kumparan
23 Sep 2019 3:33 WIB

Gol Alexander-Arnold ke Gawang Chelsea Bukan Keberuntungan Belaka

Bek sayap Liverpool, Trent Alexander-Arnold. Foto: REUTERS/Phil Noble
Beberapa jam sebelum Liverpool berlaga melawan Chelsea, Trent Alexander-Arnold berkata bahwa ia sudah tidak sabar untuk mencetak gol lagi.
ADVERTISEMENT
Keinginan itu tidak berlebihan. Alexander-Arnold hanya mencetak satu gol pada Premier League 2018/19. Perannya sebagai bek sayap tidak membebaninya dengan tugas mencetak gol. Namun, pemain mana, sih, yang tidak suka mencetak gol?
Harapan itu bukan basa-basi wawancara jelang laga. Liverpool membuka keunggulan di Stamford Bridge pada Minggu (22/9/2019) berkat gol Alexander-Arnold pada menit ke-14. Pada akhirnya, Liverpool menang 2-1 atas 'The Blues'.
Alexander-Arnold mengawali keunggulan dengan gaya. Prosesnya bermula dari tendangan bebas yang dihadiahkan wasit Michael Oliver untuk pasukan Juergen Klopp. Mohamed Salah maju sebagai eksekutor.
That pride. Foto: Reuters/John Sibley
Namun, salah besar jika mengira Salah melesakkan tembakan langsung ke arah gawang. Ia memberikan operan pendek kepada Alexander-Arnold yang mengambil posisi sedikit di belakangnya.
ADVERTISEMENT
Operan itulah yang disambar Alexander-Arnold dengan sepakan kencang menuju sudut kiri atas gawang yang dikawal Kepa Arrizabalaga.
Gol tadi tidak semata-mata bicara tentang keberuntungan. Lebih dari itu. Bila dikelupas selapis demi selapis, kita akan melihat hasil kawin silang perhitungan matang dan naluri, kepercayaan pemain senior dan imajinasi pemain muda, serta keberuntungan dan kualitas teknik.
"Tadinya Hendo [Jordan Henderson] yang ingin mengambil tendangan itu. Namun, saya pikir jaraknya terlalu dekat dengan lawan," ujar Alexander-Arnold, dikutip dari laman resmi Liverpool.
"Saya sempat berdiskusi dengan Mo [Salah] bahwa saya ingin mengubah sudut tembakannya menjadi lebih baik supaya membingungkan kiper," jelas Alexander-Arnold.
Trent Alexander-Arnold (kostum merah) berduel dengan Mason Mount di laga Chelsea vs Liverpool. Foto: Reuters/John Sibley
Masalah kedua datang. Ada sekitar delapan pemain Chelsea yang berdiri membangun tembok untuk menghalangi tendangan bebas itu.
ADVERTISEMENT
Jika fokus sama dengan mengeliminasi perkara tidak penting dan memusatkan perhatian pada satu titik, itu pulalah yang dilakukan Alexander-Arnold. Ketimbang menyibukkan pikiran soal delapan pemain lawan, ia lebih suka mencari titik yang tidak terjangkau kiper.
"Saya pikir jaraknya terlalu dekat dengan para pemain Chelsea. Saya juga tidak yakin apakah tendangan saya bisa melewati mereka jika mereka melompat. Makanya, saya fokus ke kiper saja," ujar Alexander-Arnold.
"Keputusan itu baik dan saya hanya berusaha sedapat mungkin untuk menempatkan bola ke titik yang tepat," tambahnya.
Trent Alexander-Arnold dan Juergen Klopp di laga Chelsea vs Liverpool. Foto: REUTERS/Eddie Keogh
Yang bersukacita bukan cuma Liverpool, tetapi juga Alexander-Arnold. Ia mencetak gol perdananya di Premier League 2019/20. Mengingat musim baru menyelesaikan enam laga, besar kemungkinan torehannya itu bakal bertambah.
ADVERTISEMENT
Semenyenangkan apa pun membukukan rekor, bagi Alexander-Arnold itu tidak lebih penting daripada pencapaian tim. Terlebih ini menjadi kemenangan ke-15 Liverpool dalam 15 laga beruntun bila dihitung sejak Premier League musim lalu.
"Ini pencapaian masif. Lima belas kemenangan beruntun menunjukkan kami ini tim seperti apa. Kami sudah memenangi segala jenis pertandingan," ujar Alexander-Arnold.
“Datang ke Stamford Bridge dan menang adalah pencapaian besar buat kami. Kami bisa mengamankan 18 poin [poin penuh dari enam laga] dan berharap dapat menjaga performa kami di setiap pertandingan," jelasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan