kumparan
10 Des 2018 10:08 WIB

Amankah Mencabut atau Mencukur Alis Anak? Ini Kata Dokter

Ilustrasi balita perempuan dengan alis tebal (Foto: Pexels)
Mencabut, mencukur dan membentuk alis! Bagi banyak wanita, ini merupakan hal yang sangat penting dan jadi bagian dari ritual kecantikan sehari-hari. Sementara untuk anak, mungkin hal ini belum menjadi hal yang umum untuk dibahas.
ADVERTISEMENT
Namun karena berbagai kondisi, bisa saja ada orang tua yang merasa perlu mencabut, mencukur atau membentuk alis anaknya. Terutama bila anaknya perempuan.
Pertanyaannya, apakah hal ini aman? Atau, bila mempertimbangkan faktor keamanan dan kesehatan, apa yang perlu orang tua perhatikan sebelum melakukannya?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kumparanMOM mewawancarai dr. Srie Prihianti Gondokaryono, SpKK, PhD dari Erha Clinic, Pondok Indah, Jakarta Selatan yang biasa disapa dengan panggilan dr.Yantie.
Menurut dr.Yantie, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangan oleh orang tua sebelum memutuskan untuk mencabut alis anak.
Ilustrasi alat pencabut alis (Foto: Pixabay)
Pertama, orang tua harus memahami bahwa mencabut alis (entah itu dengan metode waxing atau plugging) merupakan tindakan yang dalam prosesnya akan terasa sakit sehingga untuk anak bisa menjadi traumatis. Mencabut alis juga cenderung menyebabkan in grown hair sehingga menimbulkan bruntus kemerahan dengan rasa nyeri yang bisa mengganggu anak.
ADVERTISEMENT
Selain itu bila Anda mencabut alis anak dengan metode waxing misalnya, bahan wax yg dipakai juga bisa mengiritasi kulit anak yang relatif lebih sensitif dibandingkan orang dewasa.
Seorangi anak perempuan menutupi alisnya (Foto: Shutterstock)
Bagaimana dengan mencukur? Mencukur alis prosesnya relatif tanpa rasa sakit dan lebih cepat. Namun bukan berarti tidak ada risiko, Moms. "Pisau yang tumpul mudah melukai kulit saat mencukur. Terutama pada anak, Anda harus berhati-hati melakukannya," pesan dr.Yantie.
Untuk menambah pertimbangan Anda, kami juga mewawancari Annelia Sari Sanni Psi., psikolog dari Petak Pintar, Jakarta Selatan. Menurut Annelia, orang tua perlu menimbang masak-masak sebelum mencabut, mencukur, membentuk bahkan sekadar menggunting alis anaknya.
"Tindakan ini menurut saya bisa memberi pesan yang salah pada anak tentang body image-nya. Alih-alih belajar menerima dan mencintai tubuh apa adanya, ortu malah mengajari untuk mengubah tubuh," ujar Annelia.
Ilustrasi anak perempuan praremaja (Foto: Pixabay)
Body image adalah gambaran mental seseorang terhadap bentuk dan ukuran tubuhnya, bagaimana seseorang mempersepsi dan memberikan penilaian atas apa yang dia pikirkan dan rasakan terhadap ukuran dan bentuk tubuhnya, dan atas bagaimana kira-kira penilaian orang lain terhadap dirinya.
ADVERTISEMENT
Persepsi yang baik tentang body image sangat penting dimiliki seseorang sejak masa anak-anak dan khususnya akan sangat menyita perhatian anak pada usia pra pubertas atau pra remaja sekitar umur 10 - 12 tahunan.
Annelia menambahkan, "Belum tentu juga perubahan itu benar karena keinginannya. Lebih sering karena memenuhi trend yang ada di lingkungan. Dampak jangka panjang yang ekstrem bisa mengarah ke berbagai gangguan salah satunya body dysmorphic disorder."
Ilustrasi anak menangis di sekolah (Foto: Shutterstock)
Apa maksudnya? Body dysmorphic disorder adalah gangguan mental di mana orang yang mengalaminya akan merasa malu dan cemas akan kekurangan atau cacat yang ada pada tubuhnya, meskipun sifatnya kecil atau bahkan tidak disadari orang lain.
"Apalagi kalau ada pemaksaan dari ortu karena anaknya menolak. Ini akan jadi mixed message yang membingungkan anak," sambung Annelia.
ADVERTISEMENT
Di satu sisi, sebagai orang dewasa kita memberikan pesan bahwa “your body is your temple”, tidak ada orang yang berhak melakukan apa pun terhadap tubuhmu di luar kemauanmu. Di sisi lain kita memaksa anak untuk mengubah bentuk tubuhnya yang walaupun sepertinya kecil tapi memberi dampak besar.
Nah Moms, sudah jelas kan, sekarang? Semoga penjelasan ini dapat membantu Anda membuat keputusan bijak untuk kepentingan anak.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan