. Akan tetapi, di laga yang seharusnya minim arti itu, Steinhaus kembali "mencuri" perhatian setelah dia dikerjai Franck Ribery.
Dalam situasi tendangan bebas, Ribery yang sedang bersiap mengeksekusi bola, menunduk dan mencopot tali sepatu Steinhaus. Sebuah aksi yang kemudian menimbulkan perdebatan: Apakah Ribery berani berbuat seperti itu karena Steinhaus adalah seorang perempuan?
Namun, Steinhaus yang sebenarnya berhak untuk memberi kartu memutuskan untuk tidak menggubris Ribery. Tanpa banyak basa-basi, Steinhaus meneruskan pertandingan dan alhasil, tidak ada kontroversi yang kemudian menyeruak dari laga itu.
Terlepas dari empat insiden yang pernah dialaminya itu, karier Bibiana Steinhaus sebagai pengadil tidak pernah menemui hambatan berarti. Steinhaus yang ayahnya dulu juga seorang wasit ini sudah sejak kecil memang ingin menjadi wasit, terutama ketika dia sadar bahwa dia tidak cukup bagus untuk menjadi pemain.
Setelah sempat menjadi pemain junior di klub lokal Bad Lauterberg, Steinhaus memutuskan untuk meninggalkan dunia pemain dan mengejar karier di tempat lain, yakni di satuan kepolisian. Di saat yang bersamaan, Steinhaus juga mengejar karier lain di sepak bola sebagai wasit.
Steinhaus mengawali karier sebagai pengadil sebagai wasit Bundesliga perempuan dan akhirnya, dipercaya untuk memimpin pertandinga laki-laki saat usianya baru 20 tahun. 18 tahun kemudian, Bibiana Steinhaus telah berhasil menjadi wasit Bundesliga 1 dan sebagai polisi, pangkatnya pun sudah tinggi di mana kini, dia menjabat sebagai inspektur kepala.
Karier perwasitan Steinhaus ini kemudian juga diakui di dunia internasional. Pada 2011 lalu, dia dipercaya untuk memimpin pertandingan final Piala Dunia Perempuan dan musim lalu, dia menjadi wasit di laga final Liga Champions Perempuan. Tak lama kemudian, datanglah telepon dari Lutz Michael Froehlich, kepala wasit di Federasi Sepak Bola Jerman. Di situ, Froehlich mengabarkan bahwa musim 2017/18 ini, Steinhaus akan menjadi wasit utama di Bundesliga 1.

"Aku setengah tidak percaya, tetapi juga lega, bahagia, sekaligus penasaran. Benar-benar campur aduk rasanya," kata Steinhaus setelah kabar itu datang.
Steinhaus bukan satu-satunya orang yang gembira dengan kabar ini. Presiden DFB, Reinhard Grindel, kala itu juga berkata bahwa dia sudah mengikuti kiprah Steinhaus selama beberapa tahun dan turut berbahagia dengan kesuksesan itu.
"Saya berikan pujian kepada komite wasit yang keputusannya menunjukkan bahwa jika kamu bekerja keras dan hasil pekerjaanmu bagus, maka jenis kelamin tidak penting lagi. Saya berharap ini bisa menjadi insentif bagi banyak perempuan muda di negeri ini supaya bisa meniru dirinya," ucap Grindel.
Bagi perempuan di sepak bola, apa yang dicapai Steinhaus ini memang benar-benar merupakan sebuah keberhasilan. Memang benar bahwa Steinhaus berkata bahwa dia tidak menjadi wasit untuk melawan ketidaksetaraan gender. Namun, secara tidak langsung, perkataannya itu adalah poin utama dari perlawanan itu sendiri.
Steinhaus-Steinhaus Lainnya

Fenomenal, jelas, tetapi Bibiana Steinhaus bukan satu-satunya perempuan yang terjun langsung di sepak bola laki-laki. Di Liga Inggris, Sian Massey yang lebih muda tujuh tahun dari Steinhaus, juga merupakan anggota korps baju hitam. Nama Massey bahkan sudah lebih dulu mencuat dibanding Steinhaus meski kontroversi juga menjadi latar belakang.
Pada 2011 lalu, pada sebuah pertandingan Premier League antara Liverpool dan Wolverhampton Wanderers, Andy Gray dan Richard Keys dari Sky Sports melontarkan candaan seksis yang menyebut Massey tidak paham aturan offside. Gray dan Keys sebenarnya bermaksud untuk melontarkan candaan itu secara sembunyi-sembunyi tetapi mereka tidak sadar bahwa kamera masih merekam obrolan mereka itu di studio.
Gray dan Keys pun akhirnya dipecat. Sementara itu, Massey sempat "disembunyikan" oleh komite wasit sebelum akhirnya dipercaya lagi untuk menjadi asisten wasit pada bulan Februari 2012. Kala itu, dia membantu Howard Webb, yang kebetulan merupakan kekasih Bibiana Steinhaus, dalam laga antara Blackpool dan Aston Villa.

Sebelum Massey, sepak bola Inggris sebenarnya sudah memiliki wasit perempuan dalam diri Wendy Toms dan Amy Fearn. Toms adalah pelopornya di mana dia merupakan asisten wasit Premier League perempuan pertama. Sementara itu, Fearn adalah wasit perempuan pertama di Football League.
Selain dari korps baju hitam, di Italia sana ada seorang perempuan yang dipercaya untuk melatih sebuah tim sepak bola laki-laki. Perempuan yang dimaksud adalah Patrizia Panico, pelatih Tim Nasional Italia U-16. Legenda Timnas Italia ini adalah perempuan pertama yang bisa mencapai posisi itu.
Laga pertama Panico yang pensiun sebagai pemain di usia 42 tahun adalah sebuah laga persahabatan dengan Jerman U-16. Kalah 1-4 di pertandingan pertama, anak-anak asuh Panico membalas dengan kemenangan 3-2 di pertemuan berikutnya.
Panico sendiri, seperti halnya Steinhaus, tidak pernah menganggap bahwa apa yang dicapainya itu karena dia adalah seorang perempuan. Meski begitu, dia tidak menampik jika masih banyak tembok yang harus diruntuhkan supaya kesetaraan gender bisa benar-benar tercapai.

Lalu, bagaimana dengan di Indonesia?
Tentunya, ini tidak sama karena dia bukanlah orang lapangan seperti Steinhaus, Massey, atau Panico, tetapi Ratu Tisha Destria adalah sebuah terobosan bagi dunia sepak bola Indonesia. Masalahnya, Indonesia bukanlah negara yang dikenal karena kiprah para perempuan di sepak bola dan keberhasilan Tisha menjadi sekretaris jenderal PSSI, terlepas dari kontroversi yang sempat menghinggapi, adalah sebuah angin segar.
Apakah nantinya Tisha bakal cukup kompeten untuk menciptakan perubahan di sepak bola Indonesia, itu masih harus ditunggu lagi. Namun, CV alumnus Institut Teknologi Bandung itu sebenarnya cukup menterang di mana sebelumnya, dia mendirikan perusahaan penyedia statistik olahraga LabBola dan menjadi direktur kompetisi di ajang Indonesia Soccer Championship (ISC).
