Totti: Para Petinggi Tidak Menyadari Apa yang Mereka Kerjakan di Roma

Tak ada konferensi pers perpisahan yang mengharu-biru ketika Francesco Totti memutuskan hengkang dari AS Roma. Bukan, ini bukan nostalgia soal Totti yang pensiun sebagai pemain.
Ini tentang Totti yang meletakkan jabatannya sebagai Direktur AS Roma. Konferensi pers yang digelar pada Senin (17/6/2019) mirip dengan yang dilakoni Daniele de Rossi pada Mei 2019, ketika ia mengumumkan hengkang dari Roma. Ada kegeraman yang mengakar di sana, bercampur dengan kekecewaan tak terperi.
Konflik dengan para petinggi? Oh, itu sudah pasti.
Yang menjadi pertanyaan tentu apa-apa saja yang sebenarnya dilakukan para bos itu sehingga Totti mengambil keputusan paling janggal dalam hidupnya: Pergi dari Roma setelah mengabdi selama 30 tahun.
Serigala Kota Roma ibarat bertarung tanpa taji di sepanjang 2018/19. Roma terhenti di babak 16 besar Liga Champions usai kalah 3-4 secara agregat dari FC Porto.
Perempat final menjadi babak terakhir yang diikuti Roma di Coppa Italia. Kekalahan memang perkara wajar dalam setiap laga. Tapi, hei, kalah 1-7 dari Fiorentina tampaknya berlebihan untuk disebut kewajaran.
Derita Roma tambah lengkap karena mereka menutup Serie A di posisi keenam alias tanpa tiket Liga Champions 2019/20. Padahal, lolos Liga Champions acap menjadi target minimal bagi tim ternama Eropa yang tak bisa menutup kompetisi sebagai kampiun.
Kekalahan demi kekalahan dan menutup musim tanpa satu gelar juara pun memang perkara memuakkan bagi Totti. Tapi, masih ada yang lebih buruk ketimbang daftar minor yang panjang itu. Bagi Totti, itu adalah sikap para petinggi menyikapi kekalahan.
"Ketika peluit panjang berbunyi dan kau melihat para direktur itu seperti senang-senang saja dengan kekalahan, itu benar-benar membuatmu marah. Ya, benar. Itulah yang terjadi. Sudahlah, saya tidak akan menyebut nama. Tapi, begini: Apa pun yang terjadi, selama kami bersatu, saya yakin kami bisa merengkuh pencapaian yang lebih baik," jelas Totti, dikutip dari Football Italia.
Ada alasan mengapa Totti berjuluk Pangeran Roma. Itu bukan tentang catatan administratif yang membenarkan bahwa ia orang Roma asli. Tapi, karena komitmennya untuk bersetia betul dengan Roma--termasuk sepak bolanya. Rasanya, tak ada orang yang lebih Roma ketimbang Totti.
Meski layak buat disebut sebagai orang Roma garis keras, bukan berarti Totti tidak terbuka dengan orang baru. Itulah sebabnya ia tetap menerima kehadiran para petinggi yang notabene bukan orang Roma. Ambil contoh, James Pallotta, orang Boston yang kini menjabat sebagai presiden klub.
Namun, begitu kau masuk ke Roma, jangan terus-terusan menjadi orang asing. Cobalah menjadi satu dengan klub, memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan klub dan suporter. Belajarlah untuk mulai memaknai sepenting apa Roma untuk suporter.
Hal-hal macam itulah yang diinginkan Totti. Tapi, kenyataannya begitu: Tak kesampaian hingga akhirnya ia angkat kaki.
"Saya pikir, para petinggi itu tidak menyadari apa yang mereka kerjakan di sini karena mereka tidak tinggal di kota ini, menyimak siaran televisi, radio, dan membaca berita. Menjadi orang Roma, memahami apa artinya menjadi orang Roma berbeda dengan yang mereka lakukan. Kamu harus ada di kota ini untuk menyadarinya," jelas Totti.
Berangkat dari situ, Totti meyakini bahwa persentasi relevansi keputusan yang diambil oleh para petinggi di Amerika Serikat sana tak lebih dari 1%. Baginya, kekukuhan untuk menolak permintaan pelatih saat timmu karut-marut saja sudah tak masuk akal.
"Saya tidak ingin melawan Pallotta dan (Franco) Baldini. Di sini saya menjelaskan mengapa saya mengundurkan diri. Setelah semifinal Liga Champions, kamu tentu menjadikan final tahun depan sebagai target."
"Tapi, begini. Saya ingin membela (Eusebio) Di Francesco di sini. Pelatih mungkin membuat sejumlah kesalahan, tapi ia meminta empat atau lima orang pemain. Berapa yang dikabulkan? Nol," jelas Totti.
Masa depan Totti tentu menjadi pertanyaan selanjutnya. Dalam konferensi persnya itu, Totti menyebut bahwa ia menerima sejumlah tawaran. Tapi, ini bukan keputusan yang bisa diambil atas alasan: Ah, yang penting ada. Bagaimanapun, ada banyak hal yang mesti dipertimbangkan Totti.
"Saya tidak akan menganggur. Ada banyak tawaran dari klub-klub Italia, bahkan satu di antaranya saya terima tadi pagi. Saya akan mempertimbangkan segalanya karena, toh, sekarang saya sudah bebas."
"Juve atau Napoli? Ayolah, jangan berpikir kelewat liar sampai ke sana. Atas nama respek terhadap Roma, saya tidak akan mengambil keputusan itu. Maksud saya, pekerjaan-pekerjaan bersama FIFA, UEFA--ya, pokoknya untuk sementara yang seperti itu," ujar Totti.
