Dari Nesta hingga Crespo, Pilar-pilar Lazio yang Berpaling ke Milan

Senin (29/1/2018) dini hari WIB, AC Milan akan bersua Lazio pada giornata 22 Serie A. Pertemuan keduanya akan menjadi spesial bagi Lucas Biglia, mantan kapten Lazio yang kini berseragam Milan.
Tentu saja Biglia bukan pemain pertama yang pernah membela keduanya. Agar tidak penasaran, kami merangkum nama-nama yang pernah menghiasi jersey mereka, baik itu Lazio maupun Milan. Silakan.
Alesandro Nesta
Alesandro Nesta menempuh akademi Lazio saat usianya belum genap 20 tahun. Sosok ayah yang merupakan penggemar Biancocelesti membuat klub yang bermarkas di Olimpico itu amat identik dengannya.
Bukan cuma sebatas itu saja, Nesta juga berhasil membawa "Si Elang Biru" terbang jauh ke atas. Tak tanggung-tanggung, pemain yang mengakhiri kariernya 2014 lalu itu sukses memboyong trofi Piala Winners dan Piala Super Eropa selain trofi-trofi domestik seperti masing-masing sepasang Scudetto dan titel Coppa Italia.
Adalah krisis keuangan yang kemudian memaksa Lazio untuk melego Alesandro Nesta ke Milan dengan mahar 30 juta euro. Namun, di satu sisi, di sanalah dia berhasil mengembangkan kariernya.
Betapa tidak, Milan kala itu diperkuat bek-bek kelas dunia macam Paolo Maldini, Jaap Stam, dan juga Cafu. Bisa dibilang saat itu adalah salah satu lini belakang yang pernah dimiliki Milan. Buktinya --bersama Maldini-- Nesta pernah masuk dalam skuat terbaik FIFA di 2005. Sebuah prestasi yang tak didapatnya bersama Lazio.
Sementara dari segi prestasi, Nesta sukses merengkuh sepuluh gelar juara kala berseragam Diavolo. Termasuk masing-masing dua kali menjuarai Serie A dan Liga Champions. Meski sempat mengalami cedera parah di periode 2008/2009, Nesta berhasil bangkit dan kembali menjadi pilihan utama dalam dua edisi ke depan.
Juli 2012 Nesta mengakhiri pengabdiannya untuk Milan dan memilih bermain di Montreal Impact yang merupakan kontestan Major League Soccer (MLS).
Christian Vieri
Karier Christian Vieri tergolong unik. Jika beberapa pemain Italia cenderung berpindah-pindah klub di Serie A, permain berjuluk Bobo itu melancong ke Spanyol untuk membela Atletico Madrid setelah sempat bermain untuk Juventus.
Kendati hanya semusim, Vieri sukses mengemas 24 gol yang mengantarnya menjadi topskorer La Liga edisi 1997/1998.
Penampilan apiknya itu membuat Lazio berani membayarnya dengan banderol 25 juta euro. Keputusan yang jitu. Vieri sukses menggondol dua trofi ke Olimpico, yakini Supercoppa Italia dan Piala Winners.
Namun, hanya itu yang bisa dipersembahkan Vieri. Semusim berselang pemain kelahiran Bologna itu hengkang ke Inter Milan. Usai menghabiskan lima musim bersama Nerrazzurri, Veri kemudian menyeberang ke Milan.
Namun, tuahnya telah meredup seiring usianya yang sudah menginjak 32 tahun. Satu golnya ke gawang Empoli jadi satu-satunya lesakkannya bersama Milan. Singkat cerita, mereka kemudian melepasnya ke AS Monaco di pertengahan musim 2005/2006.

Jaap Stam
Sebagai bagian dari skuat Manchester United yang berhasil meraih treble edisi 1998/1999, Jaap Stam adalah sosok bek tengah yang kokoh. Di satu sisi, kemampuannya untuk bermain melebar membuatnya juga bisa diposisikan sebagai full-back.
Sayang, penampilan tak begitu spesial bersama Lazio --yang perlahan ditinggal para pemain bintangnya. Malah Stam, bersama Couto, sempat dijatuhi sanksi larangan bertanding karena penggunaan steroid.
Walaupun begitu, bek asal Belanda itu berhasil menyumbangkan trofi Coppa Italia sebelum angkat kaki ke Milan semusim berselang.
Musim pertama Stam tak berjalan mulus karena masih kesulitan menembus komposisi bek Milan yang dihuni pemain sekaliber Nesta, Maldini, dan Cafu. Baru di periode 2005/2006 dirinya menjadi pilihan reguler Carlo Ancelotti setelah tampil 37 kali di semua ajang.
Sayang, Milan kembali gagal merengkuh Scudetto karena cuma finis di peringkat ketiga. Pun demikian dengan kegagalan Andriy Shevchenko dan kolega di panggung Liga Champions dan Coppa Italia. Alhasil, hanya trofi Supercoppa Italia satu-satunya sumbangsih Stam kepada Milan.
Hernan Crespo
Sebanyak 35 juta euro atau 16 juta euro plus Matias Almeyda and Sergio Conceicao dibayarkan Lazio untuk menggaet Hernan Crespo dari Parma pada 2000 silam. Jumlah yang menembus daftar pemain termahal duni saat itu.
Total 80 gol yang berhasil dikemasnya bersama Parma jadi garansinya. Keputusan Lazio terbukti jitu. Eks-pemain River Plate itu sukses mencetak 26 gol dari 32 penampilan di musim perdana.
Tak hanya itu, Supercopa Italian juga sukses dipersembahkan Crespo kepada Biancoceleste. Namun, produktivitasnya mengalami penurunan di musim 2001/2002.
Adalah kepergian Juan Sebastian Veron dan Pavel Nedved yang jadi penyebabnya. Di samping itu Gaizka Mendieta yang didatangkan dari Valencia juga masih kesulitan beradaptasi dengan sepak bola Italia.
Alhasil, hanya 13 gol yang berhasil dicetak Crespo pada musim keduanya, atau hanya setengah dari jumlah sebelumnya.
Musim tersebut jadi musim pamungkasnya bersama "Si Elang Biru" hingga akhirnya hengkang ke Inter Milan dan Chelsea. Baru pada periode 2004/2005 Crespo mendarat ke Milan sebagai pemain pinjaman.
Dari segi produktivitas, Crespo masih belum sanggup menyamai torehan terbaiknya bersama Lazio, sebab hanya 11 gol yang dilesakkannya untuk Milan. Namun, Crespo berhasil memberikan semusim yang berkesan kepada Milan saat mempersembahkan Supercoppa Italia dan runner-up Liga Champions.
Bonus: Giuseppe Pancaro dan Giuseppe Favalli
Kami merangkum Giuseppe Pancaro dan Giuseppe Favalli karena keduanya punya kesamaan. Selain memiliki nama depan yang sama, keduanya berganti seragam dari Lazio ke Milan di usia yang terhitung senja.
Pancaro saat itu berusia 32 tahun saat diboyong pada 2003, sedangkan Favalli menginjak usia 34 tahun kala direkrut tiga tahun berselang. Duo Giuseppe itu sukses mempersembahkan Serie A, Coppa Italia, Supercoppa Italia, dan Piala Winners kepada Lazio.
Usia yang sudah uzur bukan berarti keduanya sama sekali tak berkontribusi kepada Milan. Pancaro berhasil meraih tiga titel, termasuk Scudetto yang dipersembahkannya di musim perdananya.
Sementara Favalli kebalikannya. Belum pernah menjuarai ajang domestik, dirinya justru menjadi bagian saat Rossoneri merengkuh "Si Kuping Besar", Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub.
====
*) kumparanBOLA berkolaborasi dengan Super Soccer TV menghadirkan tayangan-tayangan Serie A di kumparan. Nantikan tanggal mainnya!
