Pencarian populer

Mengenal Tashoora, Band Baru Juni Records

Tashoora (Foto: Vito/kumparan)

Tashoora adalah grup musik asal Yogyakarta yang kini sering diperbincangkan publik. Mereka dikenal berkat Extended Play (EP) bertajuk ‘Ruang’ yang direkam secara live dan menarik perhatian Juni Records, label musik yang menaungi Raisa, Barasuara, dan Kunto Aji.

kumparan pun berkesempatan untuk menemui semua personel Tashoora, yakni Dita (vokal/akordion), Gusti vokal/bas gitar), Sasi (gitar), Danang (vokal/gitar), Danu (vokal/biola), dan Mahesa (drum). Mereka bercerita banyak mulai dari awal karier, pertemuan dengan Juni Records, hingga harapan menjadi penyuara aspirasi rakyat melalui musik.

1. Awal pertemuan

Ketika ditemui di Juni Records, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (24/1), Tashoora menceritakan awal mula pembentukan band yang berbasis di Yogyakarta tersebut. Danu, sang pemain biola, mengungkapkan bahwa Tashoora mulanya bukanlah sebuah band indie rock.

“Awalnya saya dan Dita ada proyek instrumental. Terus berkembang, karena ide dari teman-teman juga, jadi band,” ungkap Danu.

Saat semua personel sudah dikumpulkan, mereka pun iseng ikut di ajang 'Tribute To Efek Rumah Kaca'. Nyatanya, Tashoora berhasil menjadi pemenang dan lagu ‘Desember’ yang mereka cover masuk dalam album kompilasi.

Meski memenangkan kontes tersebut, langkah Tashoora untuk terkenal nyatanya tetap tidak berjalan mulus. Mereka harus terlebih dahulu ‘mendekam’ dalam studio latihan selama kurang lebih 1,5 tahun.

“Dari 2016 sampai 2017 itu kita di studio terus, bikin lagu, nongkrong. Akhirnya satu, dua lagu jadi, dan berkembang dari versi pertama sampai terakhir. Agustus 2017, kita baru keluar dari studio dan manggung di pensi,” kata Dita.

Bukan cuma konsep musik yang menjadi kendala Tashoora di awal karier. Semua personel nyatanya memang berasal dari latar belakang yang berbeda.

Danu mengaku sejak dulu mempelajari biola akustik dan musik klasik. Ia kesulitan saat Tashoora mengharuskannya memainkan biola elektrik.

“Karena kita pake efek-efek kan, jadi kaki harus gerak. Aransemen juga jadi harus agak beda. Jadi, ya, memang lama latihan dulu,” ujarnya.

Mahesa sang drummer juga mulanya mengusung jazz. Lebih uniknya lagi, Mahesa sama sekali tidak datang dari keluarga pecinta musik.

“Keluarga saya enggak musikal, tapi bisnis plastik,” ujar Mahesa disambut gelak tawa para personel lain Tashoora.

Lain dari Danu dan Mahesa, Dita mengaku baru pertama kali memainkan instrumen akordion bersama Tashoora. Hal serupa nyatanya juga dirasakan oleh Gusti yang baru pertama kali bermain bas gitar di Tashoora.

“Awalnya aku nyanyi klasik. Terus pas kuliah punya band folk pop, terus ke Tashoora. Di Tashoora aku baru pertama kali pegang bass. Sebelumnya aku nyanyi dan glockenspiel sama gitar,” ungkap wanita berambut cepak itu.

2. Musik mirip Barasuara?

Tashoora (Foto: Vito/kumparan)

Hingga saat ini, Tashoora sudah memiliki EP berisikan lima lagu dengan tajuk ‘Ruang’. Uniknya, album tersebut tidak direkam dalam studio, melainkan secara live.

“Kita punya keresahan yang sama. Banyak banget band mau rekaman dipoles sebagus-bagusnya. Begitu live, hancur. Ya, kenapa kita enggak live saja? Kebetulan kita juga sudah coba rekaman studio, ternyata hasilnya basi,” ujar Danang.

Musik Tashoora memang terkesan unik karena album ‘Ruang’ yang direkam secara live. Namun, banyak orang meganggap musik mereka sangat mirip dengan Barasuara. Semua personel Tashoora nyatanya sudah terbiasa dengan komentar tersebut. Lantas, apa tanggapannya?

“Kalau ketemu teman yang 10 tahun lebih tua nyamainnya ke Arcade Fire, kalau yang seumuran biasanya Mumford and Sons. Kalau bapak-bapak kita ngiranya terinspirasi Kitaro dan Yanni. Jadi, ya, tergantung generasi dan referensi,” ucap Danang santai.

3. Menjadi band penyuara aspirasi rakyat

Musik mengawang-awang Tashoora di album ‘Ruang’ diiringi dengan lirik lugas penuh perlawanan. Danang selaku salah satu pencipta lagu utama di Tashoora mengaku, memang ada satu lagu yang mengkritisi kesultanan Yogyakarta.

“Memang ada beberapa lagu yang mengkritik, kan ada tuh yang kritik peraturan daerah, peraturan sultan, yang judulnya ‘Sabda’. Ya, gue cuma tanya ke anak-anak pada siap enggak kalau nanti terjadi apa apa, di-'dor' gitu,” ungkap Danang.

Semua personel Tashoora mengaku tidak takut membuat lirik-lirik lugas yang mengkritisi pemerintahan. Jika para pendengar musik Tashoora pun menangkap pesan tersebut, apakah pemerintah juga merasa tersindir?

“Dari pemerintah sih, enggak ada (tanggapan), ya. Si Bapak (Sultan) kan suka ngeles,” ujar Danang sambil tertawa.

“Atau jangan-jangan diam-diam tanggapannya?” Dita menambahkan seolah kembali memberi kritik pada pemerintah.

Gusti yang juga membuat lirik di beberpa lagu menuturkan bahwa ke depannya, Tashoora mungkin akan membuat lagu-lagu dengan tema beragam, seperti percintaan atau persahabatan. Namun, lagu-lagu tersebut harus tetap selaras dengan berbagai gejala sosial yang terjadi di masyarakat Indonesia.

“Tashoora itu mau mengungkap peristiwa yang terjadi di sudut mata, tapi jarang diekspos secara lebih lanjut. Dari lagu itu, kita mau orang juga melihat dan mendengar. Kita bertugas sebagai penyuara di sini,” kata Gusti.

Karena konsep tersebut, Tashoora mungkin nantinya akan banyak mendapat protes dari beberapa golongan masyarakat. Namun, Gusti tidak merasa takut akan hal itu. “Kita enggak peduli sama label orang, ya,” ujarnya.

4. Pertemuan dan proyek ke depan bersama Juni Records

Kini, Tashoora tidak lagi bergerak secara independen. Karena, sejak akhir 2018, mereka telah menjadi bagian dari Juni Records.

Danang optimistis kerja sama Tashoora dan Juni Records akan berlangsung lama. Selain karena kenal dengan Boim, empunya Juni Records, Danang merasa sangat diapresiasi oleh label tersebut.

“Sebenarnya sudah banyak tawaran kerja sama sebelum Juni. Tapi, saat buat acara kan yang nawarin kita itu diundang semua dan yang datang hanya Juni Records,” jelas Danang.

“Gue juga ikutin banget perjuangan dia me-manage Raisa. Ya, kita memang cari label yang bisa keep up sama era,” sambungnya.

Tashoora telah memiliki banyak agenda yang telah disusun Juni Records. Meski belum mau mengungkapkan detail, salah satunya Tashoora akan merampungkan album studio dalam waktu dekat.

“Yang jelas ada kelanjutannya, sih. Formatnya gimana, lagu berapa, nanti, deh. Nah, lagunya berapa deh, tuh, ketahuan kan,” kata Danang.

Meski banyak aktivitas bersama Juni Records yang berbasis di Jakarta, Tashoora tidak akan berpindah dari Yogyakarta.

“Enggak akan pindah, sih. Kenapa harus sentris ke Jakarta terus? Bisa kan, Yogyakarta juga jadi pusat musik Indonesia,” imbuhnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.63