Pencarian populer

Menakar Pendar para Jangkar di Premier League 2018/19

N'Golo Kante berduel dengan Jordan Henderson. (Foto: Reuters)

Langkah paling simpel untuk melihat identitas sebuah kesebelasan adalah dengan melihat cara kerja gelandang bertahanannya. Cara bermain Fernandinho yang dinamis, misalnya, merepresentasikan sistem Manchester City yang mengandalkan fluiditas. Atau nihilnya komposisi gelandang bertahan Liverpool musim lalu yang amat mendukung agresivitas mereka.

Untuk menyambut tirai Premier League yang akan dibuka Sabtu (11/8/2018), menarik untuk jangkar-jangkar yang bakal berpendar di Premier League musim depan.

N'Golo Kante

Haram rasanya andai tak mencantumkan N'Golo Kante dalam list ini. Perannya sebagai pengikis serangan lawan amat signifikan bagi Chelsea, dan titel Premier League edisi 2016/2017 jadi bukti sahih atas kerberhasilannya.

Sampai-sampai Kante dianugerahi sebagai pemain terbaik PFA sekaligus jadi gelandang bertahan yang meraih titel tersebut selama gelaran Premier League, selain Roy Keane di musim 1999/2000.

Yang mungkin jadi ganjalan adalah pergantian tampuk kepelatihan Chelsea dari Antonio Conte ke Maurizio Sarri. Namun, besar kemungkinan itu tak akan jadi hambatan berarti bagi Kante.

Format 4-3-3 yang diusung Sarri identik dengan pakem yang menaungi Kante bersama Prancis di Piala Dunia 2018 lalu. Terlebih, jebolan akademi Le Havre tersebut juga bakal memainkan porsi penting dalam skema umpan-umpan pendek, dan Kante akan jadi penyeimbang sempurna untuk pakem semacam itu. Mirip-mirip dengan Alan Marques yang difungsikan serupa oleh Sarri di Napoli.

Kante dalam sesi latihan Prancis. (Foto: GABRIEL BOUYS / AFP)

Fabinho

Fabinho boleh jadi orang baru di Liverpool. Kendati demikian, namanya tak bisa dikesampingkan sebagai jangkar yang berperan vital bagi kelangsungan The Reds musim ini.

Memang, Jordan Henderson jadi pilihan utama Juergen Klopp di musim lalu. Namun, kehadiran Fabinho bukan untuk menggantikannya, melainkan melengkapi kapten Liverpool itu sebagai jembatan distribusi bola --sebelas-dua belas dengan peran yang diembannya bersama Timoue Bakayako di AS Monaco, musim 2016/2017 silam.

Fabinho bemain lebih dalam demi melindungi back-four. Menurut WhoScored, mantan penggawa Real Madrid itu mencatatkan rata-rata 3,4 umpan kunci per laga, kelima terbanyak di antara seluruh pemain Ligue 1 musim lalu. Itu baru untuk bola-bola bawah, sementara kemampuannya untuk menangkal bola-bola atas cukup teruji lewat torehan 2,9 kemenangan duel udara di tiap pertandingan.

Satu lagi, Klopp, bagaimanapun juga, menginginkan agresivitas dari lini tengah dan Fabinho, cepat atau lambat, bakal menjawabnya nanti. Total 16 gol dicetaknya dalam dua edisi Ligue 1 ke belakang, jumlah yang terbilang tinggi untuk seorang gelandang bertahan.

Pemain anyar Liverpool, Fabinho, menyapa para fan. (Foto: Reuters/Ed Sykes)

Fernandinho

Bila menyebut satu figur yang tak tergantikan di Manchester City era Pep Guardiola, Fernandinho adalah jawaban yang tepat. Fakta mengatakan jika dirinya termasuk dalam empat besar penggawa yang intens diturunkan Guardiola di Premier League musim lalu.

Dibutukan kecairan dalam skema skema juego de pocition yang diusung Guardiola. Khususnya, spesialisasi olah bola plus pergerakan dinamis. Apalagi, untuk seorang gelandang bertahan yang dituntut untuk melindungi pertahanan serta mengalirkan arus bola dari belakang, yang dikomandoi Nicolas Otamendi, ke depan.

Itulah gambaran pendek dari porsi kerja Fernandinho. Kompleks? Tentu saja. Akan tetapi, mantan penggawa FC Shakhtar Donetsk itu membuktikan jika dirinya mampu menyeimbangkan area tengah City. Buktinya, catatan intersep Fernandinho menjadi yang tertinggi di City, dengan rata-rata 1,4 per laga.

Meski usianya telah menginjak 33 tahun, Guardiola diperdiksi masih akan memfungsikan Fernandinho musim depan. Pertama, karena ia melakoni tugasnya dengan apik di edisi sebelumnya. Alasan selanjutnya karena City tak punya gelandang yang mampu tampil defensif di samping tingginya agresivitas mereka.

Andalan City, Fernandinho. (Foto: Reuters/Carl Recine )

Nemanja Matic

Apa yang dimiliki Nemanja Matic adalah Jose Mourinho banget. Dengan kemampuan komplitnya, mantan arsitek FC Porto itu bisa menggunakan pragmatismenya secara maksimal. Saat bermain bertahan, Matic akan diplot untuk mengover jantung pertahanan. Kala mengaktifkan mode menyerang, pemain asal Serba itu akan tampil ofensif.

Latar belakang sebagai playmaker di masa lalu membuat instingnya terlatih demikian. Lebih dari sekadar pengalir bola ulung, melainkan juga ketepatan dalam membaca permainan lawan. Rata-rata 1,8 intersep dibukukannya per laga, lebih tinggi dari gelandang United lainnya.

Selain itu, tidak sekali dua kali Matic muncul sebagai pembeda bagi United. Yang paling anyar adalah kala dia sukses mencetak gol kemenangan ke gawang Crystal Palace di Premier League awal Maret silam.

Dengan sistem permainan United yang belum banyak berubah di laga pra-musim, maka Matic juga tetap akan menjadi sosok yang tetap penting pada Premier League 2018/2019 nanti.

Nemanja Matic jadi kunci di lini tengah MU. (Foto: Reuters/Andrew Yates)

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: