Kumparan Logo

Bukan Modric, tapi Perisic Pemain yang Paling Dinamis di Piala Dunia

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perisic lebih dinamis dari Modric. (Foto: Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Perisic lebih dinamis dari Modric. (Foto: Reuters)

Kroasia mengakhiri Piala Dunia 2018 dengan ajaib: Vatreni berhasil menembus partai puncak. Meski akhirnya takluk dari Prancis 2-4, menjadi runner-up sudah melebih ekspektasi. Keberhasilan mereka menjungkalkan Argentina dan Inggris pun layak diberi aplaus.

Pasukan Zlatko Dalic itu tak memiliki skuat dengan kualitas merata di tiap lini. Mereka tak cukup mampu memainkan juego de pocition ala Spanyol, bermain dominan seperti Jerman atau menyuguhkan aksi-aksi individu memukau macam Brasil.

Dalic tak punya pilihan lagi selain memaksimalkan kemampuan fisik anak asuhnya yang dibungkus dalam kolektivitas. Salah satunya dengan pressing --selain dari kemampuan Dalic yang adaptif terhadap skema lawan.

Kroasia melakukan tekanan secara masif, yang juga berdampak besar pada pertahanan lawan. Bukti paling ketara tertuang saat mereka berhasil menumbangkan Inggris 2-1 di babak semifinal.

Siapa lagi jika bukan Luka Modric dielu-elu atas keberhasilan Kroasia. Kecerdasan dan etos kerjanya luar biasa. Membangun serangan, mengikis gempuran lawan, sekaligus berkontribusi langsung atas gol Kroasia. Cukup kompleks, bukan? Itulah mengapa mantan pemain Tottenham Hotspur itu dianugerahi pemain terbaik turnamen.

Modric dan trofi penghargaan Bola Emas di Piala Dunia 2018. (Foto: REUTERS/Kai Pfaffenbach)
zoom-in-whitePerbesar
Modric dan trofi penghargaan Bola Emas di Piala Dunia 2018. (Foto: REUTERS/Kai Pfaffenbach)

Salah satu indikator untuk menakar determinasi dan etos kerja seorang pemain bisa dilihat dari seberaoa dinamis dan intens ia dalam bergerak. Tolok ukurnya yang paling ketara, ya, cakupan luas jelajah atau lebih dikenal dengan distance coverage.

Menurut FIFA, distance coverage Modric menyentuh angka 72,3 km. Akan tetapi, bukan ia yang tertinggi. Ivan Perisic-lah yang paling dinamis di Piala Dunia 2018 dengan luas jelajah 72,5 km. Sebagai perbandingan, pada Piala Dunia sebelumnya Thomas Muller menjadi yang tertinggi dengan torehan 84 km.

Secara garis besar, Modric dan Perisic diberi tuntutan yang sama: Dinamis. Bedanya, Modric dibebani tugas lebih kompleks. Seperti yang dikatakan sebelumnya jika ia diutus sebagai kreator serangan sekaligus algojo dari lini kedua.

Artinya, Modric bekerja sebagai pengirim bola, bukan berlari untuk mencari ruang kosong. Konsepsi demikian berbeda dengan Perisic yang beroperasi sebagai winger. Bukan berarti penggawa Inter Milan itu tak berkewajiban untuk menyodorkan umpan, tetapi porsi kerjanya lebih kepada penetrasi dari sisi sayap.

Total 9 kali Perisic berhasil melakukan dribel sukses ke kotak penalti lawan. Bandingkan dengan Modric yang cuma mencatatkan 4. Di satu sisi, Perisic kalah jauh dari kuantitas umpan, hanya 190 --nyaris sepertiga dari torehan Modric yang sudah melepaskan 523 umpan.

embed from external kumparan

Pressing yang dicanangkan Dalic memaksa trio lini depannya --termasuk Perisic-- untuk terus bergerak, menekan lawan hingga kehilangan penguasaan bola. Nyatanya ia berhasil mencatatkan 1,3 tekel per laga. Jumlah yang jauh lebih banyak dari duo bek sentral Kroasia, Dejan Lovren dan Domagoj Vida.

Selain itu, eksistensi Mario Mandzukic juga jadi alasan mengapa Perisic begitu dinamis. Kelebihan penyerang berusia 32 tahun itu untuk bermain melebar memperbesar kemungkinan Perisic untuk merangsek ke jantung pertahanan lawan. Dengan kata lain, ia juga tetap aktif berada di area sentral kendati turun sebagai winger dalam format 4-2-3-1 atau 4-1-4-1. Itulah mengapa ia juga berhasil menorehkan 3 gol dan 1 assist sepanjang turnamen, setara dengan Mandzukic.