Manjakan Hewan Ternak Demi Kualitas Daging Terbaik, Apakah Perlu?

Bagi penikmat daging, tentu tekstur yang lembut, empuk, bahkan lumer di mulut jadi sebuah syarat yang wajib ada dalam produk hewani. Lagipula, siapa sih, yang menyukai daging alot dan keras? Digigit saja sulit, apalagi harus melewati kerongkongan?
Tak heran, tekstur daging menentukan kelas dan harganya. Daging dibedakan dari tingkat marbling atau pola garis lemak di tiap potongannya. Jumlah marbling ini yang akan menentukan kelembutan, intensitas rasa, dan juiciness pada daging.
Makin baik tingkat marbling-nya, makin mahal harganya.
Nah, kalau berbicara soal kualitas daging, pastinya tak lepas dari kesehatan hewan ternak. Demi mendapatkan daging terbaik, para peternak menghujani hewan ternak dengan berbagai perlakuan istimewa, memanjakan mereka selayaknya manusia.
Di Indonesia, perlakuan spesial untuk daging yang akan dikonsumsi juga bukan menjadi hal baru. Misalnya saja Mike Tyson, sapi yang dibeli oleh Jokowi untuk Idul Adha tahun ini. Sapi sebesar 1,05 ton itu punya tempat tidur sendiri, yang berupa alas karpet seharga Rp 2 juta. Alasannya, supaya si sapi bisa tidur dengan nyenyak.
Beberapa peternak juga kerap memberikan racikan jamu khusus untuk sapi, seperti madu atau air tebu, supaya menambah nafsu makan dan minum si hewan ternak.
Kami pun menghubungi peternak sekaligus pedagang sapi, Mohammad Yusuf. Kata Yusuf, sebenarnya hanya ada dua faktor yang akan mempengaruhi kualitas daging sapi ternak; yakni pakan dan jenisnya.
Menurutnya, perlakuan khusus seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, hanya akan berpengaruh terhadap tingkat pertumbuhan hewan ternak. Sementara penggunaan alas karpet sebagai tempat tidur sapi, biasanya lebih ditujukan untuk mencegah kakinya agar tak lecet.
“Kenapa kalau sapi besar di karpet, karena supaya enggak lecet kakinya. Karena kan untuk tumpuan berat badannya, jadi untuk menjaga badan. Nah yang kedua, kalau pakai karpet itu tidak gampang licin gitu,” ungkap Yusuf saat dihubungi kumparan lewat sambungan telepon pada Sabtu, (10/8).
Pada dasarnya, asalkan nutrisi dan pakan yang dibutuhkan ternak tercukupi, kualitas dan mutu dagingnya akan tetap terjamin. Tak kalah penting, waktu pemberian makanan pun harus teratur.
“Nah, yang ketiga itu kita harus lebih mengenal ternaknya, kayak oh, ini perlu dikasih tambahan pakan lagi, oh ini enggak perlu, sudah cukup,” tambahnya.
Hal senada diungkapkan oleh kepala SMK Farming Kabupaten Pati, drh. Ngestiningsih. Berbagai perlakuan istimewa terhadap hewan tak akan memberikan pengaruh langsung pada daging yang dihasilkan.
Beliau juga menjelaskan, baik tidaknya kualitas daging lebih dipengaruhi oleh umur, jenis, gizi, dan penyakit hewan. Kendati demikian, hewan ternak tak boleh dibiarkan sampai stres.
“Perlakuan terhadap hewan yang dapat membuat stres, saat dirubuhkan ketika mau disembelih, dan cara penyembelihan berpengaruh pada kualitas daging,” jelasnya kepada kumparan.
Daging dari hewan yang stres relatif mudah busuk
Bagaimana caranya kita bisa memastikan kalau hewan ternak tersebut tidak stres? Dalam buku Pedoman Penerapan Kesejahteraan Hewan dalam Pemotongan Hewan Kurban dijelaskan, kebutuhan dasar hewan haruslah terpenuhi.
Ia harus bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari ketidaknyamanan, bebas dari rasa sakit, luka, dan penyakit. Hewan ternak juga harus bebas mengekspresikan perilaku alaminya, serta terhindar dari rasa takut dan tertekan.
Sementara itu, stres atau tidaknya hewan terlihat dari saat mereka disembelih. Hewan yang stres akan mengeluarkan darah dalam jumlah sedikit saat disembelih. Hal ini disebabkan karena adanya penyempitan pembuluh darah yang membuat aliran darah banyak menuju ke otot (daging) dan otak.
Banyaknya kandungan darah pada daging tersebut akan membuatnya relatif mudah busuk kalau tak segera dimasak, meski sudah disimpan dalam kulkas atau freezer.
Tak heran, bagi produsen daging yang mengutamakan kualitas, tingkat stres hewan ternak juga dijaga. Ada yang dipijat, diputarkan lagu, hingga diberikan madu dan vitamin. Sebelum dinikmati, hewan ternak malah diperlakukan bak raja.
Misalnya saja, daging sapi termahal dan terbaik di dunia, Omi Hime yang berasal dari Jepang. Saat diternakkan, sapi-sapi Omi Hime ini harus sering dipijat dan rutin dibersihkan.
Menurut dosen Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH IPB, Dr. drh. Denny Widaya Lukman, MSi, stres pada hewan ternak memang menyebabkan daging jadi berwarna gelap dan bertekstur kering.
Ketika dibakar atau diolah menjadi steak, daging tersebut akan terasa keras dan alot, sehingga mengurangi kenikmatannya. Kendati demikian, kalau daging diolah dalam waktu lama dan penuh bumbu, perbedaannya tak akan terlalu kentara.
“Kuliner Indonesia identik dengan waktu memasak daging yang relatif lama, sampai teksturnya empuk. Penggunaan bumbunya juga banyak, sehingga efek daging tersebut (stres atau tidaknya) tak terlalu berpengaruh pada cita rasa hidangan,” tutur drh. Denny.
Intinya, meski ujung-ujungnya akan dimakan, perlakuan kita terhadap hewan ternak tak boleh semena-mena. Ingin dapat daging yang enak, ya perlakukan juga mereka dengan baik.
