Kumparan Logo

Mempertahankan Solskjaer, Menjaga United sebagai Tim Besar

kumparanBOLAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ole Gunnar Solskjaer merayakan kemenangan Manchester United atas Paris Saint-Germain. Foto: Reuters/John Sibley
zoom-in-whitePerbesar
Ole Gunnar Solskjaer merayakan kemenangan Manchester United atas Paris Saint-Germain. Foto: Reuters/John Sibley

Belum ada kepastian soal masa depan Ole Gunnar Solskjaer sebagai pelatih Manchester United. Secara teknis, sosok berkebangsaan Norwegia itu memang berperan sebagai juru taktik tim. Namun, secara administratif, statusnya kini masih pelatih interim.

Andy Cole, mantan rekan Solskjaer kala berseragam 'Setan Merah' dulu, ikut angkat bicara. Menurut Cole, menjadikan Solskjaer sebagai pelatih tetap United merupakan keputusan terbaik, sekaligus logis.

Disebut logis, karena keputusan itu tidak diambil berdasarkan romantisme belaka bahwa Solskjaer adalah legenda United. Catatan pertandingan menjadi dasar.

Dari 13 pertandingan Premier League 2018/19, United berhasil memenangi 10 laga bersama Solskjaer. Begitu pula dengan kiprah mereka di kompetisi seakbar Liga Champions.

Eric Abidal (jas hitam) dan Andy Cole (jas navy) di malam pengundian perempat final Liga Champions 2018/19. Foto: Fabrice COFFRINI / AFP

"Kalau saya punya wewenang, saya akan memberikan jabatan itu untuknya. Saat ia datang ke klub saya dapat melihat mengapa mereka (klub) mengambil keputusan itu," jelas Cole, mengutip Sky Sports.

"Tapi, mari kita jujur sejujur-jujurnya, saya pikir, belum ada pelatih (setelah Sir Alex -red) yang menangani United sehebat Ole. Ia masuk dan membangkitkan semangat tim. Mereka pun mendapatkan hasilnya di waktu yang tepat," ujar Cole.

Bicara soal deretan pelatih, United memang sudah bekerja dengan empat pelatih dalam kurun waktu lima tahun belakangan. Sejak Sir Alex Ferguson memutuskan untuk hengkang pada 2013, United bolak-balik merombak kursi kepelatihan.

Kepergian Sir Alex diikuti dengan pengangkatan David Moyes, Ryan Giggs (pelatih interim), Louis van Gaal, dan Jose Mourinho. Tapi dari semuanya, tak ada yang memberikan dampak signifikan.

Ferguson bersama trofi Liga Champions 1999. Foto: Getty Images

Oke, Mourinho berhasil mempersembahkan gelar juara Liga Europa untuk pertama kalinya pada United. Namun, jika bicara kompetisi Eropa, tim sekelas United seharusnya membidik Liga Champions, bukannya berkoar-koar soal Liga Europa.

Apa yang dilakukan oleh Solskjaer sekarang memang masih permulaan. Terlebih, penampilan United pun menjadi bukti sahih bahwa mereka juga tidak kalis dari kekalahan.

Laga melawan Arsenal di Premier League, Paris Saint-Germain di Liga Champions, dan Wolverhampton Wanderers di Piala FA--menjadi coreng yang tak bisa diabaikan begitu saja.

"Oke, mereka memang kalah beberapa kali. Tapi saya pikir, ia sedang mencoba untuk membuat Manchester United bertanding seperti Manchester United--sepak bola yag atraktif, mencetak gol demi gol, dan menghibur," kata Cole.

Para pemain Manchester United merayakan gol. Foto: REUTERS/David Klein

Tim memang tidak punya tugas untuk kalis dari kekalahan. Kehidupan lapangan bola bukannya negeri dongeng. Tidak ada yang too good to be true bila bicara sepak bola. Sekuat-kuatnya tim, ia pasti akan menelan kekalahan.

Arsenal boleh membusungkan dada karena pernah menutup Premier League tanpa kekalahan sebiji pun. Tapi, itu kan cuma cerita semusim, setelahnya kita semua tahu sendiri.

Yang harus mereka lakukan adalah merawat kejayaan--kalau memang sudah pernah berjaya. Kalau belum, ya, bangunlah kejayaan itu. United adalah tim yang pernah hidup dalam masa kejayaan. Bahkan saat kondisi sekarang tak se-sophisticated era Sir Alex, United masih dipandang sebagai klub besar.

Berangkat dari sini, yang harus dilakukan oleh United adalah merawat kejayaan itu sendiri. Hal pertama yang bisa dan mesti dilakukan United adalah hidup dengan sikap sebagai klub besar.

Bagian ini pulalah yang membikin Cole prihatin. Sebelum laga pekan ke-30 melawan Arsenal, United sempat semringah saat menduduki posisi empat besar. Suporter dan seisi klub bersorak merayakan pencapaian ini.

Pemain-pemain Manchester United merayakan kelolosan mereka ke perempat final Liga Champions 2018/19. Foto: REUTERS/Benoit Tessier

Lantas, kekalahan 0-2 dari Arsenal pada pekan ke-30 menggeser United ke peringkat lima. Pembicaraan yang selanjutnya santer terdengar adalah bagaimana mengembalikan United ke empat besar.

Sepintas, tak ada yang salah dengan merayakan empat besar. Toh, syarat untuk berlaga di Liga Champions musim depan juga paling tidak menutup musim di posisi keempat. Tapi bagi Cole, mendiami empat besar seharusnya menjadi perihal yang biasa bagi United. Kalau memang ada yang harus dirayakan, itu adalah gelar juara.

"Saat orang-orang membicarakan bagaimana agar Manchester United finis di empat besar besar dan jika tercapai itu bakal menjadi saat yang tepat untuk berpesta, saya langsung garuk-garuk kepala," jelas Cole.

"Tidak ada yang harus dirayakan kalau ceritanya seperti itu. Ini Manchester United. Bagi saya, berselebrasilah jika menjuarai liga, melangkah ke final kompetisi Eropa, atau memenangi trofi Piala FA," tegas Cole.