Pencarian populer
6 Desember 2018 10:47 WIB
0
0
Psikolog: Anak yang Bahagia Cenderung Berperilaku Sopan dan Baik
Workshop Grow Happy Parenting Nestle Lactogrow (Foto: Nestle)
Demi tumbuh kembang yang optimal, anak tak hanya harus sehat secara fisik, namun juga perlu bahagia. Anak yang bahagia berpotensi besar untuk meraih berbagai prestasi dalam hidupnya. Sebab, kebahagiaan adalah pondasi kesuksesan anak.
Itulah yang dipaparkan oleh psikolog Elizabeth Santosa M.Psi, Psi, SFP, ACC, dalam workshop Grow Happy Parenting yang digelar oleh Nestle Lactogrow. Ia menjelaskan bahwa kebahagiaan anak mempengaruhi banyak aspek psikologis.
“Kalau anak bahagia, manajemennya dirinya baik. Secara kognitif ia juga lebih bisa menyerap informasi. Kebayang enggak ada anak yang sebenarnya pintar, jenius, tapi ketika di sekolah enggak mood dan sering nangis? Apa bisa dia belajar? ” tutur Elizabeth di The Opus Grand Ballroom, Jakarta, pada Rabu (5/12).
Elizabeth menambahkan, anak yang bahagia cenderung memiliki kemampuan sosial yang lebih baik. Ia lebih suka menolong, ramah, dan punya banyak teman. Anak juga biasanya lebih dekat dengan orang tua.
Ilustrasi anak yang tumbuh bahagia dan sejahtera (Foto: Shutterstock)
Nah, apa yang bisa orang tua lakukan agar anaknya senantiasa bahagia?
Ternyata selalu menuruti permintaan anak atau membelikan mainan favoritnya saja tidak cukup, atau justru keliru. Ia butuh lebih dari kebahagiaan sesaat tersebut.
Menurut penelitian Holder & Coleman yang dipublikasikan Journal of Happiness pada 2007, kebahagiaan anak sebagian dipengaruhi oleh interaksi sosial positif yang melibatkan anggota keluarganya.
Oleh karena itu, orang tua harus terlibat langsung dalam aktivitas anak sehari-hari. Misalnya menemaninya bermain, mengerjakan PR, nonton TV bersama, hingga meluangkan waktu untuk membacakan dongeng sebelum tidur.
Yang sering terjadi adalah orang tua memang meluangkan waktu untuk anak, tapi dilakukan sambil bermain gadget. Alhasil Anda tidak fokus pada anak dan malah sibuk sendiri.
“Agar anak bahagia orang tua juga harus fokus. Jatuh cintalah dengan anak tiap hari. Buat anak merasa dirinya paling penting,” tambah Elizabeth.
Pemaparan Elizabeth itu sesuai dengan hasil penelitian terbaru Nestle yang bertajuk Child Happiness. Diumumkan pada Juli 2018, studi itu menyimpulkan bahwa hanya 48 persen orang tua yang hadir dan terlibat dalam kegiatan anak.
Jadi pendengar yang baik saat anak bercerita tentang khayalannya (Foto: Shutterstock)
Sisanya, 21 persen orang tua mengaku hadir namun tidak terlibat dalam kegiatan bersama. Sementara 31 persen lainnya malah mengaku tidak hadir dan terlibat dalam aktivitas anak.
“Orang tua harus terlibat, fokus, benar-benar meluangkan waktu cuma untuk anak. Anak sebenarnya pun ingin menghabiskan waktu berkualitas dengan orangtuanya. Sebab, kebahagiaan anak itu butuh keterlibatan orang tua, stimulasi dan nutrisi,” jelas Brand Manager Nestle Lactogrow Gusti Kattani Maulani.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: