Kumparan Logo

Terkait Pengaturan Skor, Komite Wasit Juga Jadi PR PSSI

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peluit (ilustrasi) (Foto: Ben Stansall)
zoom-in-whitePerbesar
Peluit (ilustrasi) (Foto: Ben Stansall)

Kabar mengejutkan datang dari PSSI saat menggandeng lembaga independen penyedia data olahraga asal Jerman, Genius Sport (GS), pada September 2017. GS memiliki perangkat lunak untuk mengidentifikasi setiap detail pertandingan sepak bola.

Sistem pemantauan GS membandingkan pergerakan peluang taruhan pasar judi di seluruh dunia dengan algoritma khusus. Teknologi itu membantu mengidentifikasi aktivitas yang berpotensi mencurigakan.

Dengan menggandeng GS, PSSI bermaksud untuk memberantas praktik pengaturan skor di sepak bola Indonesia. Kepercayaan PSSI kepada GS untuk mencegah praktik pengaturan skor memang tak salah. Pasalnya, GS sendiri bermitra dengan AFC, Bundesliga, dan Premier League.

Sejauh ini, GS tengah bergerak menyelidiki beberapa laga yang diduga sarat pengaturan skor. Meski demikian, GS tak bisa melangkah sendirian. Ratu Tisha Destria, Sekretaris Jenderal PSSI, memberikan lampu hijau untuk menggandeng Satuan Tugas (Satgas) Anti-Mafia Bola yang dibentuk Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Tisha menegaskan bahwa sinergi dengan Satgas Anti-Mafia Bola membuat federasi tak hanya punya wewenang di hukum olahraga, tapi juga punya kepanjangan tangan yang bisa menyentuh hukum negara. “Kami sadar tidak bisa berjalan sendirian untuk memerangi kasus ini. Ada dua hukum, yaitu hukum keolahragaan dan hukum negara. Kami cuma bisa menyentuh hukum keolahragaan, sementara hukum negara menjadi wewenang Polri,” tutur Tisha, Jumat (4/1/2019).

“Sebetulnya kami sudah punya program kerja sejak 2017. Kami memiliki kerja sama dengan GS. Mereka bekerja mengidentifikasi hal-hal yang merusak integritas. Sementara terbukanya peluang bersinergi dengan Polri bisa memutakhirkan kerja sama kami dengan GS,” kata Tisha.

Skema pengaturan skor (match fixing) di sepak bola Indonesia. (Foto: Sabryna Putri Muviola/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Skema pengaturan skor (match fixing) di sepak bola Indonesia. (Foto: Sabryna Putri Muviola/kumparan)

Upaya yang sudah dilakukan PSSI tinggal menunggu hasil. Publik sepak bola Indonesia saat ini tengah tergerus kepercayaan akan integritas federasi lantaran mencuatnya kasus pengaturan skor.

Tak cuma kepada federasi, pecinta sepak bola Tanah Air juga mulai tak memercayai kinerja wasit Indonesia. Terungkapnya skandal pengaturan skor membuka mata publik bahwa wasit pun bisa diatur penugasannya oleh komite wasit.

Tampaknya, PSSI kecolongan oleh aktivitas tersebut. Pasalnya, Tisha menjelaskan bahwa penugasan wasit sudah melewati beberapa tahapan.

“Mekanisme penugasan wasit bersumber dari evaluasi teknis. Wasit dipilih dari tiga tingkat tim teknis. Pertama, tim penilai wasit di lapangan. Kedua, Direktur Teknik Wasit, Toshiyuki Nagi. Kami bekerja sama dengan federasi sepak bola Jepang (JFA) dalam hal perwasitan. Ketiga, dua penilai wasit yang ada di Jepang. Hasil evaluasi teknis itu diberikan kepada komite wasit untuk dirapatkan setiap minggu. Kemudian mereka membuat peringkat wasit dan dipilih serta ditugaskan berdasarkan keseluruhan evaluasi teknis itu,” ujar Tisha.

Hanya saja, prosedur itu belum sepenuhnya berjalan baik. Hal itu diperkuat celotehan Bambang Suryo, Manajer Persekam Metro FC, yang mengungkapkan adanya pengaturan dalam penugasan wasit untuk pertandingan yang ingin diatur.

“Saya menyampaikan kepada Satgas Anti-Mafia Bola soal apa yang direncanakan PSSI ke depan. Kami berharap kerja sama dengan Polri bisa mengendalikan dan mencegah pengaturan skor. Kami tentu masih mengedepankan integritas dan sportivitas sebagai program unggulan federasi. Kami berkomitmen membersihkan sepak bola Indonesia dari hal yang bisa merusak sportivitas dan integritas,” kata Tisha.