Pencarian populer

Petr Cech: Tekanan Bikin Arsenal Tampil Lebih Garang

Gawang Petr Cech jadi lumbung gol. Foto: Reuters/Phil Noble

Begitu krusial pertandingan final Liga Europa 2018/19 buat Arsenal. Laga ini bukan cuma memperebutkan trofi juara bersama Chelsea, tetapi juga sebagai cara terakhir The Gunners untuk bisa berkompetisi di Liga Champions musim depan.

Jika gagal di kompetisi level kedua Eropa ini, maka Arsenal tercatat dalam tiga musim beruntun tak lolos ke Liga Champions. Berbeda dengan Arsenal, laga ini ‘cuma’ berarti sebagai perebutan gelar juara bagi skuat Maurizio Sarri.

Pasalnya, ‘Si Biru’ sudah mengamankan tiket ke Liga Champions musim 2019/20 usai finis di posisi tiga klasemen Premier League. Maka, tak salah jika anggapan tekanan lebih besar berada di kubu Arsenal muncul ke permukaan.

Kendati demikian, Petr Cech menganggap tekanan yang hadir akan membuat skuat Unai Emery tampil lebih baik dan mendapat hasil positif. Komentar ini tak terlontar sembarangan, tetapi berdasar pengalamannya bermain untuk ‘Meriam London’ sejak 2015.

“Saya merasa ketika Arsenal butuh kemenangan, biasanya kami mendapatkannya. Saya ingat ketika kami pergi ke Athena untuk partai terakhir grup Liga Champions (2015), kamu butuh menang 2-0 dan akhirnya menang 3-0,” kata Cech kepada Evening Standard.

“Di mana pun bermainnya, kami menang, karena semangat itu berada tepat di belakang kami, karena kami harus benar-benar menang. Tekanan itulah yang akhirnya memberi dorongan kepada kami,” tuturnya menambahkan.

Namun, performa Arsenal sempat jauh dari penurutan Cech saat memasuki akhir musim Premier League. Mesut Oezil dan kolega menelan tiga kekalahan beruntun dari pekan 34-36. Tren buruk ini membuat mereka gagal finis di posisi empat besar.

Petr Cech merayakan dengan Laurent Koscielny di akhir pertandingan. Foto: Reuters

“Saya sangat tidak setuju dengan pendapat orang yang mengatakan ‘ketika tekanan datang, kami tidak menang’. Saya tak berpikir demikian, kami kehilangan poin justru karena kurangnya tekanan,” jelas sosok asal Republik Ceko itu.

“Ketika kami melawan Everton, kami tahu kalau menang akan naik ke posisi tiga, kalau pun kalah tetap keempat, lalu kami kalah. Begitu juga saat melawan Wolverhampton Wanderers, Crystal Palace, dan Leicester City, semuanya di situasi yang sama,” tegasnya.

Tak cuma dari sisi tim tekanan hadir buat Arsenal, bagi Cech sebagai individu pun tekanan besar menanti. Bukan tanpa alasan, tentu saja, karena pertandingan ini mengharuskannya melawan mantan tim yang pernah dibela 11 tahun dan merupakan laga terakhirnya bersama Arsenal.

Namun demikian, Cech tak gentar, tidak pula menganggap tekanan sebagai hambatan. Buktinya jelas menurut pemain berusia 37 tahun itu, Arsenal comeback atas Rennes di 16 besar, lalu melewati fase perempat final, dan semifinal dengan hasil meyakinkan.

“Selalu ada tekanan, pasti selalu ada. Kita bahkan mungkin harus memberikan lebih banyak tekanan kepada semua orang karena itu akan memberi mereka lebih banyak hal untuk dipikirkan,” pungkas Cech.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.53