Pencarian populer

Trackback: Sergio Ramos, sang Matador Lapangan Hijau

Sergio Ramos dengan kostum nomor 4-nya. Foto: Reuters/Juan Medina

Membicarakan persepsi selalu menarik, karena cara pandang seorang manusia tak pernah tetap. Ia selalu berubah, seperti waktu yang terus berjalan. Inilah yang menjadi daya tarik setiap kisah manusia, termasuk Sergio Ramos; bek kelas dunia yang telah berusia 33 tahun per tanggal 30 Maret ini.

Sebagai seorang atlet, citra seorang penakut tak pernah melekat kepada Ramos. Malah, sosok asli Sevilla itu tak segan berdebat dengan wasit, beradu argumen dengan lawannya. Tentu Ramos tak hanya pandai omong. Di atas lapangan, dia juga lihai melancarkan aksi bertahan demi menguntungkan timnya.

Luis Suarez dan Sergio Ramos bersitegang pada sebuah partai El Clasico. Foto: Getty Images/Alex Caparros

Selalu ada implikasi terhadap sebuah aksi. Dari kegemilangannya itu, terdaftar dalam tim terbaik, atau dinobatkan sebagai bek terbaik di musim tertentu sudah menjadi fenomena biasa bagi Ramos. Secara keseluruhan, Ramos telah menyabet 47 penghargaan individual.

Kegemilangan Ramos inilah yang membuat kisahnya bersama Timnas Spanyol dipenuhi rona ceria. Ramos menjadi salah satu wajah familiar ketika negaranya menjuarai Piala Dunia 2010. Dia juga menjadi sosok kunci kala tim berjuluk La Roja itu menggamit Piala Eropa secara back-to-back pada 2008 dan 2012.

Bersama Real Madrid, dia juga tak tergantikan. Total 20 gelar telah Ramos rasakan sejak bergabung bersama Los Blancos pada 2005 silam. Empat di antaranya merupakan La Liga, empat lainnya merupakan Liga Champions, dan tiga di antara ialah trofi Copa del Rey.

Dari kisah ini, muncul kesan bahwa Ramos seperti memang terlahir untuk menjadi jawara sepak bola. Walau begitu, sukses di sepak bola tak pernah terbesit di kepala Ramos kecil. Jangankan itu, menjadikan olah bola sebagai sarana penyambung nyawa saja tak pernah muncul sebagai bunga tidurnya kala itu.

Sergio Ramos, kapten Timnas Spanyol. Foto: REUTERS/Maxim Shemetov

Seperti bocah lainnya di Kota Sevilla, Ramos terobsesi menjadi seorang matador. Saking terobsesinya, dia bisa menonton olahraga adu banteng itu setiap hari seperti tidak ada hal lain yang lebih penting untuk dilakukan. Namun, hobi ini mendapat pertentangan serius dari ibunya.

Di mata ibunya, Ramos merupakan anak yang manis dan, selayaknya seorang ibu, dia melakukan apa saja untuk melindungi anaknya. Nyeri di tulang akibat terseruduk banteng adalah risiko yang tidak bisa dihindarkan lagi ketika menjadi seorang matador. Dan ibunya tak siap akan itu.

Kerisauan sang ibulah yang membuat Rene--abangnya Ramos--mengambil sikap. Suatu waktu, dia menawarkan Ramos untuk mencoba sepak bola sebagai pengganti mimpi sebagai matador. Ramos tak pernah bilang ya atau tidak, tetapi orang tuanya sudah memberikannya pelatih khusus.

Kemudian, siapa sangka jika Ramos rupanya pelan-pelan mencintai sepak bola? Mantap dalam latihan khusus, Ramos lalu masuk ke FC Camas, tim besar di kampungnya, dan di klub itulah dia menjadi primadona. Ramos sering mendapatkan penghargaan dan sering pula diwawancarai selepas laga oleh media lokal.

Keberhasilan bersama Camas inilah yang membuat Sevilla pada akhirnya mengetuk pintu rumahnya dan meminta Ramos bergabung. Dia menyetujuinya, dan kariernya kembali berjalan mulus. Pada 2005, Real Madrid menebus Ramos dengan mahar 27 juta euro.

Di klub itulah, Ramos yang kita kenal sekarang dibentuk. Dan pada akhirnya, keberhasilan yang membuat Ramos menerima menjadi matador bukan karier yang pas untuknya. Kendati demikian, cinta Ramos terhadap adu banteng tak pernah luntur.

Itulah yang membuatnya berteman karib dengan Alejandro Talavante, seorang matador kondang dari Spanyol. Juga membuatnya memiliki kandang banteng di kampung halamannya, Camas, Sevilla.

Ramos mencium trofi Liga Champions. Foto: Reuters/Paul Hanna

Selain itu, telah menjadi fenomena lumrah ketika Ramos merayakan gelar juara bersama Spanyol dan Madrid dengan membawa kain khas matador. Di atas lapangan, dia mengibas-ngibas kain tersebut selayaknya yang dia injak bukan rumput, tetapi tanah merah dan ada banteng marah di depannya.

Sesekali, kecintaan Ramos terhadap adu banteng berhasil membuat Rene--yang pada akhirnya berlaku sebagai agen Ramos--pening. Pada 2009 silam misalnya, Ramos pernah ketahuan meninggalkan laga kandang Madrid demi bertemu dengan Tavalante di suatu tempat di Kota Madrid.

Ironisnya, Ramos saat itu masih mengenakan baju Madrid. Keputusan Ramos ini membuatnya menjadi daya tarik dan kemudian fotonya tersebar. Dengan begitu, mau tak mau Ramos meminta maaf. Dalam pernyataan maafnya, Ramos juga menyinggung soal komitmen terhadap Madrid.

“Untuk apa yang telah saya lakukan, saya meminta maaf kepada fans, rekan tim, dan klub yang saya rugikan. Saya menerima segala konsekuensi dari tindakan saya. Tetapi, komitmen saya terhadap klub ini tak usahlah diragukan lagi,” ucapnya kala itu, sebagaimana dilansir Marca.

Sergio Ramos mencium logo Madrid di kostumnya usai mencetak gol. Foto: Susana Vera/Reuters

Ya, begitulah. Dunia adu banteng tak pernah pergi dari Ramos. Dan tanpa menceritakan kisah-kisah seperti ini pun, sepertinya mudah untuk Anda percaya bahwa Ramos miliki obsesi gila menjadi seorang matador. Karena aksinya di atas lapangan sudah menafsirkan itu semua.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.36