Pencarian populer

Derby Merseyside: Kisah Dua Saudara

Suporter Liverpool berpose di luar Anfield. (Foto: Jason Cairnduff/Reuters)

Politik, uang, dan tentu saja, gengsi. Karena tiga hal itulah Derby Merseyside lahir.

John Houlding adalah salah satu orang paling berpengaruh di Kota Liverpool pada paruh kedua abad ke-19 lalu. Selain sebagai pengusaha dan politikus, Houlding juga berkecimpung di olahraga yang suatu hari bakal identik dengan kota tersebut: sepak bola. Di tangan Houlding, politik, uang, agama, dan gengsi menjadi bahan bakar untuk menyulut api perseteruan.

Awalnya, di Kota Liverpool hanya ada Everton Football Club dan Stadion Anfield. Keduanya pun berbau campur tangan Houlding. Selain duduk di jajaran direksi Everton, dia juga merupakan kawan dekat pemilik Anfield, John Orell. Awalnya, semua berjalan lancar. Everton yang sempat dua kali pindah rumah akhirnya menemukan kandang yang pas untuk mereka.

Selama delapan tahun Everton berlaga di Anfield. Namun, delapan tahun itu tidak mereka lalui dengan lapang dada. Permasalahannya? John Houlding, tentu saja.

Pada 1885, setahun setelah Anfield selesai dibangun, Houlding membeli stadion itu dari Orell. Dia pun kemudian meminta uang sewa yang makin lama makin tinggi kepada pihak klub. Selain itu, dia juga memaksa para pemain Everton untuk menggunakan Sandon Hotel yang dimilikinya untuk tempat berganti pakaian. Gratis? Tentu tidak.

Selain soal ketamakan Houlding, fakta bahwa dia adalah sosok politikus konservatif juga membuat friksi terus terjadi. Sebabnya, kebanyakan dari mereka yang punya hajat di Everton adalah orang-orang liberal.

Goodison Park dari luar. (Foto: Jason Cairnduff/Reuters)

Tahun 1892, Everton memutuskan untuk angkat kaki dari Anfield dan membeli tanah untuk jadi tempat stadion baru di Goodison Park. Houlding yang tak mau kalah pun akhirnya merespons dengan mendirikan klub sepak bola baru. Namanya Liverpool Football Club.

Meski Everton berusia lebih tua, sulit untuk mengidentikkan Kota Liverpool dengan warna biru. Dalam perkembangannya, Liverpool FC yang berseragam merah-merah memang menjadi lebih perkasa. Tak hanya di Inggris, mereka pun sudah berulang kali menjadi jawara di Eropa.

Namun, para penduduk kota tidak silau oleh kilauan trofi yang menyeruak dari kabinet milik Liverpool FC. Tak seperti di Barcelona, bagi orang-orang Liverpool, klub sepak bola dari sana, ya, ada dua: Everton dan Liverpool. Biar bagaimanapun juga, tanpa Everton, tidak akan ada Liverpool.

Kedua klub ini memang seperti saudara kandung yang lahir dari rahim yang sama, tetapi berasal dari benih yang berbeda. Jika Everton lahir dari kesederhanaan, Liverpool lahir dari amarah. Tak heran jika Everton memutuskan untuk mengidentikkan diri dengan warna biru dan putih yang tenang lagi menenangkan, sementara Liverpool memilih warna merah menyala. Everton adalah Abel, Liverpool, well, Cain.

Ketika mendirikan Everton pada 1878, para pendiri yang berasal dari Gereja Metodis Everton Santo Dominggus hanya punya satu tujuan: supaya para jemaat bisa berolahraga sepanjang tahun. Sebelumnya, selain kriket di musim panas, mereka tidak punya aktivitas olahraga lain.

Tak dinyana, Everton kemudian menjadi besar hingga akhirnya membutuhkan stadion yang bisa menampung ribuan, bahkan belasan ribu, penonton untuk berlaga. Hal itulah yang kemudian membawa mereka ke Anfield. Dan hal itu pula yang pada akhirnya mengawali kelahiran Liverpool FC.

Kedekatan sekaligus permusuhan Everton dan Liverpool ini tidak hanya terasa dari sisi emosional saja. Secara geografis pun mereka benar-benar berdekatan. Dipisahkan oleh Stanley Park, Anfield dan Goodison Park jaraknya hanya sepelemparan kerikil.

Meski bau sumir permusuhan itu pelan-pelan masih bisa tercium dengan samar, ada alasan tersendiri mengapa Merseyside Derby, demikian laga antara Everton dan Liverpool disebut, juga dinamai The Friendly Derby. Derby yang bersahabat. Munculnya sebutan ini berasal dari hal-hal yang memang kasatmata. Tak jarang, dalam sebuah pertandingan yang mempertemukan kedua klub, di tribun stadion, para suporter kedua tim berbaur menjadi satu tanpa gontok-gontokan.

Hal itu bisa terjadi karena banyak di antara mereka yang berasal dari keluarga yang sama. Ayah pendukung Liverpool, ibu pendukung Everton, dan dua anak yang mendukung dua klub berbeda, misalnya, bukan hal aneh di sana. Perkawinan antarpenduduk kota pada akhirnya membuat hal ini mungkin terjadi.

Selain itu, tak jarang pula suporter kedua tim bersatu padu untuk melawan musuh bersama. Hingga kini, tabloid The Sun masih menjadi musuh utama semua penduduk Kota Liverpool, baik itu mereka yang mendukung Everton maupun Liverpool. Pemberitaan palsu mereka mengenai Tragedi Hillsborough menjadi sebabnya.

Biar bersahabat, derby tetap derby. (Foto: Jasn Cairnduff/Reuters)

Ketika itu, 96 suporter Liverpool tewas di Stadion Hillsborough di Sheffield dalam laga semifinal Piala FA melawan Nottingham Forest. The Sun, ketika itu, menyalahkan suporter Liverpool yang "mabuk dan merusuh" atas tragedi tersebut. Padahal, setelah diinvestigasi, pihak kepolisian yang lalai akhirnya dinyatakan bersalah.

Solidaritas ini muncul karena 96 suporter Liverpool itu, pada akhirnya, juga merupakan saudara-saudara suporter Everton juga. Ketika itu, 96 orang yang meninggal bukanlah suporter Liverpool FC, melainkan warga Kota Liverpool.

Uniknya, solidaritas ini muncul tak lama setelah suporter Everton menyalahkan para pendukung Liverpool karena tak bisa berlaga di Eropa menyusul Tragedi Heysel 1985. Padahal, saat itu Everton sedang berada dalam masa kejayaan domestik mereka.

Walau secara umum suporter Everton dan Liverpool cenderung bersahabat, tidak demikian dengan para pemain. Jika tribun menjadi sarana bertamasya bagi para keluarga, lapangan hijau tetap menjadi medan tempur.

Tanya saja Steven Gerrard, kalau tidak percaya. Mantan kapten legendaris Liverpool itu pernah dua kali diusir dalam laga derby melawan Everton. Lalu, ada pula Phil Neville, seorang Mancunian yang pernah mengapteni Everton. Neville, seperti halnya Gerrard, juga pernah dikartu merah dua kali dalam Derby Merseyside.

Gerrard, serial offender di Derby Merseyside. (Foto: Carl Recine/Reuters)

Sengitnya Merseyside Derby di lapangan juga pernah meretakkan hubungan dua sobat kental yang sudah berkawan sejak masih bocah. Uniknya, dua sahabat itu bukanlah orang asli Liverpool. Nama dua sahabat itu adalah Mikel Arteta dan Xabi Alonso.

Usai laga tahun 2009 lalu, Arteta dan Alonso rencananya bakal menyantap hidangan sambil melupakan laga derby sengit yang baru saja mereka lalui. Liverpool, tim yang dibela Alonso, menang 2-0 hari itu.

Namun, rencana itu batal. Saking kesalnya, dua orang kelahiran Basque ini memutuskan untuk lebih baik tidak bertemu saja. Tak hanya itu, mereka pun konon sampai tidak berbicara dengan satu sama lain selama beberapa waktu. Meski hubungan mereka kini telah pulih, kira-kira seperti itulah gambaran Derby Merseyside yang halus di luar, tetapi keras di dalam.

Musim ini, Everton dan Liverpool bakal bertemu untuk ke-228 kalinya sepanjang sejarah kompetisi resmi. Dua klub yang berhasil menjadikan Kota Liverpool sebagai kota sepak bola tersukses di Inggris, bakal kembali bersua. Akankah Everton mampu memutus catatan buruk 13 kali tidak pernah menang dalam laga derby? Atau mampukah Liverpool menggunakan derby ini sebagai momentum untuk bangkit kembali setelah sempat terseok-seok?

Entahlah. Namanya juga Derby Merseyside. Siapa pula yang bisa menebak?

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23