Pencarian populer

Mengenal Bos Leicester, Vichai Srivaddhanaprabha, yang Penuh Enigma

Vichai Srivaddhanaprabha menuju helikopter pribadinya. (Foto: Action Images via Reuters/Carl Recine)

Di mata para pemain Leicester City dan orang-orang yang terlibat dengan klub itu, Vichai Srivaddhanaprabha adalah sosok yang rendah hati dan begitu dicintai. Di Thailand, ia punya citra berbeda.

Lahir di Bangkok, Thailand, 4 April 1958, Vichai menjelma menjadi malaikat untuk Leicester —tidak hanya Leicester City FC, tetapi juga untuk kota di Midlands tersebut. Selain membeli dan membebaskan klub dari utang, Vichai juga dikenal sebagai patron ketika The Foxes, yang saat itu ditangani Claudio Ranieri, menjuarai Premier League 2015/16.

Bagi banyak pendukung Leicester, menjuarai Premier League jauh lebih tidak mungkin ketimbang menemukan unicorn di halaman belakang rumah. Namun, sebagai sebuah kota, Leicester punya keunikan tersendiri.

Dalam sebuah tulisannya, ‘Romantisme Tanpa Rasa Congkak’, Yusuf Arifin, kepala kolaborasi kumparan yang pernah bekerja di beberapa media di Inggris, menyebut Leicester sebagai kota yang ‘berdiri sama tinggi, duduk sama rendah’.

Leicester diisi oleh orang-orang dari beragam etnis, mencampur fish and chips dengan bumbu curry, lalu merayakan Natal dan Diwali dengan sama meriahnya. Lewat segala kerendahan hati itu, mereka tidak pernah bermimpi menjadi tuan rumah dari sebuah tim yang sukses menjuarai Premier League.

Terlebih, Leicester City bukanlah tim sarat prestasi seperti Manchester United ataupun Liverpool. Pencapaian terbaik mereka hanyalah tiga kali menjadi juara Piala Liga Inggris. Maka, menjadi juara Premier League, yang merupakan level tertinggi kompetisi liga di Inggris, adalah mimpi yang kelewat muluk.

Namun, Vichai menunjukkan bahwa tidak ada yang namanya terlalu muluk untuk Leicester. Setelah membeli klub dengan harga 39 juta poundsterling pada 2010, ia membawa klub tersebut promosi ke Premier League empat tahun kemudian.

Semusim setelah promosi, Leicester mengangkangi banyak prediksi. Alih-alih mencoba bertahan atau sekadar mondar-mandir di papan tengah, Leicester membidik jauh sekalian. Ketika konsistensi perlahan-lahan digapai, mereka mulai berani mengumpulkan tekad. Di ujung cerita, trofi Premier League itu pun mereka angkat.

Vichai adalah orang paling kaya nomor empat di Thailand. Sebagai miliarder, ia betul-betul tertutup dan tidak pernah menerima tawaran wawancara. Di Leicester, ia menyerahkan kepengurusan klub kepada putranya, Aiyawatt, yang menjabat sebagai vice-chairman, Chief Executive Susan Whelan, dan Direktur Olahraga Jon Rudkin.

Kendati begitu, Vichai terbilang sering menonton Jamie Vardy dan kolega bertanding di King Power Stadium —biasanya, ia hadir di directors’ box dengan didampingi oleh Aiyawatt— dan menyelesaikan masalah-masalah krusial secara langsung.

Pemilik Leicester City, Vichai Srivaddhanaprabha, bersama trofi Premier League. (Foto: Reuters/Jorge Silva)

Dalam tulisannya untuk The Guardian, Stuart James menceritakan bagaimana Vichai menyelesaikan masalah kontrak anyar Vardy, striker super-agresif milik Leicester yang jadi protagonis ketika mereka menjuarai liga. James menulis, Vichai mengundang Vardy langsung ke ruangan pribadinya di King Power, sebuah tempat di mana Vardy tidak pernah menginjakkan kaki sebelumnya.

Di sana, mereka bicara panjang lebar. Vichai menjabarkan kondisi keuangan klub dan mengungkapkan betapa pentingnya Vardy buat dia. Sang striker kemudian keluar dari ruangan dengan muka semringah. Ia merasa bahagia dan akhirnya mau menandatangani kontrak anyar. Padahal, pembicaraan antara agen Vardy dan perwakilan klub sebelumnya sempat alot.

Ketelitiannya membangun Leicester dan sentuhan personalnya kepada pemain itulah yang membuat Vichai dicintai suporter. Namun, cerita berbeda muncul ketika berbicara soal sosoknya di Thailand.

Koresponden BBC untuk Asia Tenggara, Jonathan Head, menyebut Vichai sebagai sosok yang penuh enigma. Ia juga tidak lepas dari kontroversi.

“Dia dikenal sebagai pendiri King Power, yang terbilang kontroversial karena memonopoli bisnis ritel di Thailand. Semuanya meledak ketika terjadi pelonjakan dalam dunia pariwisata dalam 20-30 tahun terakhir,” ujar Head.

Vichai Srivaddhanaprabha saat berada di King Power Stadium. (Foto: Reuters/Andrew Boyers)

“Dia adalah orang yang tertutup dan begitu juga perusahaannya. Tidak banyak yang diketahui soal dirinya. Dia mendirikan perusahaan itu tahun 1989 dan mendapatkan kekayaan dengan begitu cepat.”

Vichai, yang memiliki darah keturunan China, memiliki empat anak. Keempatnya ikut terlibat di dalam perusahaan King Power. Per BBC, ia juga disebut menjalankan perusahaan itu seperti layaknya keluarga China lainnya: Memberikan kepercayaan lebih kepada keluarga dan anak-anaknya.

“Dia tidak pernah memberikan wawancara. Jadi, meskipun dia begitu dicintai di Leicester, dia tetap menjadi enigma tersendiri di sini,” kata Head.

Vichai meninggal dunia di usia 60 tahun. Ia meninggal akibat kecelakaan helikopter yang terjadi di dekat King Power Stadium, Sabtu (27/10) malam waktu setempat.

====

*Kabar soal meninggalnya bos Leicester City, Vichai Srivaddhanaprabha, bisa Anda ikuti di topik: Vichai Srivaddhanaprabha.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: