Pencarian populer

Getafe Terbang Tinggi Menuju Tanah Terjanji

Pemain-pemain Getafe merayakan gol ke gawang Valencia di Copa del Rey. Foto: AFP/Javier Soriano

Cara terbaik untuk menggambarkan betapa panjang perjalanan yang telah ditempuh Jose Bordalas sebagai pelatih adalah dengan menengok nasib Benidorm Club de Futbol. Pada 2011, Benidorm CF gulung tikar setelah berdiri selama 47 tahun. Tak banyak pelatih sepak bola yang masih eksis di level tertinggi saat ini pernah melatih di sebuah klub yang sudah bubar jalan.

Untuk ukuran manusia, Bordalas belum tua. Dia lahir pada 1964, tahun yang sama dengan tahun kelahiran Benidorm CF. Ketika klub dari kota pesisir itu lenyap disapu zaman, Bordalas justru saat ini tengah menjalani masa-masa terbaiknya sebagai seorang juru taktik sepak bola bersama Getafe Club de Futbol, klub yang lebih muda 19 tahun darinya.

Bordalas tak pernah benar-benar sukses sebagai seorang pemain. Soal kemampuan, sebenarnya dia bukannya sama sekali tak punya. Namun, segala kemampuan tersebut hanya cukup untuk membawanya berkarier di level ketiga piramida sepak bola Spanyol. Sudah begitu, di usia yang baru 28 tahun, Bordalas akhirnya harus gantung sepatu karena cedera lutut yang tak lagi bisa disembuhkan.

Cedera itu memaksa Bordalas untuk segera banting kemudi. Berasal dari keluarga sepak bola, pria yang berposisi sebagai penyerang saat masih bermain itu pun kemudian meniti karier di dunia yang sudah dikenalnya dengan baik. Meski demikian, reputasi yang medioker sebagai pemain tak benar-benar langsung membantunya. Pekerjaan memang langsung dia dapatkan hanya setahun setelah pensiun, tetapi kala itu Bordalas harus rela memulai dari bawah bersama tim B milik Alicante.

Pelatih Getafe, Jose Bordalas. Foto: AFP/Jose Jordan

Seperti halnya saat masih aktif bermain, sebagai pelatih Bordalas juga tidak bisa berkembang dengan cepat. Tiga belas tahun dibutuhkannya untuk lepas dari sepak bola kelas teri ketika dia dipercaya untuk membesut tim terbesar di Alicante, Hercules. Sebagai putra asli Alicante, menangani Hercules adalah kehormatan yang amat besar bagi Bordalas. Terlebih, ketika itu Hercules berlaga di divisi dua. Itu merupakan kesempatan emas bagi Bordalas untuk melejit.

Namun, Bordalas gagal total. Dia bahkan sampai harus menjalani sabatikal selama kurang lebih setahun saking terpukulnya dengan kegagalan tersebut. Meski demikian, Bordalas tak mau menyerah begitu saja. Berbagai cara dia upayakan termasuk pergi dari wilayah Valencia untuk kali pertama sepanjang karier pada 2012.

Hasil tidak pernah mengkhianati usaha, termasuk dalam hidup Bordalas. Pada 2012 itu dia hijrah ke Alcorcon yang berada di dekat Madrid. Di sinilah dia bisa benar-benar mencuri perhatian sampai akhirnya direkrut Deportivo Alaves pada musim 2014/15. Alaves pun dibawanya promosi ke Primera Division alias La Liga pada musim tersebut. Akan tetapi, reputasi lagi-lagi menghalangi Bordalas untuk berkiprah di level tertinggi.

Bordalas adalah pelatih yang sudah kadung identik dengan divisi bawah dan oleh karenanya manajemen Alaves pun memilih untuk tidak meneruskan kerja sama dengannya usai promosi diraih. Padahal, promosi itu adalah promosi historis bagi Alaves yang sempat absen dari Primera selama satu dasawarsa. Namun, karena alasan yang sama pula manajemen klub Basque itu kemudian menunjuk Mauricio Pellegrino yang akhirnya mengantarkan mereka finis di urutan sembilan sekaligus melaju ke final Copa del Rey.

Usai dipecat oleh Alaves, Bordalas sempat menganggur tetapi tidak lama. Pada pekan ketujuh Segunda Division musim 2016/17 Getafe memecat Juan Eduardo Esnaider dan pemecatan inilah yang jadi pintu masuk bagi Bordalas ke Coliseum Alfonso Perez. Kala itu, Getafe berada di posisi dua dari bawah. Oleh Bordalas, semua itu diubah dengan sekejap sehingga di akhir musim El Geta pun sukses menggenggam tiket promosi ke Primera.

Sempat muncul kekhawatiran dalam diri Bordalas bahwa dia akan dipecat lagi seperti yang terjadi padanya di Alaves. Presiden Getafe, Angel Torres, sendiri kala itu tak sepenuhnya yakin akan kapabilitas Bordalas mempertahankan Getafe di La Liga. Torres, kata Sid Lowe dalam kolomnya di the Guardian, bahkan harus 'dijebak' untuk mengumumkan bahwa Bordalas akan tetap menangani Getafe di musim 2017/18.

Keputusan itu sama sekali tidak salah karena Bordalas bukan pelatih biasa. Dalam sebuah wawancara dengan Marca, dia berkata, "Bertahan saja tidak cukup. Kamu harus selalu menginginkan lebih." Dan itulah yang dia lakukan. Getafe dibawanya finis di urutan delapan klasemen dengan rekor pertahanan terbaik ketiga di liga.

Bukti yang diberikan Bordalas itu membuatnya bertahan di Getafe dan musim ini capaiannya lebih fenomenal lagi. La Liga saat ini sudah memasuki jornada ke-26 dan Getafe sampai sekarang masih anteng di posisi empat klasemen sementara. Mereka berada di atas Alaves dengan selisih dua angka. Yang lebih menarik lagi, Getafe saat ini unggul lima poin atas Sevilla yang anggaran gajinya lima kali lipat lebih besar.

Untuk Getafe sendiri, bermain di kompetisi level Eropa bukan sesuatu yang baru. Pada musim 2007/08 mereka pernah melaju sampai perempat final Piala UEFA sebelum disingkirkan oleh Bayern Muenchen. Namun, Liga Champions adalah sesuatu yang benar-benar lain. Untuk pertama kalinya dalam sejarah singkat mereka, Getafe punya potensi nyata untuk bersaing memperebutkan 'Si Kuping Besar' dan Bordalas adalah nama terpenting di balik kesuksesan ini.

Bola Panjang Berpadu dengan Amukan

Juan Cala saat ini sudah tak lagi bermain untuk Getafe. Akan tetapi, penjelasannya soal gaya bermain tim di bawah kepemimpinan Bordalas masih sangat relevan. Tahun lalu, kepada Lowe, Cala bertutur bahwa pemain terpenting Getafe adalah Jorge Molina. Alasannya sederhana: Molina adalah kunci bagi Getafe untuk menjebol gawang lawan.

Striker Getafe, Jorge Molina, berhadapan dengan Sergio Rico. Foto: AFP/Javier Soriano

Usia Molina saat ini sudah 36 tahun, tetapi dari pekan ke pekan dia masih senantiasa diandalkan oleh Bordalas. "Dia adalah satu-satunya pemain yang tak tergantikan. Siapa pun bisa absen, tetapi Jorge tidak bisa. Kami tak punya pemain lain yang bisa melakukan apa yang dia lakukan. Enam puluh sampai tujuh puluh persen permainan kami adalah bola panjang dan satu-satunya yang bisa menjinakkannya adalah Jorge," jelas Cala.

Jika John Beck lebih punya kelas, maka dia akan menjadi Bordalas. Beck adalah mantan manajer Cambridge United yang merupakan advokat bagi permainan bola panjang. Suatu kali Beck bahkan pernah menyewa jasa seorang ahli statistik untuk membandingkan efektivitas permainan bola-bola panjang dengan bola-bola pendek. Pada dasarnya, Bordalas memegang prinsip yang sama dengan Beck. Bedanya, Bordalas bukan sosok culas seperti Beck yang doyan mengakali kondisi lapangan dan semacamnya.

Sepak bola yang dimainkan Getafe saat ini tidak jauh berbeda dengan sepak bola khas Britania pada masa terdahulu. Dengan balutan pakem 4-4-2, Azulones memainkan sepak bolanya dengan rapat, lugas, dan keras. Mirip-mirip sepak bola khas Diego Simeone, sebenarnya. Namun, dalam mengalirkan serangan ke depan, Getafe asuhan Bordalas lebih sering mengambil 'jalan pintas' dengan melepas bola panjang.

Di lini depan, Getafe punya Molina dan Jaime Mata. Ini adalah perpaduan tandem striker klasik. Molina adalah spesialis bola-bola udara, sementara Mata adalah jagoan bola-bola permukaan meskipun pemain 30 tahun ini juga punya kemampuan duel udara tak buruk. Perpaduan 'besar-kecil' andalan Bordalas ini sudah mencetak 21 gol --61,8%-- Getafe sampai pekan ke-26.

Untuk menyokong mereka, Bordalas menerjunkan lini tengah yang komposisinya mirip dengan kuartet gelandang Milan era Fabio Capello. Dua gelandang tengah menjadi pemutus alur serangan lawan, sementara dua gelandang di sektor sayap menjadi penyerang pertama dalam tim ini. Kedua gelandang sayap itu didukung duo bek sayap yang cukup rajin membantu serangan.

Striker Getafe, Jaime Mata, berusaha mencetak gol ke gawang Valencia. Foto: AFP/Javier Soriano

Sederhana, memang. Namun, kesederhanaan itu menjadi terlihat mewah jika melihat bagaimana prestasi Getafe saat ini. Sejauh ini Getafe baru kemasukan 23 kali yang merupakan catatan terbaik ketiga di La Liga setelah milik Atletico Madrid (17) dan Valencia (21). Getafe pun jadi tim dengan selisih gol terbaik keempat di La Liga dan dengan metode ini mereka meretas jalan menuju Liga Champions musim depan.

Meski demikian, taktik saja tidak cukup. Keberadaan Bordalas sebagai pelatih membuat para pemain seperti tak takut mati di medan perang.

Bordala bukan sosok yang selalu menyenangkan. Tak jarang dia menumpahkan amarah yang membuat para pemain ketakutan. Akan tetapi, dari situlah kemudian tersaring mana saja prajurit yang tepat bagi Bordalas dan mana yang tidak. Mereka yang sanggup bertahan akhirnya jadi pemain yang berkali-kali lipat lebih tangguh. Para pemain ini juga kemudian jadi sangat loyal pada sang entrenador.

Modal inilah yang dimiliki Getafe dan masih ada 12 pekan lagi bagi mereka untuk mencatatkan hasil terbaik. Sejauh ini yang bakal jadi pesaing terberat mereka adalah Alaves di urutan lima. Kedua tim ini punya gaya main yang hampir sama. Bedanya sampai saat ini adalah bahwa Getafe jauh lebih produktif ketimbang Alaves.

Alaves bukan satu-satunya lawan bagi Getafe. Masih ada Sevilla, Valencia, atau Real Betis yang jauh lebih berpengalaman. Dua belas pekan adalah jalan yang sangat panjang. Namun, jika Getafe adalan Bani Israil, maka Bordalas adalah Musa yang akan membawa mereka menuju tanah terjanji.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57