Kumparan Logo

Persis Solo: Raksasa Tanah Jawa yang Bersiap Bangkit dari Tidurnya

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Persis Solo. (Foto: Instagram/@pasoepatinet)
zoom-in-whitePerbesar
Persis Solo. (Foto: Instagram/@pasoepatinet)

Sastrosaksono, R. Ng. Reksodiprojo, dan Sutarman memiliki keyakinan bahwa sepak bola dapat dimainkan oleh siapa saja. Dan, siapapun berhak mendapat kesempatan untuk menunjukkan kebolehannya memainkan si kulit bundar di atas lapangan. Tak ada batasan. Termasuk status Pribumi yang melekat pada masyarakat Solo.

Untuk mewujudkan hal-hal yang mereka anggap benar mengenai sepak bola dan mendobrak batasan yang ada, pada 8 November 1923, mereka mendirikan sebuah perkumpulan sepak bola dengan nama Vorstenlandsche Voetbal Bond (VVB).

Perkumpulan itu terdiri dari beberapa klub yang sudah terbentuk di Solo sebelumnya, seperti Mars dan Romeo. Melalui sepak bola, VVB juga merencanakan pergerakkan nasional dari satu lapangan ke lapangan.

Tak heran apabila pada 1928, di bawah asuhan Soemokartiko, VVB mengubah nama menjadi Persatuan Sepak bola Indonesia Solo atau yang dikenal dengan Persis Solo. Perubahan nama itu dilakukan untuk mengejawantahkan salah satu poin dari Sumpah Pemuda, yakni menjunjung tinggi bahasa Indonesia.

Perjuangan Persis semakin masif. Puncaknya pada 19 April 1930, Persis bersama enam perkumpulan sepak bola lainnya, seperti Bandoeng Inlandsche Voetball Bond (BIVB)--cikal-bakal Persib Bandung, Voetball Inlandsche Jacatra (VIJ)--sekarang Persija Jakarta, dan Soerabhaiasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB)--embrio Persebaya Surabaya, ikut menggagas berdirinya Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dengan berpartisipasi dalam pertemuan yang berlangsung di Societeit Hadiprojo, Yogyakarta.

Persis pun ikut andil dalam penyelenggaraan kompetisi perdana PSSI pada 1931. Selain Persis, ada dua perkumpulan lain yang berpartisipasi pada kompetisi tersebut.

Mereka adalah VIJ dan PSIM Yogyakarta. Ketiga perkumpulan tersebut beradu kuat. Sayang, Persis harus menelan dua kekalahan dan menjadi juru kunci. Saat itu, VIJ yang keluar sebagai juaranya.

Persis tak lantas menyerah. Mereka terus melakukan perbaikan. Kompetisi yang lebih ketat membuat mereka mesti berusaha lebih keras untuk berlaga di kompetisi nasional. Sebab, Persis memulai perjuangannya di zona Jawa Tengah dan dihadapkan pada lawan yang berat, yakni PSIM.

Masa-masa sulit Persis akhirnya berakhir pada 1935 dan langsung berhasil meraih gelar pertama seusai mengalahkan PPVIM Jatinegara Jakarta di partai puncak. Langkah Persis tak terhentikan di musim selanjutnya.

Kala itu, Persib menjadi korban Persis di babak final. Akan tetapi, Persis baru meraih gelar ketiganya pada 1939. Gelar juara ini terbilang amat spesial. Pasalnya, mereka sukses mengalahkan sang rival, PSIM.

instagram embed

Hal serupa terjadi pada musim berikutnya. Lagi-lagi PSIM menjadi korban Persis di partai puncak. Dua gelar tersebut menggambarkan bahwa Persis merupakan klub besar dari Jawa Tengah. Superioritas Persis tak berhenti sampai situ. Tiga gelar kembali diraih Persis pada 1942, 1943, dan 1948.

