Pencarian populer

Entah dengan Roma atau LA Galaxy, yang Terpenting Zaniolo Jadi Juara

Selebrasi Nicolo Zaniolo usai mencetak gol ke gawang Porto. Foto: Reuters/Alberto Lingria

Lapangan bola memang menjadi pentas bagi para bintang untuk mendulang pamor. Tapi, bukan berarti lapangan bola tidak menjadi tempat bagi para anak muda untuk mendewasakan diri.

Contohnya, apa yang terjadi pada Nicolo Zaniolo, gelandang AS Roma. Dan bagi sang ayah, Igor Zaniolo, memercayai bahwa putranya akan menjadi pesepak bola juara bukanlah perkara yang kelewat sulit untuk dilakukan.

"Saya ingin melihat Nicolo menjadi juara. Saya juga tidak keberatan untuk melihatnya bermain bersama kampiun-kampiun macam (Lionel) Messi, Cristiano Ronaldo, (Kylian) Mbappe, dan Neymar. Tapi di atas segalanya, entah bersama Roma atau Los Angeles Galaxy sekali pun, harapan terbesarnya adalah mengangkat trofi juara," kata Igor kepada Football Italia.

Nicolo Zanolo (kanan) menunjukkan gestur bahagia setelah melesakkan gol AS Roma ke gawang Porto. Foto: Alberto Lingria/Reuters

Sebagian besar orang akan menjadikan laga leg pertama babak 16 besar Liga Champions 2018/19 yang mempertemukan Roma dengan Porto sebagai hulu cerita Zaniolo. Kemenangan Roma di Olimpico waktu itu lahir berkat dua gol Zaniolo. Sebelumnya, Zaniolo sudah berhasil membuka keunggulan pada menit 70.

Keunggulan lantas digandakan enam menit berselang. Porto memang sempat membalas lewat gol Adrian Lopez pada menit 79. Tapi, itu menjadi gol terakhir, kemenangan 2-1 digenggam Roma. Catatan manis bagi Zaniolo, ia berhasil dua kali menaklukkan kiper sekaliber Iker Casillas.

Sayangnya, torehan spesial pemuda 19 tahun ini seolah hilang tanpa bekas karena Roma menutup leg kedua dengan kekalahan 1-3. Itu berarti, Porto berhak bertanding ke babak perempat final.

Namun demikian, Roma tak mau menyingkirkan Zaniolo. Bagi 'Serigala Ibu Kota', Zaniolo adalah bibit muda potensial. Sudah waktunya bagi Roma untuk mulai memperhitungkan pemain-pemain muda. Barangkali atas dasar itu pula, pembicaraan untuk memperpanjang kontrak Zaniolo menjadi salah satu yang paling santer terdengar di jagat sepak bola Italia.

Berhitung mundur, Zaniolo memutuskan untuk hengkang ke Roma dari Inter Milan pada musim panas lalu. Ia sampai ke Olimpico sebagai bagian dari proses transfer Radja Nainggolan ke Giuseppe Meazza.

"Beberapa waktu lalu, anak saya sampai ke bar ini (bernama La Spezia di Roma), ia bahkan tidak bisa sarapan. Untungnya, alih-alih merengek, ia tetap rendah hati. Berusaha sedapat mungkin supaya tetap menginjak tanah," jelas Igor kepada Football Italia.

"Menurut saya, ia tidak punya kelemahan fatal. Ia bahkan sangat menghargai fesyen, bahkan saat ia memakai overalls. Orang-orang membandingkan dia dengan Pogba sebagai pemain serbabisa. Tapi, perbandingan itu jelas: Pogba juara dunia, anak saya, ya, masih remaja," ujar Igor.

Jika ada satu orang yang wajib diberikan tabik atas progres Zaniolo, itu adalah Roberto Mancini. Sang pelatih Timnas Italia inilah yang agaknya memperkenalkan dunia dengan talenta muda bernama Zaniolo. Ia menjadi pemain keempat yang mendapat kehormatan untuk membela Timnas Italia tanpa memiliki jam main Serie A setelah Raffaele Costantino, Massimo Maccarone, dan Marco Verratti.

Baru setelahnya, Eusebio Di Francesco memanggilnya untuk melakoni debut bersama Roma dalam laga Liga Champions melawan Real Madrid pada September 2018. Abaikan dulu kekalahan 0-3 yag mereka telan. Yang terpenting, Zaniolo sudah mengecap sendiri seperti apa rasanya bermain di tim utama di pertandingan sepenting Liga Champions.

Pemain-pemain Italia merayakan gol Nicolo Barella. Foto: REUTERS/Jennifer Lorenzini

"Terima kasih terbesar saya berikan kepada Mancini. Ialah yang memberikan penanda spesial bagi perjalanan putra saya sebagai pesepak bola. Lalu Di Francesco yang begitu berani memasukkannya sebagai pemain di Bernabeu melawan pemain-pemain juara seperti Modric dan Kroos," jelas Igor.

Keputusan Zaniolo untuk tetap bermain bersama Roma memang ngeri-ngeri sedap. Pasalnya, Roma sedang dalam kondisi tak stabil. Laga melawan Fiorentina saja berakhir dengan skor imbang 2-2. Tapi, bukan berarti tak ada pelajaran yang dikecap oleh Zaniolo sebagai pemain muda.

"Ia akan memperpanjang kontraknya di Roma. Itu tempat yang bagus dan ia baik-baik saja di sana. Ia ada di klub besar dan bersyukur untuk itu. Terlebih ada nama-nama senior yang berpengalaman, mulai dari Dzeko, De Rossi, hingga Florenzi. Mereka akan membantunya berkembang," ucap Igor.

"Tentu saja ada banyak tim yang melirik putra saya. Melihat segala potensinya, tentu tidak banyak yang akan saya pertimbangkan. Saya pikir, kalau di Italia hanya Juventus atau Inter. Yang jelas, prioritas Zaniolo sekarang adalah masuk Liga Champions dan Piala Eropa U-21," jelas Igor.

Zaniolo kala mencetak gol ke gawang Porto. Foto: Andreas SOLARO / AFP

Enam gol dan dua assist yang ditorehkan Zaniolo dalam 30 laga bersama Roma di semua kompetisi 2018/19 memang masih jauh dari kata menjanjikan. Tapi, bukankah masa depan yang menyenangkan adalah hak semua orang?

Hak yang tentunya tak datang dengan sendirinya, hak mesti diklaim dengan menjadi petarung tangguh, dengan mempersetankan tua-mudanya usia dan tak mempedulikan cap minim atau banyak pengalaman. Bagi Zaniolo muda, kesempatan itu ada di kedua kakinya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.61