kumparan
9 Agu 2018 14:53 WIB

Karang-karang Kokoh di Premier League 2018/19

Van Dijk resmi jadi pemain Liverpool. (Foto: Dok. Liverpool FC)
Satu hari lagi Premier League akan bergulir. Jika dalam artikel sebelumnya kami sudah mengupas para nomine topskorer musim depan, sekarang giliran para pemain belakang yang kebagian jatahnya.
ADVERTISEMENT
Berbicara mengenai pertahanan maka berbicara pula tentang sistem yang menjadi acuan permainan sebuah tim. Berbagai kesebelasan memlilih untuk tampil bertahan atau menyerang, sebagian juga bertumpu pada kolektivitas untuk menyeimbangkan permainan.
kumparanBOLA mencoba memilah karang-karang kokoh tim yang memiliki tipikal permainan yang berbeda-beda. Tentu, semua berangkat dari kapasitas mererka yang telah teruji di musim lalu. Berikut rangkuman kami untuk Anda.
Nicolas Otamendi
Pep Guardiola pernah mengatakan bahwa menjadi bek tengah Manchester City tidaklah mudah. Mereka harus bermain 40 meter di depan gawang demi membantu build-up serangan. Gamblangnya, bek The Citizens tidak hanya bertugas untuk sekadar bertahan, tapi juga turut serta membangun serangan.
Itulah kira-kira peran yang dimainkan Nicolas Otamendi. Pangkal dari aliran serangan City sebelum sampai ke kaki Fernandinho dan Kevin De Bruyne, kemudian disebarkan ke trisula City. Maka cukup logis andai Otamendi jadi pemain yang paling intens melepaskan umpan dengan rata-rata 90,4 per laga.
ADVERTISEMENT
Di satu sisi, Otamendi tetap menunaikan tugas harafiahnya sebagai pemain bertahan. Torehan rata-rata intersepnya sebesar 1,4 per laga jadi yang tertinggi, pun demikian dengan intersep sejumlah 1,7 yang tak mampu disamai bek sentral City lainnya. Jangan lupakan juga bila pemain yang digaet dari Valencia itu sukses memproduksi 4 gol di Premier League musim lalu.
Otamendi merayakan gol kemenangan. (Foto: Reuters/Darren Staples)
Jan Vertonghen
Salah satu titik terkuat Tottenham Hotspur adalah kokohnya pertahanan mereka. Nyatanya mereka hanya kebobolan 31 gol jika dirata-rata dalam dua musim ke belakang, masih lebih baik dari City yang kebobolan 33 gol.
Bayangkan saja, untuk menjebol gawang The Lilywhites, lawan kudu mengelabui Jan Vertonghen, Davinson Sanchez, atau Toby Alderweireld terlebih dulu sebelum sampai ke hadapan Hugo Lloris.
ADVERTISEMENT
Lupakan sejenak Alderweireld karena masalah internalnya dengan Mauricio Pochettino dan rumor bahwa dirinya bakal hengkang. Sanchez mungkin berhasil menarik perhatian dengan penampilan impresifnya di musim perdananya, tetapi, bagaimanapun, Vertonghen tetap yang paling penting dalam konstelasi jantung pertahanan Spurs.
Pertama, kedewasaan Vertonghen vital untuk melindungi skuat muda yang menghiasi Spurs. Makin sempurna karena bek yang digaet dari Ajax Amsterdam itu mencatatkan 1,8 tekel dan 1,7 intersep, kombinasi yang tak tertandingi oleh bek bek sentral lainnya. Belum lagi dengan rata-rata keunggulan duel udara yang menyentuh 3,3 per laga.
Virgil van Dijk
Kedatangan Virgil van Dijk di pertengahan musim 2017/2018 mendatangkan impak besar untuk pertahanan Liverpool. Tengok saja betapa akrabnya barisan belakang The Reds dengan inkonsistensi Dejan Lovren dan Ragnar Klavan. Joel Matip lebih mendingan, akan tetapi rentan akan cedera.
ADVERTISEMENT
Postur 193 sentimeter membuat lawan sulit untuk mengkesploitasi ruang saat berhadapan dengan Van Dijk. Bukan, bukan dengan tekel ia intens menghentikan pergerakan musuh --sebab tugas demikian cenderung diemban duo gelandang, Emre Can dan Jordan Henderson, di musim lalu-- melainkan dengan kemampuan fisikyna.
Van Dijk rata-rata memenangi 5,6 duel udara per laga, unggul jauh dari Lovren yang berada di posisi kedua dengan 3,6. Mantan pemain Glasgow Celtic itu juga menjadi yang paling intens dalam melakukan sapuan dengan rata-rata 5,6 di tiap pertandingan.
Bek Liverpool, Virgil van Dijk. (Foto: Eddie Keogh/Reuters)
Distributor bola adalah satu peran penting yang diusung Van Dijk dari barisan paling belakang, sebelum nantinya aliran bola disebarluaskan oleh Henderson di area sentral. Juergen Klopp tahu benar akan kelebihan bek berusia 27 tahun tersebut, itulah mengapa Van Dijk menjadi pemimpin sirkulasi bola Liverpool dengan rata-rata 81,2 umpan per laga, jauh meninggalkan bek sentral lainnya, Matip yang hanya mengukir 66,2.
ADVERTISEMENT
Laurent Koscielny
Memasukkan Laurent Koscielny dalam daftar kali ini mungkin sedikit tricky. Pertama dia telah didera cedera tendon achilles dan batal tampil bersama Prancis di Piala Dunia 2018. Selain itu Unai Emery yang terkenal akan kedisiplinannya dalam bertahan juga masih meraba tandem ideal untuk Sokratis Papastathopoulos.
Dan jika konsistensi jadi salah pertimbangannya, maka Koscielny adalah pilihan yang tepat. Aspek itu pula yang membuat kami memilihnya ketimbang Eric Bailly (Manchester United) serta Antonio Ruediger (Chelsea).
Besar kemungkinan Emery akan memberikan satu slot bek sentral kepada Shkodran Mustafi. Keputusan yang wajar, mengingat bek asal Jerman itu mendominasi rata-rata tekel dan sapuan The Gunners.
Namun, bukan itu yang paling diperlukan Arsenal. Yang harus mereka benahi adalah meminimalisir kesalahan-kesalahan yang berbuntut gol. Di Premier League musim 2017/2018 misalnya, tiga penggawa Arsenal telah bertanggungjawab atas terciptanya 11 gol ke gawang mereka.
ADVERTISEMENT
Koscielny cedera tendon achilles. (Foto: Reuters/Juan Medina)
Peter Cech jadi yang pertama dengan torehan 6, disusul Granit Xhaka sebanyak 3 kali. Sementara Mustafi adalah salah satunya karena melakukan dua kali kecerobohan yang berujung gol. Jadi tak salah andai Koscielny masuk dalam dafatar ini. Toh, rata-rata intersepnya sebanyak 2,2 per laga merupakan yang tertinggi, aksi tekelnya juga tak tak buruk-buruk amat karena menyentuh angka 1,7.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan