Jurus Madura United Supaya Tak Bernasib Sama Seperti Sriwijaya

Madura United menebar ancaman. Sinyal kuat pun telah diterima para rival, terutama di Liga 1.
Ya, 'Sape Kerap' terlihat begitu agresif dalam perburuan pemain jelang bergulirnya musim baru. Tak tanggung-tanggung, pemain lokal dan asing berlabel bintang ditumpuk jadi satu. Mulai dari Andik Vermansyah sampai Jaimerson Xavier.
Diksi transfer gila pun tampaknya pantas disematkan kepada Madura United. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa dana transfer Madura United tahun ini justru lebih kecil ketimbang dua musim sebelumnya?
Presiden Madura United, Achsanul Qosasi, menyatakan bahwa strategi transfer dibutuhkan demi mengencangkan biaya transfer. Menurutnya, kerangka tim musim ini sejatinya sudah disusuk sejak musim lalu masih bergulir.
Manajemen memantau statistik performa klub untuk mencari kekurangan. Lewat statistik itu, lanjut Achsanul, Madura United kemudian mengetahui sektor mana yang butuh dikuatkan.
Pergerakan transfer pun tak asal-asalan. Madura United melakukan pemeringkatan terhadap pemain-pemain incaran di setiap lini. Berikutnya, mereka tinggal melakukan pendekatan.
Untuk urusan negosiasi, kunci keberhasilan mereka ialah melakukan jauh-jauh hari sebelum musim atau kontrak pemain kelar. Dalam hal ini, mereka menggunakan pendekatan maksimal dua bulan sebelum musim atau kontrak pemain habis.
“Bujet kami musim ini cuma Rp28 miliar untuk pemain. Dari mulai membeli pemain baru sampai mempertahankan pemain lama. Kami mendesain ini sudah sejak awal musim 2018. Jadi, bukan kami tiba-tiba aktif cari pemain begitu musim selesai. Pertimbangannya supply (ketersediaan) dan demand (permintaan). Kami sudah melakukan persetujuan dengan pemain maksimal dua bulan sebelum kontrak habis. Dalam persetujuan itu sudah ada uang muka,” kata Achsanul ketika ditemui kumparanBOLA di Jakarta.
Pria yang juga menjabat sebagai Anggota III BPK RI ini pun menegaskan keberhasilan strategi transfernya yakni dengan mengikat pemain lebih dulu sehingga tak membuat harga penggawa incaran melonjak.
“Kalau kami ikut-ikutan berburu pemain setelah musim selesai atau kontrak pemain habis, pasti harganya naik. Itu yang dimaksud supply dan demand tadi,” ujarnya.
Tak cuma pemain buruan, Madura United juga mengamankan tanda tangan pemain lama yang dipertahankan sejak pertengahan musim lalu. Keputusan itu dilakukan agar harga pemain tak naik sekaligus membentengi dari godaan klub lain.
Achsanul mencontohkan beberapa nama lama yang sudah diikat. Fachruddin Aryanto sudah diperpanjang Madura United sejak pertengahan musim 2018. Cara itu ternyata tepat. Begitu musim selesai, bek Timnas Indonesia ini sudah ditawar dengan harga dua kali lipat lebih.
“Ada tawaran berkali-kali lipat buat Fachruddin. Namun, dia sudah terikat dengan kami. Begitu pun beberapa nama lain yang sudah kami perpanjang pada pertengahan musim lalu, seperti Greg Nwokolo, Slamet Nurcahyono, Engelberd Sani, Alfath Tafhier, Andik Rendika Rama, Asep Berlian, dan beberapa pemain lagi,” ujar Achsanul.
Madura United juga ketambahan Dane Milovanovic. Pemain Australia itu kembali lantaran ingin menyelesaikan kontrak. Seperti penuturan Achsanul, Dane sejatinya punya kontrak hingga 2019. Namun, kondisi kesehatan Dane membuatnya kudu berobat di Australia.
Gelandang 29 tahun itu meminta manajemen untuk memberikan surat peminjaman ke klub Australia (Green Gully dan Preston Lions) agar ia tetap bisa bermain sambil berobat.
“Dane punya sikap yang baik. Ia kembali untuk menyelesaikan kontrak. Memang kami meminjamkan dia. Dia sakit harus berobat. Musim lalu ia kami pinjamkan karena dia ingin bermain begitu perlahan sembuh. Jadi, kami memberikan surat peminjaman. Statusnya bukan Dane kami kontrak kembali, tapi memang dia masih punya sisa kontrak,” katanya.
Tak hanya itu, Madura United juga tak merasa terkuras keuangannya ketika merekrut Andik Vermansah. Pasalnya, gelandang 27 tahun itu didapat dengan harga sesuai bujet.
“Andik kami beli dengan harga marah. Nilainya turun sekitar Rp 1 miliar dari kontrak sebelumnya di klub Malaysia. Itu sesuai kemampuan kami dan dia mau. Korbannya Bayu Gatra dilepas. Untuk ukuran harga, Andik memang jauh di atas Bayu. Namun, kami mendapat Andik yang semua orang tahu kualitasnya,” ujar Achsanul.
Tak Takut Bangkrut
Anggaran Rp 28 miliar tentu tak sebesar musim lalu. Saat itu, Madura United menggelontorkan Rp 34 miliar untuk kebutuhan pembelian dan perpanjangan kontrak pemain.
Kondisi itu ternyata menjadi pembelajaran bagi mereka. Pada Liga 1 2018, Madura United boleh dibilang melakukan pembelian panik. Alhasil, bujet membengkak. Akan tetapi, masalah itu mulai diatasi untuk mengarungi musim 2019.
“Mentok-mentok kami menganggarkan Rp 30 miliar musim 2019 ini. Tentu masih lebih kecil dari musim lalu. Kalau kemarin, kami terlalu panik. Semua dibeli hingga akhirnya bengkak. Peter Odemwingie saja harganya sudah Rp 4 miliar. Eh, dia malah tidak mau main,” kata Achsanul.
Menilik fakta itu, rasanya pencinta sepak bola Indonesia sudah salah menilai. Dana yang dikucurkan Madura United ternyata tidak sesuai spekulasi publik. Bahkan, pemain bintang sekelas Jaimerson yang diboyong dari Persija Jakarta tak melebihi harga Odemwingie musim lalu. Alasannya, Jaime sudah setuju sebelum memasuki pekan ke-28 Liga 1 2018.
“Ada yang menawar Jaime Rp 5-6 miiar. Namun, ia lebih dulu setuju dengan kami. Sekarang kalau ditanya siapa stopper terhebat, semua pasti menjawab Jaime. Karena itu, kami mendekati ia lebih dulu. Positifnya, harganya tak semahal ketika sesudah musim kelar atau kontraknya habis,” ujar Achsanul.
Menjadi klub bertabur bintang tentu punya kekhawatiran. Publik sepak bola Tanah Air pun sudah mewanti-wanti Madura United akan peristiwa yang dialami Sriwijaya FC. Pada musim lalu, 'Laskar Wong Kito' harus menelan pil pahit setelah melihat keuangan klub amburadul usai mendatangkan pemain-pemain kelas wahid. Efeknya, ada kasus tunggakan gaji, satu per satu pemain pergi, ketidakharmonisan tim, yang seakan mencapai klimaks dengan terdegradasi.
Melihat fakta itu, Achsanul menjamin bahwa Madura United tak akan bernasib serupa. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia bisnis, ia paham betul bagaimana mengurus keuangan tim.
Ia pun membagi bujet pemain semusim dengan pembayaran tiap bulan. 'Laskar Sape Kerap' juga tak meminta pembayaran dari pihak sponsor sekaligus, melainkan secara bertahap.
“Kami ada beberapa sponsor untuk menutupi bujet pemain per musim. Pemain ini sudah kami berikan uang muka. Sisanya dibayar per bulan. Sponsor harus mengucurkan dana per bulan. Kami menganggarkan tak lebih dari Rp 1,4 miliar per bulan, sudah termasuk pajak. Jadi, sponsor tak langsung bayar sekaligus. Kami punya dua sumber dana, yaitu dari sponsor dan subsidi kompetisi untuk membayar pemain. Ini sistem yang sudah berjalan di Madura United. Repotnya, kalau ada denda. Ada biaya tambahan pastinya,” katanya.
Sistem lain yang sudah dibangun Madura United ialah operasional tim. Mereka tak mengaku pusing bila urusan tiket perjalanan tandang. Pasalnya, mereka sudah bekerja sama dengan salah satu maskapai penerbangan.
“Sponsor besar membayar tiap bulan untuk kebutuhan gaji pemain. Lalu, akomodasi kami sudah tersistem. Kami sudah kerja sama sejak 2016 dan berakhir 2019 dengan salah satu maskapai penerbangan. Kalau laga tandang, kami tinggal bayar hotel saja. Mentok di angka Rp 50 juta. Itu operasional tandang selama tiga hari dengan 18 pemain dan 7 ofisial. Apalagi sekarang pertandingan tandang diselesaikan dulu satu pulau, tanpa harus loncat-loncat,” ucap politisi Partai Demokrat ini.
Perencanaan keuangan yang matang ala Madura United itu menjadi alasan tak berakhir seperti Sriwijaya. Jika urusan penting soal pemain selesai, kini giliran bonus, yang dipercaya punya peranan penting dalam meningkatkan motivasi pemain. Untuk persoalan satu ini, Madura United pun punya cara tersendiri.
“Urusan pengaturan keuangan untuk gaji dan operasional sudah tersistem. Kalau bonus kami lebih transparan, yaitu dari uang tiket. Pendapatan rata-rata kandang Rp 300 juta. Jika partai besar bisa Rp 400 juta. Intinya tidak pernah di bawah Rp 200 juta. Pemain dapat bonus bila seri tandang, menang kandang, dan menang tandang. Jumlahnya berurutan. Menang tandang pasti paling besar bonusnya. Semua hasil tiket itu dibagi ke pemain dengan sistem bonus tadi. Tidak menang di kandang juga dapat, tapi tentu kecil,” pungkasnya.
