kumparan
4 Nov 2018 8:35 WIB

Kemenangan Leicester, Penghormatan untuk Srivaddhanaprabha

Pemain Leicester memberikan penghormatan kepada mendiang Srivaddhanaprabha di akhir laga melawan Cardiff. (Foto: Richard Heathcote/Getty Images)
Kehilangan karena kematian adalah kehilangan yang awet dan pasti. Duka Leicester City belum usai karena dua pekan lalu, Sabtu (27/11/2018), sang pemilik, Vichai Srivaddhanaprabha, meninggal dunia dalam kecelakaan helikopter yang terjadi di dekat King Power Stadium.
ADVERTISEMENT
Bagi orang-orang Leicester, Srivaddhanaprabha lebih dari sekadar bos klub sepak bola mereka. Sosok asal Thailand ini menjadi bukti bahwa sepak bola belum habis dari riwayat Leicester. Bila dirunut, Leicester terlilit utang 103 juta poundsterling sebelum Srivaddhanaprabha datang.
Untuk membeli klub ini dari tangan Milan Mandaric, Srivaddhanaprabha sebetulnya tak butuh uang terlalu banyak; hanya 39 juta poundsterling. Namun, utang 103 juta poundsterling itu akhirnya tetap jadi pekerjaan yang harus dituntaskan.
Tanggung jawab itu dipikul penuh oleh Srivaddhanaprabha. Utang dilunasi, dan pada 2013, stadion yang kini dikenal sebagai King Power Stadium itu dibeli dari tangan perusahaan asal Amerika Serikat. Pada musim 2013/14 itu, Leicester sukses mendapat promosi ke Premier League sebagai juara Championship.
ADVERTISEMENT
Perjalanan Leicester di Premier League bukan perjalanan yang mudah. Di bawah arahan Nigel Pearson pada 2014/15, mereka hampir terjun bebas di zona degradasi. Keajaiban di musim itu datang dalam wujud kemenangan tujuh dari sembilan laga akhir Leicester. Alhasil, akhir 2014/15 didapatlah kepastian bahwa mereka tetap akan berlaga di Premier League di musim 2015/16.
Sepeninggal Pearson, Claudio Ranieri datang mengambil alih kemudi tim. Juru taktik bergelar Tinkerman ini membuktikan bahwa segala kemungkinan layak terjadi di atas lapangan bola. Untuk pertama kalinya, Leicester mengenakan mahkota gelar juara Premier League di akhir musim. Menjadi yang tertinggi, menyingkirkan wacana klasik tentang juara yang itu-itu saja.
Kini, segala kemeriahan pesta di King Power Stadium berganti rupa menjadi sedu-sedan dan upaya sekuat tenaga para penghuninya untuk merawat segala ingatan dan kenangan akan Srivaddhanaprabha. Tanpa sang bos besar, tak akan mungkin asa itu menjadi kenyataan di tanah Leicester.
ADVERTISEMENT
Seorang pelayat meletakkan bunga di depan foto besar Vichai Srivaddhanaprabha. (Foto: Reuters/Peter Nicholls)
Laga perdana Leicester sepeninggal Srivaddhanaprabha berlangsung pada Sabtu (4/11/2018). Yang menjadi lawan mereka adalah Cardiff City, pertandingan tak dihelat di King Power Stadium, tapi di markas lawan. Partai ini tak menjadi sekadar pertemuan dua tim di pekan ke-11 Premier League 2018/19.
Kemenangan di laga ini tak hanya akan memberikan tambahan tiga poin untuk Leicester, tapi bentuk penghormatan terbaik bagi sang pemilik yang telah berpulang. Maka, bertarunglah rubah biru merengkuh kemenangan.
Kemenangan yang didapat pada kenyataannya bukan kemenangan telak, hanya 1-0. Tapi, kemenangan tipis terkadang menjadi penanda bahwa tim mengerahkan segala daya untuk menantang segala ketidakmungkinan.
Catatan statistik menunjukkan bahwa Leicester tidak bermain sebagai superior di rumah Cardiff. Apa yang muncul di sana menunjukkan perbedaan yang tak signiifkan bila dibandingkan dengan penampilan The Foxes di Premier League 2018/19. Dalam 10 pertandingan sebelumnya, Leicester membukukan 12,01 tembakan per laga dengan 4,78 di antaranya mengarah ke gawang. Lantas, di laga ini, Leicester mencatatkan 13 tembakan dengan 5 di antaranya tepat sasaran.
ADVERTISEMENT
Hegemoni yang ditunjukkan oleh keunggulan penguasaan bola mereka di sepanjang laga yang dihelat di Cardiff City Stadium ini pun tak kentara, hanya 59,9%. Namun, kemenangan itu pada akhirnya tetap diraih Leicester berkat gol Demarai Gray pada menit 55.
Kasper Schmeichel jelang laga Cardiff melawan Leicester. (Foto: Richard Heathcote/Getty Images)
Leicester mungkin tak tampil istimewa-istimewa amat, tapi kemenangan itu tetap direngkuh dengan sisa-sisa kekuatan yang hampir habis dilahap duka. Atas segala hal yang diperjuangkan oleh timnya di lapangan hijau, sang penjaga gawang, Kasper Schmeichel, tak dapat menyembunyikan kebanggaannya.
"Saya merasa bangga. Ini menjadi pekan yang begitu sulit bagi setiap orang di klub ini, tapi bagaimana cara setiap orang di sini mengatasi kesulitan itu menjadi penghormatan terbaik yang bisa kami berikan kepada keluarga yang sudah dibangun oleh Vichai (Srivaddhanaprabha) ini."
ADVERTISEMENT
"Seperti apa kesulitan itu terlihat jelas di laga ini. Tapi, saya bangga dengan permainan tim dan seprofesional apa mereka. Laga ini menjadi begitu emosional, tapi saya bahagia karena kami berhasil mengemas tiga poin," jelas Schmeichel dalam wawancara seusai laga, dilansir Skysport.
Penghormatan kepada mendiang tak hanya ditunjukkan di awal laga, tapi juga setelah laga usai. Semua pemain berdiri selama 10 menit bersama suporter, memberikan aplaus sambil membentangkan spanduk bertuliskan 'Thank you Vichai'.
"Tidak banyak orang yang benar-benar memberikan pengaruh dalam hidup Anda. Vichai memberikan impak yang begitu besar pada hidup saya. Reaksi yang diberikan orang-orang di laga ini membuktikan bahwa ia adalah sosok yang begitu menyentuh hidup banyak orang," jelas putra kiper legendaris, Peter Schemeichel, ini.
ADVERTISEMENT
"Kami begitu bangga karena mengenalnya. Dan saat ini, pikiran kami tertuju kepada keluarga yang ditinggalkan. Kami semua terluka karena kepergiannya, tapi tidak ada yang dapat membayangkan seperti apa rasa sakit yang dialami oleh keluarganya. Kami ingin melakukan apa pun untuknya dan keluarganya," pungkas Schmeichel.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan