Roy Keane: Kalian ‘Kan Manchester United, Beli Pemain Lagi Dong

17 Desember 2018 15:52 WIB
clock
Diperbarui 15 Maret 2019 3:52 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Selebrasi dari pemain Manchester United usai mencetak gol. (Foto: REUTERS/Phil Noble)
zoom-in-whitePerbesar
Selebrasi dari pemain Manchester United usai mencetak gol. (Foto: REUTERS/Phil Noble)
ADVERTISEMENT
Belanja terus sampai mati, begitu kata Efek Rumah Kaca. Secara gamblang, lagu yang dirilis lewat album pertama mereka tersebut menyindir habis kehidupan urban yang amat getol masuk pusat perbelanjaan dan keluar dengan tentengan segudang.
ADVERTISEMENT
Manchester United, secara tidak langsung, mengingatkan kami akan lagu itu. Semenjak era Sir Alex Ferguson berakhir dan masa David Moyes yang begitu singkat lewat, mereka bersikap bak orang kaya baru yang kejatuhan warisan: Belanja, belanja, belanja.
Memang, tidak ada salahnya sebuah klub besar belanja pemain mahal. Lagipula, klub besar mana, sih, yang tidak begitu? Liverpool membeli mahal Virgil van Dijk dan Alisson Becker hingga keluar lebih dari 100 juta poundsterling. Sementara, Manchester City merombak habis barisan lini belakangnya dengan nilai yang kurang lebih sama.
Namun, di situ bedanya. Liverpool dan City mengidentifikasi betul-betul apa yang dibutuhkan oleh tim mereka. Alhasil, belanja mahal mereka tidak mubazir. Bandingkan dengan United, membeli banyak pemain mahal, tapi sejauh ini hasilnya masih begitu-begitu saja. Beberapa bahkan sudah angkat kaki dari klub (ingat Angel Di Maria?).
ADVERTISEMENT
Jose Mourinho memimpin Manchester United saat menghadapi Liverpool. (Foto: Carl Recine/Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Jose Mourinho memimpin Manchester United saat menghadapi Liverpool. (Foto: Carl Recine/Reuters)
Melesetnya pembelian mahal United menunjukkan dua hal. Pertama, sebagai sebuah klub, United kekurangan visi dan grand design. Kedua, sang pelatih, Jose Mourinho, dinilai kurang tanggap dalam memaksimalkan potensi pemain-pemainnya.
Andai Mourinho lebih proaktif, ia dinilai (semestinya) bisa memaksimalkan pemain-pemain semodel Paul Pogba, Romelu Lukaku, hingga Anthony Martial dan Marcus Rashford. Pogba adalah kepingan penting Prancis ketika menjuarai Piala Dunia 2018, sementara Lukaku tampil tajam bersama Belgia. Lalu, mengapa keduanya jadi melempem di level klub?
Di tengah sederet kritik dan pertanyaan itu, ada yang tidak bisa ditawar-tawar: United butuh perombakan di lini belakang. Usai melihat ‘Iblis Merah’ dikalahkan 1-3 oleh Liverpool di Anfield, Minggu (16/12/2018) malam WIB, Roy Keane menyebut bahwa ada beberapa pemain yang mestinya disingkirkan.
ADVERTISEMENT
“United tidak pernah betul-betul jadi ancaman. Liverpool mendominasi semua aspek di dalam pertandingan: Penguasaan bola, jumlah gol, jumlah tembakan, sampai sepak pojok,” ujar Keane seperti dilansir Sky Sports.
“Ini yang saya khawatirkan sebelum laga. Saya lihat timnya dan berpikir, apa mereka bakal dieksploitasi habis? Dan ternyata memang begitu yang terjadi. Ada kekhawatiran melihat mereka saat ini.”
Romelu Lukaku (tengah) berupaya merebut bola dari penguasaan bek lawan. (Foto: JOSE JORDAN/AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Romelu Lukaku (tengah) berupaya merebut bola dari penguasaan bek lawan. (Foto: JOSE JORDAN/AFP)
“Saya sendiri meyakini, ada banyak pemain mereka yang tidak cukup bagus bermain untuk Manchester United. Mereka memang pemain bagus —tapi tak cukup bagus buat United.”
“Pemain-pemain yang bermain hari ini memang sudah berusaha sebaik mungkin, tapi saya pikir itu tidak cukup. Secara defensif, mereka tidak cukup bagus. Saya paham, banyak yang bilang bahwa mereka sudah keluar banyak duit untuk membeli bek, tapi tetap saja mereka tidak cukup bagus. Beli lagi dong. Kalian ‘kan Manchester United. Katanya, kalian klub besar,” kata eks kapten United ini.
ADVERTISEMENT
Ah, lagi-lagi belanja…