Mr. Headbox: Semua Berawal dari Menyanyi di Gereja

Mendengar suara Mr. Headbox saat ia sedang bernyanyi, rasanya seperti tidak percaya jika ia mampu melakukannya secara otodidak. Hal itu diungkapkannya saat ia berbincang dengan kumparan (kumparan.com) melalui sambungan telepon. Mr. Headbox sendiri berdomisili di Balikpapan.
Mr. Headbox mengaku suka menyanyi sejak kecil tanpa pandang genre. Padahal, orang tuanya tidak punya latar belakang musik
"Nyanyi otodidak, enggak ada les apa gitu. Dari kecil suka lagu-lagu di gereja gitu, gospel-gospel gitu," ungkapnya. "Sadar bisa nyanyi dari SMP. Tetep enggak manggung, paling nyanyi di gereja. Aku suka nyanyi di gereja. Enggak sering, tapi beberapa kali tampil di gereja."

Ia menambahkan, ia tidak begitu andal bermain alat musik. Tapi, ia bisa bermain gitar, namun fundamental. Sedangkan untuk pengetahuannya soal musik, seperti aransemen, ia dapat dari seringnya mendengarkan lagu.
"Headset enggak pernah lepas dari telinga. Aku nyanyi-nyanyi terus. Musik itu, anytime aku bikin lagu, aku cari aransemen dengan nyanyi. Terbalik sama musisi-musisi lain. Pemain musik itu bikin lagu cari melodi, kuncinya dapet, mereka cari lirik. Kalau aku, lirik, melodi, baru aransemen," jelasnya.
Untuk inspirasi bermusik, Mr. Headbox berkiblat dengan musisi-musisi luar negeri. Ia sering mengamati perkembangan musik internasional dan sangat menikmatinya, terutama yang mengusung genre future bass, pop, RnB, jazz, dan lagu-lagu lainnya yang chill.
"Aku grow up di kamar nikmatin lagu-lagu luar kayak Chris Brown, John Legend, dan Amy Winehouse. Aku suka banget tiga itu. Ada inspirasi juga dari The Chainsmokers, ada nuansa future bass," ujarnya. "Kalau di Indonesia paling GAC aja sama Tompi. Gamaliel suaranya bagus banget. Dipha Barus juga."
Nama-nama yang ia sebutkan itu pun memberikan dorongan kepadanya untuk berkarya lebih baik lagi.
"Aku pengin musik aku combined kayak GAC, ada jazz-nya juga kayak Tompi. It would be cool. Aku mau yang beda, buat musik baru dan warna baru untuk musik Indonesia. Karena 'kan, kebanyakan musik Indonesia itu penikmatnya banyak yang suka lagu Melayu. Jadi, aku pengin yang baru," tuturnya.
Tentu saja, ia ingin menyalurkan musiknya ke pasar yang lebih luas, yakni secara komersial. Tapi, tidak semudah itu. Baginya, pendidikan adalah hal terpenting dalam hidupnya.
"Pasti ada pengin nyalurin ke market yang lebih luas. Tapi, aku mikirin kuliah juga. Lulus kuliah, aku masih belum kepikiran sama sekali," ucapnya.
"Soalnya kemarin sebenernya enggak ada kepikiran ini (musiknya) bakal booming dan dilirik sama label. Ini tuh pure bikin. Plan-nya abis lulus, aku mau ambil beasiswa ke luar negeri, tapi enggak di bidang musik," lanjutnya.
Menutup perbincangan, Mr. Headbox meyakinkan kumparan dan dirinya sendiri bahwa ia akan tetap berkarier dengan nama Mr. Headbox, bukan nama aslinya.
Ia menambahkan, kariernya di musik juga didukung penuh oleh ibunya.
"Mama memang enggak ada ngomong apa-apa, cuma mama selalu bilang dari dulu, 'Kamu pasti bisa sukses, dengerin mama, mama selalu doain. Itu aja," katanya.
Dan kami bisa merasakannya senyumannya lewat telepon.