Kendati demikian, kejayaan Persis perlahan mulai meredup. Terlebih, ketika PSSI membentuk kompetisi Perserikatan, Persis selalu gagal mengukir prestasi. Bahkan, pada musim 1954, Persis harus menelan pil pahit usai kalah telak dengan skor 0-13 dari VIJ.

Tak ada gelar yang diraih Persis sejak Perserikatan. Raihan minor Persis terus berlanjut sampai Liga Indonesia lahir. Prestasi yang dinanti-nantikan pun akhirnya datang pada musim 2006/2007. Kala itu, Persis melaju ke Divisi Utama setelah sukses menyabet predikat runner-up Divisi I.

Pada 2009, Persis mengalami masalah besar terkait finansial. Mereka hampir saja mengundurkan diri karena tak memiliki dana untuk mengarungi kompetisi musim depan. Beruntung bagi Persis, mereka mendapat suntikan dana yang membuat mereka tetap berlaga di Divisi Utama.

Kendati begitu, Pasoepati--suporter setia Persis--tak pernah lelah mengawal dan memberi dukungan kepada klub kebanggaannya. Bahkan, pada musim 2014, Pasoepati membuat satu koreografi 3D yang bergambarkan pemain Persis menatap trofi, dan di bawah gambar raksasa tersebut bertuliskan 'Bring Back Our Victory'.

instagram embed

Sebuah harapan yang teramat besar dari Pasoepati kepada klub kebanggaannya. Koreografi tersebut tak lepas dari kebehasilan Persis melaju ke babak 8 besar Divisi Utama. Akan tetapi, Persis yang saat itu diarsiteki oleh Widyantoro gagal menjejak kaki di kompetisi teratas sepak bola Indonesia.

Apa yang terjadi musim 2014 terulang pada musim 2017. Ya, Persis diluar dugaan sukses melaju hingga babak 8 besar. Kejutan-kejutan yang diberikan Persis bermula dari keberhasilannya meraih 8 kemenangan, 5 imbang dan satu kali kalah yang membuatnya menjadi runner up Grup 4 di babak pertama. Raihan tersebut sudah cukup bagi Persis untuk menyingkirkan Persiba Bantul dan Sragen United.

Kejutan kembali disajikan Persis di babak 16 besar. Dengan sistem home-away, Persis bisa menjadi pemuncak klasemen usai mencatatkan tiga kemenangan, satu hasil imbang dan dua kali kalah. Catatan itu lagi-lagi sudah cukup bagi Persis untuk menyingkirkan tim besar macam PSS Sleman.

Namun, kejutan akhirnya berhenti di babak 8 besar. Sanksi yang dijatuhkan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI kepada pelatih mereka, Widyantoro, menjadi pemicunya.

Alhasil, di babak 8 besar, Persis diarsiteki oleh mantan pelatih PSS, Freddy Mully. Hasilnya pun tak bisa dikatakan memuaskan. Persis hanya meraih satu kemenangan dan dua kali kalah. Hasil itu akhirnya memaksa mereka mengubur harapan untuk berlaga di Liga 1 2018.

X post embed

Kegagalan dan kesulitan yang terus menerpa Persis tak lantas membuat Pasoepati mengurangi loyalitas dan totalitasnya dalam mengawal klub kebanggaan. Perlahan namun pasti, Persis terus mengalami perbaikan, termasuk dalam mempersiapkan diri berlaga di Liga 2 2018.

Pelatih hebat macam Jafri Sastra didatangkan. Pemain-pemain yang pernah berlaga di Liga 1, seperti Sunarto dan Oky Derry, bakal menjadi tulang punggung Persis musim ini.

Dengan persiapan dan perbaikan yang telah dilakukan, bukan tak mungkin musim depan Persis akan menjejak kaki di kompetisi teratas. Kembali mengukir prestasi seperti yang pernah mereka lakukan saat menjadi bagian dari bangkitnya sepak bola Indonesia.

Mungkin juga inilah saatnya bagi Persis, sang raksasa, untuk bangkit dari tidurnya.