1 dari 10 Orang di Dunia Mengalami Obesitas
14 Juni 2017 9:56 WIB
0
0
Infografis Lonjakan ObesitasInfografis Lonjakan Obesitas (Foto:Bagus Permadi/kumparan)
Dalam kurun 30 puluh tahun, tidak ada satu pun negara yang mampu mengurangi tingkat obesitas. Hal yang terjadi justru sebaliknya, tingkat obesitas meningkat bahkan hingga 2-3 kali lipat.
Sebuah penelitian yang digelar oleh Institute for Health Metrics and Evaluation dari University of Washington dan dibiayai oleh the Gates Foundation melakukan studi terhadap 195 negara. Hasil temuannya mengemukakan bahwa tingkat obesitas meroket dua kali lipat di 73 negara, bahkan tiga kali lipat di Brazil, China, dan Indonesia.
Kondisi abnormal penumpukan lemak berlebih dan mengganggu kesehatan ini menjadi salah satu perhatian di era modern ini. Pasalnya, obesitas meningkatkan faktor risiko seseorang terserang penyakit lain seperti serangan jantung, diabetes, hingga kanker.
Seseorang disebut mengalami kegemukan jika memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) 25-29, sementara obesitas jika memiliki IMT lebih dari 30. Indeks Massa Tubuh adalah pengukuran jumlah total lemak dalam tubuh dengan memperhatikan berat dan tinggi badan.
Perempuan Mesir Pengidap ObesitasEman Ahmed, perempuan Mesir pengidap obesitas (Foto:REUTERS/Shailesh Andrade)
Secara keseluruhan, sepertiga penduduk Bumi ini mengalami kegemukan dan satu dari sepuluh orang di dunia mengalami obesitas.
Tingkat obesitas paling tinggi secara keseluruhan dipegang oleh Amerika Serikat dengan 17 persen anak dan 38 persen orang dewasa. Di Mesir, 62 persen orang dewasa mengalami kegemukan, 31 persennya termasuk obesitas.
Sementara tingkat obesitas pada anak paling tinggi terjadi di China, dengan jumlah penderita terbesar 15 juta anak. Diikuti oleh India, 14 juta anak.
Indonesia, negara dengan lonjakan tingkat obesitas hingga 3 kali lipat ini berada dalam urutan ke 10. Di Indonesia, obesitas lebih banyak dialami oleh perempuan dibandingkan laki-laki.
Penyebab peningkatan obesitas adalah lingkungan makanan. Makanan rendah gizi namun kaya lemak lebih banyak dijual dan dikonsumsi karena harganya yang murah.
Sementara makanan-makanan "sehat" dan organik hanya bisa dijangkau oleh segelintir kalangan saja.
"Sangat mudah menyarankan orang untuk mengurangi konsumsi makanan tidak sehat dan memperbanyak makan makanan sehat. Namun persoalannya, makanan tidak sehat justru lebih murah dibandingkan makanan sehat," jelas Dr. Ashkan Afshin, yang memimpin penelitian ini seperti dilansir New York Times.
"Orang makan apa yang mampu mereka peroleh," tandasnya.
Infografis Lonjakan ObesitasInfografis Lonjakan Obesitas (Foto:Bagus Permadi/kumparan)

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan, isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab redaksi. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: