IDAI: Ini Cara Mendukung Ibu Menyusui dan Bayi dalam Kondisi Bencana

Bencana, baik alamiah (seperti gempa dan tsunami) maupun buatan manusia (perang), berpotensi menyisakan trauma mendalam bagi warga yang terkena terdampak. Selain kerugian material, bencana juga memberikan beban non-material. Termasuk pada ibu menyusui dan bayinya.
Dalam kondisi darurat seperti itu, ibu menyusui dan bayinya sangat butuh perlindungan dan dukungan. Sebab, situasi yang serba sulit bisa saja memisahkan ibu dari bayinya atau membuat ASI tak keluar karena stres pascabencana.
Lantas, bagaimana cara membantu dan mendukung ibu menyusui dan bayi? Berikut panduan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI):
Untuk Ibu Menyusui dengan Bayi
Apabila ASI masih keluar dari payudara ibu, bantuan bisa diberikan dengan memastikan bayi menyusu dengan efektif.

Pascabencana, Ibu juga perlu dukungan psikologis agar proses menyusui tidak terganggu. Misalnya dengan membangun rasa percaya diri ibu dan mendorongnya melakukan kontak dengan bayi sesering mungkin. Kontak fisik tersebut dapat membantu memulihkan trauma yang dirasakan ibu maupun bayi.
Namun ada kalanya ASI terhenti atau hanya keluar sedikit karena ibu merasa stres. Pada kondisi ini, dukungan relaktasi sangat dibutuhkan. Misalnya dengan menggunakan selang nasogastrik (NGT) nomor 5, memberikan ASI perah, atau minuman pengganti ASI.
Untuk bayi berusia 6 bulan ke atas, makanan pengganti ASI bisa diberikan. Apalagi jika proses menyusui terpaksa terhenti karena ibu sakit atau terkena malnutrisi berhenti, bayi sakit, atau payudara ibu sakit sehingga tidak memungkinkan untuk menyusui.
Untuk Bayi yang Terpisah dari Ibu
Bencana tak jarang membuat ibu dan bayi terpisah, baik untuk sementara waktu ataupun selamanya sehingga bayi menjadi piatu. Dalam kondisi ini, ada dua pilihan untuk memberi nutrisi pada bayi berusia kurang dari enam bulan, yakni donor ASI dari ibu susu atau susu formula.

Mendapatkan ibu susu bisa jadi tak mudah, apalagi dalam situasi bencana. Ibu susu harus dipastikan dalam kondisi sehat, tidak memiliki riwayat penyakit menular, dan tidak mengonsumsi obat yang bisa memengaruhi bayi.
Jika opsi mendapatkan donor ASI tidak memungkinkan, susu formula akhirnya menjadi pilihan. Pastikan susu formula belum kadaluarsa dan disiapkan dengan tangan bersih. Susu formula yang sudah dibuat hanya bisa bertahan selama dua jam.
Bagaimana jika kualitas air yang tersedia buruk? IDAI pun memberi panduan untuk kondisi ini. Air harus dimasak mendidih, tambahkan 3-2 tetes klorin untuk tiap 1 liter air, lalu gunakan penyaring untuk menghilangkan kuman. Proses ini dilakukan agar air aman digunakan untuk membuat susu formula.
