Kumparan Logo

Toby si Pemberi Bukti

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Alderweireld membela Timnas Belgia pada laga persahabatan menghadapi Portugal. (Foto: AFP/Emmanuel Dunand)
zoom-in-whitePerbesar
Alderweireld membela Timnas Belgia pada laga persahabatan menghadapi Portugal. (Foto: AFP/Emmanuel Dunand)

Tak semua orang datang ke Piala Dunia 2018 dengan tujuan sama. Ada yang datang karena ingin dinobatkan sebagai pesepak bola terbaik dunia. Ada pula yang ingin memecahkan rekor-rekor tertentu. Lalu, ada pula yang berangkat ke Rusia dengan tekad membalas dendam.

Toby Alderweireld adalah salah satu dari mereka yang berlaga di Piala Dunia dengan memendam kesumat. Pemain Tim Nasional (Timnas) Belgia itu merasa sakit hati karena ditepikan di hampir sepanjang paruh kedua musim 2017/18 oleh manajernya di Tottenham Hotspur, Mauricio Pochettino.

Musim lalu, Alderweireld memang tak banyak terlibat di level klub. Di Premier League dan Liga Champions, dia cuma turun 18 kali. Padahal, pada awal musim dia senantiasa menjadi pilihan utama Pochettino.

Penyebab awalnya adalah cedera. Saat kompetisi memasuki musim dingin, tepatnya pada November 2017, hamstring pemain berusia 29 tahun ini mengalami masalah yang ternyata cukup parah sehingga harus dirawat sampai tiga bulan. Akan tetapi, tiga bulan itu kemudian bertambah panjang.

Alderweireld sebenarnya sudah menyatakan dirinya fit untuk bermain sejak Januari 2018. Akan tetapi, setelah itu dia hanya bermain dalam enam pertandingan.

Setiap kali ditanyai soal mengapa Alderweireld tidak bermain, jawaban Pochettino selalu sama. Yakni, bahwa dia hanya bisa memilih sebelas pemain di timnya dan mereka yang terpilih hanyalah para pemain yang menunjukkan keseriusan di sesi latihan. Singkat kata, Pochettino menganggap bahwa Alderweireld sudah ogah-ogahan bermain untuk Tottenham.

Masalah itu sempat mengancam kans Alderweireld untuk dipanggil ke skuat Piala Dunia. Pelatih Belgia, Roberto Martinez, menyebutkan bahwa tanpa menit bermain yang cukup, Alderweireld bisa saja tersingkir. Kendati demikian, pada akhirnya Martinez tetap memanggil mantan pemain Ajax tersebut.

Di Piala Dunia, Alderweireld menunjukkan kelasnya. Dia selalu bermain dalam tujuh pertandingan yang dijalani Belgia dan dari sana, dia sukses mencatatakan 4,9 aksi defensif per laga. Selain itu, sebiji assist pun mampu dia persembahkan pada pertandingan menghadapi Tunisia.

Alderweireld tak cuma memberi bukti di atas lapangan. Dalam sebuah wawancara singkat dengan para pewarta Inggris, dia juga melancarkan serangan balik kepada Pochettino.

"Aku sangat fokus di turnamen ini karena aku ingin membuktikan sesuatu pada diriku sendiri, untuk menunjukkan bahwa keputusan untuk tidak memainkan diriku, apa pun alasannya, adalah keputusan yang tidak adil. Aku ingin menunjukkan bahwa aku masih Toby yang sama," tutur Alderweireld seperti dilansir Reuters.

Alderweireld benar. Apa yang ditampilkannya di Piala Dunia memang merupakan bukti bahwa dia masih pemain yang sama. Namun, Pochettino punya alasan kuat untuk membangkucadangkannya. Manajer asal Argentina itu, seperti diwartakan Independent, tidak ingin suasana ruang ganti kembali kacau akibat ada pemain yang ogah-ogahan bermain untuk Spurs.

Pada musim 2016/17, salah satu alasan di balik kolapsnya Spurs pada akhir musim adalah niat Kyle Walker untuk hengkang. Pemain yang kini merumput bersama Manchester City itu, sebelum musim berakhir, sudah berpamitan dengan rekan-rekannya. Apa yang dilakukan Walker membuat ruang ganti jadi tidak harmonis, terutama karena hal itu membuat pemain lain jadi ingin angkat kaki.

Eskpresi tegang Pochettino di bangku cadangan. (Foto: AFP/Adrian Dennis)
zoom-in-whitePerbesar
Eskpresi tegang Pochettino di bangku cadangan. (Foto: AFP/Adrian Dennis)

Danny Rose, contohnya. Pada musim panas 2017, menyusul kepindahan Walker ke City, Rose juga kabarnya diminati oleh duo Manchester, City dan United. Konon, karena ingin pindah inilah Rose kemudian merajuk. Alhasil, meski versi resminya adalah karena dia masih cedera, terdemosinya Rose ke bangku cadangan adalah buah dari gosip transfer yang membuat si pemain jadi tidak fokus.

Hal-hal itulah yang tak ingin diulangi lagi oleh Pochettino. Di balik tidak bermainnya Alderweireld di sepanjang paruh kedua musim 2017/18, ada negosiasi perpanjangan kontrak yang mandek. Kontrak Alderweireld di Spurs sendiri bakal berakhir pada musim panas 2019. Pochettino ingin agar Spurs punya posisi tawar terhadap para pemainnya sendiri dan itulah yang membuat Alderweireld tersisih.

Sialnya lagi bagi Alderweireld, di situasi seperti itu, Davinson Sanchez dan Jan Vertonghen mampu menjalin kerja sama yang padu. Padahal, sebelum-sebelumnya, pasangan sehati Vertonghen hanyalah Alderweireld seorang.

Di sisi lain, rumor ketertarikan Manchester United kepada Alderweireld juga tak kunjung surut. Bermula pada musim dingin 2017, rumor tersebut berlanjut sampai musim panas 2018. Dengan kondisi macam ini, kemungkinan besar Alderweireld memang bakal segera pergi dari Tottenham.

***

"Dia (Toby Alderweireld) adalah studi kasus menarik karena jika dilihat dari statistiknya, sebetulnya dia biasa-biasa saja. Akan tetapi, ada hal-hal lain yang membuatnya jadi pemain yang tepat (untuk Tottenham Hotspur)," kata Rob Mackenzie suatu kali.

Mackenzie dulu pernah bekerja untuk Tottenham, tepatnya sebagai Kepala Bagian Identifikasi Pemain. Kepada Sky Sports, pria yang kini bekerja untuk Sunderland itu mengidentifikasi enam alasan mengapa Alderweireld jadi sosok yang pas untuk menjadi bek Tottenham.

Vertonghen dan Alderwireld, solid. (Foto: Julian Finney/Getty Images)
zoom-in-whitePerbesar
Vertonghen dan Alderwireld, solid. (Foto: Julian Finney/Getty Images)

Pertama, soal pengalaman Alderweireld bermain di level elite bersama Atletico Madrid. Meski kontribusinya terhitung minim, Alderweireld tetap merupakan bagian dari skuat yang mampu melaju ke final Liga Champions. Selain itu, pengalaman Liga Champions-nya bersama Ajax serta penampilan di Piala Dunia 2014 pun turut masuk hitungan.

Kedua, soal keserbabisaan Alderweireld itu sendiri. Mahir bermain sebagai bek tengah, kanan, maupun kiri, Alderweireld dianggap memiliki kemampuan teknikal yang mumpuni dan bisa berguna bagi Tottenham yang ingin melakukan perampingan skuat.

Hal ini sedikit banyak berhubungan dengan faktor ketiga, yakni soal kebugaran fisik si pemain. Dengan adanya keinginanan untuk merampingkan skuat, sementara mereka harus berlaga di banyak kompetisi, pemain dengan level kebugaran seperti Alderweireld ini tentu bakal bisa berbuat banyak.

Kemudian, ada soal tren penampilan. Disebut Mackenzie, setiap tim yang diperkuat Toby Alderweireld pasti memiliki pertahanan yang disiplin, terorganisasi dengan baik, dan punya catatan statistik bagus. Di Southampton, Alderweireld mampu menggalang pertahanan mereka jadi unit yang solid. Musim 2014/15, gawang Southampton hanya kebobolan 33 kali, satu gol lebih buruk dibanding Chelsea yang jadi juara dan punya catatan defensif terbaik.

Kelima, mental juara Alderweireld. Bersama Ajax dan Atletico, Alderweireld pernah menjadi bagian dari tim yang tak asing dengan gelar. Hal itu diharapkan mampu ditularkan eks pemain Akademi Germinal Beerschot ini di Tottenham.

Terakhir, ada faktor Vertonghen. Rekam jejak apik mereka di Ajax menunjukkan bahwa Alderweireld-lah orang yang seharusnya jadi tandem Vertonghen. Rasa saling percaya dan pengertian antara kedua pemain ini tidak bisa tidak dijadikan pertimbangan. Lagipula, mereka pun berasal dari sekolah yang sama, sehingga mengklopkan dua pemain ini kembali takkan jadi perkara sulit.

Pemain Spurs, Alderweireld  menepi karena cedera. (Foto: Adrian DENNIS / AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Pemain Spurs, Alderweireld menepi karena cedera. (Foto: Adrian DENNIS / AFP)

Atas dasar itulah Alderweireld kemudian direkrut dari Southampton. Hasilnya pun sebenarnya sangat memuaskan. Pada musim 2016/17 yang merupakan musim kedua Alderweireld dan Vertonghen bersatu kembali, Tottenham menjadi tim dengan pertahanan terbaik di Premier League dengan hanya kemasukan 26 gol.

Sebagai pemain, jalan Alderweireld untuk mencapai puncak sebenarnya tergolong mudah. Ketika berusia 15 tahun, pria kelahiran Antwerp ini mendapat kesempatan untuk bergabung dengan Akademi Ajax. Tentu saja tawaran itu diterimanya dan dari sanalah dia berhasil menapak level yang lebih tinggi.

Setelah melakukan debut di tim senior Ajax saat masih berusia 18 tahun, Alderweireld benar-benar mampu menjadi pemain inti di skuat Ajax setahun kemudian. Kepergian Thomas Vermaelen ke Arsenal membuat satu slot bek sentral pun lowong. Di situlah dia pertama kali berpasangan Vertonghen.

Adalah Martin Jol, mantan pelatih Tottenham, yang memasangkan kedua orang ini di Ajax. Dan sejak itu, nama kedua orang ini mulai kerap dibicarakan orang. Dengan Vertonghen-Alderweireld di pusat pertahanan, Ajax berhasil menjadi juara Eredivisie pada musim 2010/11 dan 2011/12.

Namun, setelah gelar kedua itu, Vertonghen hengkang dari Ajax. Maklum, ketika itu, bek bertinggi 189 cm ini sudah berusia 25 tahun dan harus cepat-cepat mencoba peruntungan di liga yang lebih baik. Meski tawaran mengalir deras dari banyak pihak, Tottenham akhirnya jadi pilihan Vertonghen karena kesempatan menjadi pemain inti terbuka lebar.

Alderweireld, sementara itu, bertahan semusim lagi di Ajax. Pada musim 2012/13 itu, dia berhasil mempersembahkan satu lagi gelar liga untuk Ajax. Namun, di akhir musim, dia pun ikut-ikutan hengkang.

Alderweireld saat bermain untuk Ajax. (Foto: AFP/Jeff Pachoud)
zoom-in-whitePerbesar
Alderweireld saat bermain untuk Ajax. (Foto: AFP/Jeff Pachoud)

Atletico Madrid jadi pelabuhan Alderweireld berikutnya dan di sinilah, kesulitan mulai datang menghampiri. Di klub ibu kota Spanyol tersebut, dia gagal bersaing dengan Joao Miranda dan Diego Godin yang menjadi duet tak tergantikan di pos bek tengah.

Alhasil, Alderweireld pun kerap dimainkan sebagai bek kanan, posisi yang memang sejak dulu biasa dilakoninya. Akan tetapi, di pos bek kanan ini pun, dia bukan pilihan utama karena Atletico sudah punya Juanfran. Total, Alderweireld hanya memperkuat Atletico di 13 pertandingan dan pada musim berikut, dia dipinjamkan ke Southampton.

Meski terlihat seperti sebuah penurunan, sesungguhnya kepindahan ke Southampton ini lebih disebabkan oleh faktor Ronald Koeman, sosok pelatih yang sangat berbau Ajax. Tanpa pikir panjang, Alderweireld pun menerima tawaran tersebut dan pada akhirnya, berhasil membangkitkan kariernya yang kolaps di Vicente Calderon.

Kini, masa edar Alderweireld di Tottenham sepertinya sudah akan habis. Namun, The Lilywhites rasanya tetap tidak akan melepas pemilik 83 caps Timnas Belgia ini dengan mudah. Untuk mendapatkannya, Manchester United dikabarkan harus mengeluarkan uang 55 juta poundsterling.

Di United, Alderweireld kemungkinan besar bakal diduetkan bersama Eric Bailly. Alderweireld menawarkan keunggulan teknik olah bola, Bailly menawarkan kemampuan bertahan yang apik. Semestinya, peran Alderweireld itu sudah jadi milik Victor Lindeloef, tetapi bek Swedia itu tampaknya masih kelewat hijau hingga sering berbuat kesalahan.

Alderweireld, dengan pengalamannya, diharapkan mampu membawa kestabilan yang absen di lini belakang United. Harga 55 juta pounds itu, kendati masih terlalu mahal untuk pemain berusia 29 tahun yang kontraknya bakal segera habis, rasanya bakal jadi harga yang pantas untuk mendapat lini belakang yang jauh lebih solid.