Kumparan Logo

Romantisnya Duet Jan Vertonghen dan Toby Alderweireld

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Vertonghen dan Alderwireld, solid. (Foto: Julian Finney/Getty Images)
zoom-in-whitePerbesar
Vertonghen dan Alderwireld, solid. (Foto: Julian Finney/Getty Images)

"Dia (Toby Alderweireld) adalah studi kasus menarik karena jika dilihat dari statistiknya, sebetulnya dia biasa-biasa saja. Akan tetapi, ada hal-hal lain yang membuatnya jadi pemain yang tepat (untuk Tottenham Hotspur)." - Rob Mackenzie, mantan Kepala Bagian Identifikasi Pemain Tottenham Hotspur

Jalan seorang Toby Alderweireld untuk mencapai titik puncak karier sebetulnya tidak terlalu terjal. Malah, pemain kelahiran Antwerp, Belgia, 27 tahun lalu ini punya pintu masuk yang memungkinkannya untuk jadi pesepak bola top: Akademi Ajax.

Perjalanan kariernya pun seperti tak pernah mendapat hambatan berarti. Setelah melakukan debut di tim senior Ajax saat masih berusia 18 tahun, Alderweireld benar-benar mampu menjadi pemain inti di skuat Ajax setahun kemudian. Kepergian Thomas Vermaelen ke Arsenal membuat satu slot bek sentral pun lowong. Di situlah dia pertama kali berpasangan dengan orang yang kini juga jadi pendampingnya di jantung pertahanan Tottenham, Jan Vertonghen.

Adalah Martin Jol, mantan pelatih Tottenham, yang memasangkan kedua orang ini di Ajax. Dan sejak itu, nama kedua orang ini mulai kerap dibicarakan orang. Dengan Vertonghen-Alderweireld di sentral pertahanan, Ajax berhasil menjadi juara Eredivisie Belanda pada musim 2010/11 dan 2011/12.

Namun, setelah gelar kedua itu, Vertonghen hengkang dari Ajax. Maklum, ketika itu, bek bertinggi 189 cm ini sudah berusia 25 tahun dan harus cepat-cepat mencoba peruntungan di tempat baru; di liga yang lebih baik. Tottenham pun jadi pilihan Vertonghen, meski tawaran mengalir deras dari banyak pihak. Pertimbangannya cuma satu: Di Tottenham, dia akan mendapat kesempatan bermain lebih besar.

Alderweireld, sementara itu, bertahan semusim lagi di Ajax. Pada musim 2012/13 itu, dia pun berhasil mempersembahkan satu lagi gelar liga untuk Ajax. Namun, di akhir musim, dia pun hengkang.

Atletico Madrid jadi pelabuhan Toby Alderweireld berikutnya dan di sinilah, kesulitan mulai datang menghampiri.

Di klub ibu kota Spanyol tersebut, Toby Alderweireld gagal bersaing dengan Joao Miranda dan Diego Godin yang menjadi duet tak tergantikan di pos bek tengah. Alhasil, dia pun kerap dimainkan sebagai bek kanan, posisi yang memang sejak dulu biasa dilakoninya. Akan tetapi, di pos bek kanan ini pun, dia bukan pilihan utama karena Atletico sudah punya Juanfran sebagai pemain utama. Total, Alderweireld hanya memperkuat Atletico di 13 pertandingan dan pada musim berikut, dia dipinjamkan ke Southampton.

Meski terlihat seperti sebuah penurunan, sesungguhnya kepindahan ke Southampton ini lebih disebabkan oleh faktor Ronald Koeman, sosok pelatih yang sangat berbau Ajax. Tanpa pikir panjang, Alderweireld pun menerima tawaran tersebut dan pada akhirnya, berhasil membangkitkan kariernya yang kolaps di Vicente Calderon.

Jika Alderweireld menjalani musim yang menyenangkan, Jan Vertonghen justru mengalami kesulitan. Ketika itu, Spurs baru saja menunjuk Mauricio Pochettino yang sebelumnya menangani Southampton dan Vertonghen pun harus merelakan posisinya di tim inti Spurs jatuh ke tangan Younes Kaboul. Namun, seiring memburuknya performa Kaboul, Vertonghen berhasil mengambil kembali posisinya dan hingga kini, dia tak tergantikan di skuat Tottenham.

Pada musim 2015/16, manajemen Tottenham berusaha untuk mencari pasangan yang tepat untuk Jan Vertonghen. Federico Fazio sebetulnya bukan pemain yang buruk. Hanya saja, gaya bermain Pochettino menuntut tipe bek yang berbeda. Pencarian pun dilakukan,

Seperti yang diutarakan Rob Mackenzie, mantan Kepala Bagian Identifikasi Pemain Tottenham Hotspur, kepada SkySports, ketika itu Tottenham memiliki banyak opsi untuk pendamping Vertonghen. Dasarnya memang jodoh, setelah menilai berbagai faktor, baik teknis maupun nonteknis, pilihan pun akhirnya jatuh kepada Toby Alderweireld.

Mackenzie, dalam kolom yang ditulis Adam Bate tersebut, menyatakan bahwa ada enam faktor yang membuat Alderweireld akhirnya jadi pilihan. Pertama, soal pengalaman Alderweireld bermain di level elite bersama Atletico Madrid. Meski kontribusinya terhitung minim, Alderweireld tetap merupakan bagian dari skuat yang mampu melaju ke final Liga Champions. Selain itu, pengalaman Liga Champions-nya bersama Ajax serta penampilan di Piala Dunia 2014 pun turut masuk hitungan.

Kedua, soal keserbabisaan Alderweireld itu sendiri. Mahir bermain sebagai bek tengah, kanan, maupun kiri, Alderweireld dianggap memiliki kemampuan teknikal yang mumpuni dan bisa berguna bagi Tottenham yang ingin melakukan perampingan skuat. Hal ini sedikit banyak berhubungan dengan faktor ketiga, yakni soal kebugaran fisik si pemain. Dengan adanya keinginanan untuk merampingkan skuat, sementara mereka harus berlaga di banyak kompetisi, pemain dengan level kebugaran seperti Alderweireld ini tentu bakal bisa berbuat banyak.

Kemudian, ada soal tren penampilan. Diungkap Mackenzie, setiap tim yang diperkuat Toby Alderweireld pasti memiliki pertahanan yang disiplin, terorganisasi dengan baik, dan punya catatan statistik bagus. Di Southampton yang notabene hanya tim papan tengah pun, Alderweireld mampu menggalang pertahanan mereka jadi unit yang solid. Ketika itu, gawang Southampton hanya kebobolan 33 kali, satu gol lebih buruk dibanding Chelsea yang jadi juara dan punya catatan defensif terbaik.

Kelima, mental juara Alderweireld. Bersama Ajax dan Atletico, Alderweireld pernah menjadi bagian dari tim yang tak asing dengan gelar. Hal itu diharapkan mampu ditularkan ekspemain Akademi Germinal Beerschot ini di Tottenham.

Terakhir, faktor Jan Vertonghen itu sendiri. Rekam jejak apik mereka di Ajax menunjukkan bahwa Alderweireld-lah orang yang seharusnya jadi tandem Vertonghen. Rasa saling percaya dan pengertian antara kedua pemain ini tidak bisa tidak dijadikan pertimbangan. Lagipula, mereka pun berasal dari sekolah yang sama, sehingga meng-klop-kan dua pemain ini (kembali) jelas bukan perkara sulit.

Setelah dipasangkan kembali, kedua orang ini akhirnya memang mampu tampil luar biasa. Musim lalu, Tottenham bersama Manchester United menjadi tim dengan catatan defensif terbaik dengan hanya kebobolan 35 gol. Catatan ini bahkan mampu mengungguli catatan milik sang juara, Leicester City dan runner-up, Arsenal, yang masing-masing kemasukan 36 gol.

Di musim ini, tren tersebut tetap terjaga. Hingga kini, Tottenham adalah tim dengan catatan defensif terbaik. Dari 21 laga yang telah mereka lakoni, 14 gol baru bersarang di gawang Hugo Lloris. Menariknya, dari jumlah itu, gol yang berasal dari open play hanya 5. Bandingkan dengan Manchester City, misalnya, yang harus kebobolan 4 gol open play dalam satu laga ketika kalah telak dari Everton, akhir pekan (15/1/2017) lalu.

X post embed

Tren ini, pada akhirnya, memang bukan kebetulan. Persis dengan apa yang dikatakan Rob Mackenzie. Sekali dua kali itu kebetulan, tetapi jika terus menerus seperti ini, tentu ada yang spesial dari Toby Alderweireld, terutama jika dipasangkan dengan Jan Vertonghen.

Ledley King, mantan kapten Tottenham, kepada Evening Standard, mengatakan bahwa Jan Vertonghen dan Toby Alderweireld ini memang tidak memiliki kelemahan berarti.

"Terkadang, ada bek yang sangat bagus dalam duel udara, punya atribut fisik yang bagus, tetapi kewalahan menghadapi pemain-pemain kecil yang lincah. (Akan tetapi) mereka bisa menghadapi semua jenis pemain," puji King.

Jermaine Jenas pun tak mau ketinggalan. Masih dikutip dari Evening Standard, mantan gelandang Tottenham dan Newcastle United itu mengatakan bahwa perbedaan kaki dominan antara Alderweireld dan Vertonghen juga jadi keunggulan tersendiri. Vertonghen yang kidal bisa lebih nyaman menghadapi pemain-pemain yang menusuk dari sisi kanan, dan begitu pula sebaliknya. Selain untuk urusan bertahan, perbedaan kaki yang dominan ini -- ditambah dengan kemampuan ball-playing kedua bek -- juga sangat berguna dalam melakukan build-up permainan.

Kini, Jan Vertonghen sedang mengalami cedera yang membuatnya harus absen enam pekan. Toby Alderweireld pun untuk sementara harus kehilangan belahan jiwanya tersebut. Akan tetapi, di kubu Tottenham sudah ada Kevin Wimmer yang selain sama-sama kidal, juga cukup nyaman dengan bola, meski belum sebagus Vertonghen. Sejauh ini, Wimmer pun selalu mampu menunjukkan performa yang memuaskan manakala dipercaya mengisi satu slot di jantung pertahanan Tottenham.

Meski begitu, satu hal yang perlu diingat adalah besok (21/1/2017), lawan yang akan mereka hadapi bukan lawan sembarangan. Manchester City boleh dipermalukan Everton akhir pekan lalu. Namun, Manchester City tetaplah Manchester City. Sebuah klub yang memiliki pemain-pemain dengan kualitas individual ciamik. Berpasangan dengan Wimmer yang lebih muda, kepemimpinan serta kemampuan mengorganisasi pertahanan seorang Toby Alderweireld pun akan mendapat ujian berat.

Akankah Alderweireld melemah tanpa Vertonghen? Kita nantikan besok!