Pencarian populer

Kisah Junika, Ibu Tangguh yang Membesarkan 3 Anak dengan Disabilitas

Junika Sugiarsih dan anaknya. (Foto: Nanda Saputri/kumparan)

Membesarkan anak dengan disabilitas tentu butuh perjuangan. Setidaknya, itulah yang dirasakan Junika, ibu dari 4 orang anak.

Junika adalah salah satu peserta kopi darat Komunitas Down Syndrome yang digelar di Depok pada Minggu (2/12). Tak sendirian, ia datang bersama anaknya Muhammad Irfan.

Perawakan Junika tenang dan damai, bagai sosok ibu yang selalu dirindu kehadirannya di rumah. Namun jangan salah, di balik ketenangannya, ia adalah sosok yang tangguh.

Dikaruniai satu orang anak dengan kebutuhan khusus saja butuh perjuangan yang luar biasa. Hebatnya, Junika mampu merawat ke empat orang anaknya, dengan tiga di antaranya diberi keterbatasan oleh sang maha pencipta.

Anak pertamanya bernama Muhammad Arif. Ia punya masalah dengan segala hal yang membutuhkan fokus lebih, atau kerap disebut Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Junika Sugiarsih dan anaknya. (Foto: Shutterstock)

Sementara Irfan yang ikut bersamanya itu adalah anak keduanya yang juga berkebutuhan khusus. Irfan adalah anak dengan down syndrome, salah satu alasan kenapa Junita hadir di komunitas ini.

Anak ketiga Junika adalah seorang perempuan. Namanya Tri Anisa. Anisa bisa dibilang lebih beruntung dibanding kakak dan adiknya karena tak punya masalah dengan tumbuh kembangnya.

Anak bungsunya bernama Muhammad Ilham. Ilham merupakan anak pengidap PDD Nos --Pervasive Developmental Disorder, Not Otherwise Specified, kondisi yang mengganggu tumbuh kembangnya sehingga ia tak mampu bersosialisasi dengan baik. Kondisinya sekilas mirip dengan anak autisme.

Segala pemberian Tuhan ini bisa saja membuatnya merasa tertekan. Stres dengan beban yang harus ditanggung, dan perlu berjuang lebih keras untuk membesarkan anak-anaknya. Namun, Junika mengaku bersyukur dengan segala hal yang telah Tuhan berikan.

"Stres pasti ada. Tapi saya lebih banyak bersyukur atas karunia yang diberikan," jelas Junika Sugiarsih saat ditemui kumparanMOM, Minggu (3/12).

Anak-anak Junika Sugiarsih. (Foto: Dok. Pribadi Junika Sugiarsih)

Ia percaya bahwa di balik keterbatasan, anak-anaknya juga punya kelebihan yang membanggakan. Hal itu lantas mendorong Junika untuk selalu bersyukur dan sabar.

Misalnya saja Arif, anak pertamanya, masih bisa mengenyam pendidikan di sekolah normal. Sementara Irfan ternyata mahir bermain jimbe -- alat musik tradisional dari Afrika dan biasa tampil di berbagai tempat meski ia terlahir dengan down syndrome. Dan Ilham, kendati ia homeschooling, perkembangannya juga cukup terlihat.

Keaktifan Junika sebagai anggota komunitas merupakan salah satu caranya untuk melepas beban yang ia rasakan. Baginya, ikut komunitas adalah salah satu cara untuk bisa saling menguatkan bersama orang tua lain yang bernasib sama dengannya.

"Jika punya anak dengan kondisi seperti ini jangan dipendam, suarakan saja, ikut komunitas untuk bisa saling menguatkan," cerita Junika.

Bagi Junika, ikut komunitas bisa menjadi wadah bagi orang tua agar tidak merasa tertekan sendirian. Karena di sana, orang tua tak hanya dapat teman yang siap berbagi, namun, juga dapat memperoleh berbagai informasi terkait dengan kondisi anak-anaknya.

Junika tak hanya sosok ibu yang hebat, ia juga sosok yang sangat peduli dengan anak-anak dengan down syndrome lain. Hal itu ia wujudkan dengan mendirikan sekolah khusus Insan Anugerah.

Insan Anugerah merupakan sekolah untuk anak-anak dengan down syndrome. Dibantu dengan 3 orang guru, ia mengajar 14 orang anak --termasuk Irfan untuk mandiri dan tetap berkarya di tengah keterbatasannya.

Junika Sugiarsih dan keluarganya. (Foto: Facebook Junika Sugiarsih)

Junika memang bukan lulusan psikologi, tapi ia memimpin sekolahnya dengan segala ‘bekal’ yang ia punya selama mendidik keempat anaknya. Terapi dan segala informasi yang ia miliki selama mengurus anak, khususnya Irfan ia terapkan untuk membimbing anak-anak didiknya di sana.

Tak hanya ajarkan kemandirian, ia juga bawa anak didiknya tampil dan ikut lomba di acara nasional maupun internasional. Hal itu sebagai pembuktian, jika anak down syndrom seperti anaknya juga bisa berkarya, tidak seperti anggapan miring orang-orang saja.

"Allah memberikan titipan dan amanah ke kita pasti punya hikmah yang dapat kita ambil dari sana. Kuncinya harus lebih sabar dan banyak bersyukur sekalipun perkembangannya baru terlihat sedikit. Jangan menutup diri, lebih terbuka pada keadaan. Bawa anak keluar. Kita beri stimulasi sejak kecil. Semangat!" Tutup Junika mengakhiri sesi wawancara ini.

Junika adalah sosok nyata wujud kasih sayang ibu sepanjang masa. Kisah inspiratif Junika harusnya bisa menjadi motivasi di Hari Disabilitas Internasional yang jatuh tiap tanggal 3 Desember ini. Bukan hanya bagi orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, melainkan untuk semua orang tua agar tetap semangat membesarkan sang buah hati, apapun kondisinya.

Reporter dan penulis: Nanda Saputri

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.61